Friday, April 14, 2006

Preman, Mafia dan ''Leak''

''Aku pertaruhkan kehormatanku untuk setia kepada Mafia, sebagaimana Mafia setia padaku. Seperti halnya Santo ini dan beberapa tetes darahku yang dibakar, maka aku pun akan memberikan seluruh darahku untuk Mafia, ketika abu tubuhku dan darahku kembali pada kondisi semula," sumpah calon anggota Mafia yang membasahi patung Santo terbuat dari kertas dengan darah tangan kanannya, lalu membakar patung kertas tersebut dalam upacara Omerta. (''Mafia Global'', Antonio Nicaso & Lee Lamothe).
RUBAG bersyukur kalau di Bali belum ada kelompok kriminal berkualitas seperti Mafia. Bahkan bergembira ketika membaca di Bali Post Minggu, 2 Mei lalu, bahwa di Pulau Dewata meskipun ada kelompok preman, namun pengoperasiannya masih bertaraf kampungan. Konon tidak seperti organisasi kriminal mafia di Italia, Ndrangheta di Kalabria, Triad di Hongkong, Yakuza di Jepang, La Cosa Nostra di Amerika dan Medellin di Kolombia. Tapi rasa syukur dan bangga tersebut terjegal, saat memikirkan kondisi Bali yang kian heterogen, sementara budaya Bali yang selama ini dibanggakan semakin kronis akibat terjangan materialisme dan kapitalisme global. Bukan tidak mungkin globalisasi di bidang ekonomi menggandeng pula kejahatan global yang akan tumbuh subur di lahan dimana hubungan antara masyarakatnya kian renggang akibat individualisme dan pragmatisme semakin meninggi. Konsep menyama-braya tergerogoti virus-virus skeptisme dan apatisme.
Mafia, menurut Nicaso dan Lamothe, pada awalnya bukanlah organisasi kriminal. Dia merupakan kelompok perjuangan melawan penindasan dan penjajahan Prancis yang teramat kejam di Sisilia. Mafia terlahir dari motto perlawanan masyarakat tertindas berbunyi, ''Morte Alla Francia Italia Anela!'' yang konon berarti ''Maut di tangan Prancis adalah tangis Italia''. Demikian pula Triad yang kini jaring-jaring operasi kejahatannya telah menjamah Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Kelompok yang kemudian jadi organisasi kriminal tersebut lahir di Fujian China, tahun 1674, ketika negeri tersebut dikuasai bangsa Manchu. Awalnya hanya terdiri dari 128 pendeta Budha, yang menguasai Kung Fu, lalu mendidik masyarakat dalam ilmu bela diri untuk mengusir penjajah Manchu. Setelah penjajah terusir, organisasi tersebut tetap eksis, namun kesulitan finansial menyebabkan mereka terlibat dalam berbagai kegiatan ilegal. Bernasib sama dengan kelompok Mafia yang hendak digulung oleh rezim Mussolini di Italia, kelompok Triad pun harus menyeberang ke Hongkong, karena kekerasan sudah menjadi pilihan hidup mereka.
''Sang Revolusioner adalah seorang yang tertindas yang sekaligus merupakan kunci utama dari pihak-pihak yang menindasnya. Sang Revolusioner tidak mendapat privelese-privelese seperti yang dimiliki para penindasnya, maka satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya adalah dengan menghancurkan kelas yang menindasnya,'' tiba-tiba Rubag teringat pendapat Jean Paul Sartre, setelah memyimak sejarah munculnya Mafia di Sisilia dan Triad di Fujian. Bahkan sejarah munculnya kelompok Yakuza di Jepang pun tidak terlepas dari para samurai atau ksatria berpedang peninggalan Rezim Tokugawa (1602-1868) yang mengisolasi daratan Negeri Sakura tersebut dari pengaruh asing selama dua setengah abad. Justru akibat diserbunya Jepang oleh Komodor Pery dengan Armada Hitam dari Amerika, tahun 1853 dan 1854, para samurai tak bertuan yang disebut ronin melakukan perlawanan gigih terhadap para penyerbunya. Pergantian rezim dari Tokugawa ke rezim Meiji yang terkenal dengan restorasinya yang cenderung kebarat-baratan, menyebabkan para ronin kehilangan martabat dan mata pencarian, sehingga sebagian dari mereka mengelompokkan diri dalam grup Yakuza.
Kerakusan melelap sains dan teknologi dari Barat memang menyebabkan Jepang jadi negara industri raksasa pertama di Asia, sedangkan pengaruh politik yang diserapnya dari Prusia Jerman, menyebabkannya dia jadi imperialisme fasis yang menyengsarakan rakyat di kawasan Pasifik selama Perang Dunia II. Samurai berpedang pun berubah jadi Yakuza bersenjata api canggih. Industri kejahatan Yakuza pun mendunia dan anggotanya yang ratusan ribu tersebar di seluruh Jepang. Kelompok yang paling ditakuti adalah Yamaguchi Gumi, selain itu ada enam kelompok lain yakni, Inagawa Kai, Sumiyopshi Kai, Aizu Kotetsu, Goda Ikka, Kudo Rengo Kusano Kai dan Kyosei Kai.
*** ''Benar kata orang, batas antara kebaikan dan kejahatan tipis! Patriotisme pun sulit dibedakan dengan pemberontakan. Bung Karno pun pernah dicap pemberontak ekstrimis oleh kolonialis Belanda. Seorang revolusioner bisa berubah jadi bajingan ketika nilai-nilai yang dia perjuangkan selalu gagal, sehingga menempuh tindakan kasar. Mudah-mudahan preman yang terhimpun dalam organisasi yang dicap kampungan di Bali tidak menyerap teknik dan cara kerja Mafioso, Triad, Yakuza dan La Cosa Nostra,'' renung Rubag.
Bila yang direnungkan Rubag terjadi, mengingat Bali sebagai daerah wisata yang dikunjungi berbagai bangsa dengan bermacam-macam pengaruh, bisa dibayangkan tingkat kesibukan, termasuk stres, yang akan dialami aparat keamanan, khususnya kepolisian. Dua kali perampokan bersenjata api dengan modus operandi sama, nyaris tidak terlacak jejaknya. Belum lagi kriminalitas atau pemerasan yang dilakukan oknum-oknum aparat yang melebihi tindakan preman, karena didukung seragam dan senjata api yang menggelayut di pinggangnya.
Kejahatan meliputi pemakaian serta pengedaran narkoba, yang di antaranya melibatkan orang asing, merupakan bukti bahwa jaring-jaring kejahatan global telah merajut kehidupan masyarakat Bali. Smurfing atau pencucian uang hasil kejahatan, korupsi dan narkoba, menimbulkan kekhawatiran bahwa jumlah uang yang beredar di Bali bisa jadi sebagian merupakan narko-rupiah, sehingga menjadi daya tarik pendatang ke pulau ini dengan jumlah sangat mencengangkan. Ironisnya, apatisme dan skeptisme di kalangan masyarakat lokal kian menebal, sehingga toleransi dan gotong royong kian menjauh.
"Kau jangan terlalu sering menyebut nama setan, karena suatu hari dia akan benar-benar nongol di hadapanmu!'' tiba-tiba Rubag teringat nasihat almarhum kakeknya yang secara otomatis menyetop otaknya memikirkan kehadiran kelompok-kelompok mobster di Bali.
Kendati Rubag sering membolak-balik lembaran fisika, biologi, filsafat, politik, namun sebagai orang Bali, dia percaya dengan nasihat kakeknya yang tradisionalis. Dia masih percaya pada Panca Sarada, yang diantaranya mengandung unsur roh sebagai fenomena misteri yang tidak pernah dituntaskan secara gamblang pengetahuan positif Cartesian maupun Newtonean. Bahkan Michael Talbot masih mengaitkan fisika dengan mistisisme. Kematian beberpaa dalang maupun balian sakti di Bali secara misterius, sering dikaitkan dengan kebiasaan mereka menantang leak atau setan untuk membuktikan pada khalayak, bahwa mereka lebih sakti dibanding mahluk-mahluk gaib yang mereka tantang. Sikap jumawa seperti ini justru merupakan paspor dan entry permit bagi mahluk-mahluk supernatural tersebut untuk masuk dan menyerang. Bagi dia, leak maupun setan tidak ubahnya dengan preman, mafia atau mobster. Padahal tidak semua orang yang diberi label preman memiliki kualitas yang benar-benar jahat.
''Orang yang diberi label jahat sesungguhnya tidak betul-betul jahat ! Mengapa ? Karena ada kejahatan yang sebanarnya tidak diinginkan oleh pelakunya,'' tulis dr. Taufik pasiak M.Pd dalam buku ''Revolusi IQ/EQ/SQ" mengulas perilaku pemuda tanggung usia 16 tahun, murid sekolah menengah West Side Jonesboro Arkansas AS, yang memuntahkan 27 kali tembakan ke arah guru dan kawan-kawan sekelasnya.
''Janganlah kau menertawakan orang yang jatuh, tapi bersyukurlah karena kamu tidak jatuh!" kembali tergiang petuah almarhum Hamka yang pernah didengarnya puluhan tahun silam di layar kaca dan yang tidak pernah dilupakan Rubag. Karena di otaknya berkelebat berbagai bayangan dan pertimbangan sebagai proses renungannya, Rubag berjanji pada dirinya untuk tidak memberi cap pada seseorang, sebelum merasa dirinya lebih sempurna dibanding orang yang diberinya label. Dia tidak ingin disebut sebagai orang yang mampu melihat kuman di seberang lautan, sementara gajah di pelupuk mata tidak dilihatnya.
* aridus
OPINI - Bali Post - 9 Mei 2004 (May 9, 2004).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home