Thursday, April 27, 2006

Rasionalisme vs Empirisme (2/3)

2. Empirisme
 
o Asal kata emprisme: kata Yunani empeiria yang berarti "pengalaman"
o Dalam bhs Latin disebut experientia.
 
Ajaran empirisme:
o Memandang rasio atau akalbudi itu tidak bisa apa-apa tanpa pengalaman
inderawi.
o Pengalaman inderawi-lah yang menjadi satu-satunya sumber dan penjamin
kepastian kebenaran pengetahuan.
 
Apakah yang dimaksud dengan "pengalaman"?
Jawaban atas pertanyaan ini menimbulkan beberapa jawaban dan aliran
dalam Empirisme:
o Aristoteles: pengalaman sebagai hasil persepsi inderawi dan ingatan
yang belum tertata.
o Empirisme Inggris/Empirisme Atomistik: memahami pengalaman sebagai
data-data inderawi yang secara terpilah-pilah atau atomistik terterakan
pada organ tubuh kita.
o Empirisme Logis/Positivisme Logis: memahami pengalaman sebatas apa
yang bisa diamati secara inderawi dan meyakini bahwa struktur logis
bahasa berkorelasi dengan struktur logis dunia ini, karena bahasa
mencerminkan kenyataan.
o Empirisme radikal (kaum Pragmatis): berpendapat pengalaman adalah
berbagai jenis peristiwa yang dialami subjek sebagai makhluk yang
bertubuh. Jadi pengalaman mencakup juga perasaan, misalnya rasa sedih.
 
o Empirisme lunak: indera memang memberi semacam pengetahuan tentang
dnia ini, tetapi tidk seluruh pengetahuanberasal dri pengalaman.
o Empirisme keras: menyatakan bahwa tidak ada sumber lain bagi
pengetahuan selain pengalaman inderawi.
o Empirisme menegaskan bahwa tidak ada suatu pun dalam pikiran kita yang
tidak sebelumnya sudah terdapat dalam pengalaman inderawi.
o Empirisme Inggris berpendapat bahwa satu-satunya sumber pengetahuan
dan penjamin kepastian kebenarannya adalah pengalaman inderawi.
 
Tokoh dan ajarannya:
o John Locke (1632-1704): menyatkan bahwa akal budi atau pikiran manusia
itu pada waktu ia dilahirkan masih bagaikan kertas putih (tabula rasa)
o Berkeley (1685-1753): berpendapat hanya dua kemungkinan terbentuknya
gagasan dalam pikiran:
   1. akibat persepsi inderawi
   2. karena ingatan dan imaginasi yang mendasarkan diri pada persepsi
inderawi sebelumnya.
o David Hume (Inggris, 1711-1776) membedakan antara:
   1. kesan-kesan inderawi (impressions), dan
   2. gagasan-gagasan (ideas)
o Bagi Hume semua gagasanyang bermakna haruslah dapat dirunut
asalusulnya dari kesan-kesan inderawi. Gagasan yang tidak dapat dirunut
asal-usulnya dia anggap tidak punya makna. Inilah yang disebut tolok
ukur empiris pemaknaan.
o Hume menolah gagasan-gagasan abstrak tentang substansi, diri,
identitas, dan kausalitas.
o Menurut Hume metode induktif tidaklah tidak sahih secara logis, dan
dikritik karena mengandaikan adanya keseragaman dalam alam.
o Bagi Hume sains tidak pernah dapat memberikan pengetahuan yang niscaya
tentang dunia ini. Yang diberikan oleh sains hanyalah generalisasi
empiris.
o Kebenaran bagi Hume adalah kebenaran faktual yang selalu bersifat
kebetulan (contingent)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home