Thursday, April 27, 2006

Indonesia Dibodohi Dunia

1. HARTA KARUN PLANET BUMI
Proses "pemerkosaan dan pembodohan" bangsa makin hari kian terasa di dalam pola kehidupan sosial di negara ini. Indonesia yang telah habis-habisan dijarah oleh para koruptor kini masih harus menghadapi gelombang negatif yang cenderung akan memperparah situasi dan kondisi bangsa di masa yang akan datang. Dapat dibayangkan untuk masa mendatang jika setiap individu yang hidup di negeri ini mempunyai mental korup, bodoh, hedonis, materialialis dan konsumtif, bukan mustahil negara ini akan terjual habis hingga akhirnya menjadi tempat sampah dunia.

Negeri yang semestinya mampu memakmurkan 1000 keturunan tanpa terputus pada saat ini lebih mirip "negeri gelandangan" yang mengemis dana bantuan dari negara-negara kapitalis. Infus dana, pengamputasian wilayah seperti Timor Timur hingga penjualan beberapa pulau di daerah Karimun Jawa serta pulau Bidadari dan penjualan tambang bumi dilakukan secara sadar oleh pemerintah sambil mereka tidak berani menghadapi resiko. Bukan mustahil lintah darat kelas dunia pun telah turut andil dalam pesta bagi hasil atas negara ini. Ironis, harta karun yang menjadi sumber kekayaan bumi Indonesia para penikmatnya justru bangsa lain yang hidup entah di negeri mana. Disatu sisi para pengemis dan anak jalanan merebak di berbagai penjuru kota besar, tanpa mereka tahu bahwa dirinya sedang berdiri di atas salah satu harta karun Planet Bumi. Singkatnya, banyak negara yang hidup makmur, tentram dan damai dari hasil SDM dan SDA bumi Indonesia, namun sebaliknya sebagian besar rakyat Indonesia dalam keadaan yang mengkhawatirkan, ibarat semut mati di lumbung gula dan yang lebih parah ialah terlalu sedikit orang Indonesia yang memahami keadaan ini.

Disadari atau tidak, negara ini seolah-olah telah dirancang agar selalu dalam keadaan kisruh, kenapa demikian? Logikanya sederhana, jika masyarakat Indonesia bisa mencapai puncak kesadarannya maka mereka yang mempunyai kepentingan di negara ini akan terusik dan terusir, itu tentu saja sangat merugikan. Jadi mau tidak mau Indonesia "harus terjaga dalam kebodohan" agar masyarakatnya tidak pernah bisa mencapai puncak kesadaran (pintar) serta tetap berada dalam perpecahan, hal tersebut sudah dibuktikan sejak VOC bercokol di negeri ini, dan terbukti bahwa "politik adu domba dan pembodohan bangsa" sangat efektif untuk menghancurkan (menjajah) atau pun menguasai negara kepulauan yang mempunyai keanekaragaman budaya ini.

Mengapa masyarakat Indonesia tidak merasa dibodohi? Kemungkinan besar hal tersebut diakibatkan dampak serangan 'peluru kendali abad modern' yang datang menggelombang; food, fashion, fun, fuck and fool, atau sebut saja 5F yang telah dikemas sedemikian rupa hingga membius dan meloyokan mental serta pikiran setiap individu yang hidup di negara ini. Pencapaian target pembodohan bangsa pada akhirnya dipercepat melalui perkembangan media elektronik yang secara tidak langsung telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu sebagai 'moncong senapan'. Tentu saja setiap peluru yang keluar dari moncong itu tidak pernah meleset, selalu tepat sasaran. Lalu apa sasaran dan tujuannya? Membentuk sikap mental dan pola pikir tertentu yang dikemas oleh istilah life style atau gaya hidup yang sesuai dengan kepentingan kaum kapitalis di seluruh negera industri.

a. Food
Siapa yang tidak kenal dengan McDonald, Kentucky, Coca-Cola, Pepsi, dan lain sebagainya? Mereka yang tidak tahu tentang itu dapat dipastikan sebagai manusia purba, mereka yang belum pernah mencicipi burger McD, yang belum pernah mengunyah renyahnya ayam goreng Kentucky, yang lidahnya belum pernah tersengat Coke atau Pepsi adalah "biadab". Tanpa disadari, begitulah pandangan generasi muda bangsa Indonesia terhadap orang-orang yang lidahnya tidak mempunyai pengalaman dengan American Food.

b. Fashion
Tidak kurang dari 100 merk produk Barat yang dianggap fashionable telah memandu pandangan ideal artistik masyarakat Indonesia, dari produk sepatu hingga produk lipstick. Tidak kurang dari 1000 gaya yang dianggap trendy telah memandu cara bergaya masyarakat di negeri ini, dari model rambut, cara berpakaian, cara berbicara dan lain sebagainya. Produk dalam negeri menjadi terlihat sebagai produk lokal dan tidak bergengsi, pakaian motif batik atau baju kebaya menjadi terlihat kedaerahan dan tidak modern. Bahkan tidak tanggung-tanggung bentuk tubuh pun dipaksa harus mengikuti ideal artistik masyarakat Barat, maka untuk disebut "cantik dan tampan" terpaksa harus terlihat seperti "indo".

c. Fun
Dunia hiburan seperti apa yang tidak ada di negeri ini? Dari acara televisi hingga acara radio. Film-film dan kuis berhadiah dipaksa untuk meniru ala Barat, bahkan demi daya jual dan hiburan arena bermain anak pun harus dibuat seperti di Barat. Sikap individualis tumbuh subur akibat ingin menjaga kesenangan pribadi. Ketergantungan masyarakat terhadap dunia hiburan semakin meningkat terutama pada media televisi, akibatnya ialah produktifitas masyarakat melemah sedang kebutuhan hidup semakin meningkat.

Mengenai diskotik serta rumah hiburan lainnya tidak usah ditanyakan lagi, untuk sekedar makan-minum, mendengarkan lagu sambil menikmati suasana, sekelompok orang dengan suka rela mengeluarkan dana 5 sampai 10 kali lipat dari harga barang sebenarnya. Di sisi lain si miskin yang kerap berada disekitar kehidupan telah menjadi polusi pengganggu pandangan mata yang bisa mengurangi nilai hiburan dan kegembiraan, untuk itu solusinya adalah memberikan uang 100 rupiah dan hitung-hitung 'beramal'.

Tempat hiburan lain adalah mall, dan pusat-pusat perbelanjaan mewah. Tidak perlu membeli barang di situ, cukup melihat dan memuji setelah itu simpan sebagai impian yang suatu saat kelak mungkin dapat terealisasikan (jika mungkin). Berdandan untuk melihat orang lain dan orang lain melihat kita, inilah aquarium gaya hidup abad modern.

d. Fuck
Pengertian "fuck" tentu saja bukan dalam arti sempit, ia lebih berkonotasi kepada "cara hidup bebas" yang dibawa oleh nilai pemberontakan terhadap norma-norma yang sudah mapan. Munculnya cara hidup bergaya hewani seperti seks bebas adalah bagian kecil dari persoalan fuck, namun intinya memang mengarah kepada eksploitasi seksual hingga munculnya kaum gay, lesbian, bisnis birahi, nilai-nilai pornografi dan dunia metro-sexual. Perawatan fisik yang berlebihan demi daya tarik tubuh dan bukan untuk jenis kesehatan seperti pada umumnya. Sadar atau tidak, masyarakat Indonesia pada saat ini sedang berusaha mencabut norma-norma mapan yang bernilai agung hasil kesepakatan para sepuh di masa lalu dan mencoba menggantikannya dengan nilai-nilai baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan jaman versi Barat. Nilai-nilai yang terkandung dalam "fuck" secara langsung memang duduk berseberangan dengan nilai religi yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

e. Fool
200 juta penduduk Indonesia adalah lahan pasar yang demikian besar dan menguntungkan, mereka adalah masyarakat konsumtif dan materialistis yang telah berhasil dibentuk melalui berbagai media sejak beberapa puluh tahun yang lalu dan inilah saatnya kaum kapitalis menuai hasil.

"Fool" adalah tingkat tertinggi sebagai sasaran utama, pembentukan pola pikir dan mental bangsa hingga kepuncak "tumpul". Pembodohan bangsa yang dilakukan dengan teknik tinggi amat sulit untuk dibongkar, sebab terjadi secara serentak dan menyeluruh dari unsur food, fashion, fun dan fuck, siapa orang Indonesia yang belum pernah melakukan dan menikmati salahsatu atau seluruhnya? Dimanjakan oleh 4F telah melahirkan dampak F ke 5 yang intinya adalah "penghapusan jati diri bangsa serta hilangnya kemampuan mengenal potensi negeri".

Saat kita mempergunakan bahasa daerah (bahasa ibu) maka akan dianggap "primordial", jika berbahasa Indonesia yang baik dan benar akan terlihat sebagai mahluk aneh, jadi terpaksa diaduk-aduk dan lahirlah bahasa gaul, bahasa prokem, bahasa jargon muda-mudi yang rata-rata justru membongkar struktur budaya bahasa nasional yang telah mapan. Ironisnya bahasa Inggris malah semakin melambung ke puncak citra sebagai bahasa kaum intelek, dan mereka menganggap serta mengakuinya sebagai bahasa pergaulan kelas dunia. Padahal tidak ada satu pun negara tetangganya yang mengakui hal tersebut, seperti Belanda, Perancis, Jerman, Belgia dan lain sebagainya. Inggris dan para pendukungnya telah berhasil mempropagandakan bahasa mereka hingga ke wilayah Asia dan dampak propaganda yang paling parah justru di negeri ini, Indonesia.

Bangsa yang agung adalah bangsa yang mampu menciptakan bahasanya sendiri, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga bahasanya.

Jepang, Cina, Thailand, Arab, India, Korea, Vietnam, serta beberapa negara di Asia lainnya berhasil menyelamatkan bahasa dan tulisan (huruf) mereka hingga saat ini. Mereka tidak tunduk kepada propaganda bahasa dan huruf yang dilancarkan oleh masyarakat Barat, artinya hanya penduduk negeri yang telah berada di puncak tumpullah (goblok) yang termakan oleh propaganda tersebut. Patut kita sadari bersama bahwa betapa sulitnya menjelaskan hal ini kepada masyarakat yang kebodohannya sudah berlangsung secara turun-temurun. Disadari atau tidak, pada saat ini pemerintah dan dunia pendidikan yang didukung oleh berbagai media massa telah beramai-ramai dan secara serentak turut berpartisipasi mendukung kelancaran propaganda penghapusan jati diri bangsa dari segala sektor. Saat mereka bergerak, para kaum nasionalis ditinggalkan sendirian berteriak-teriak kepada bangsa keledai dan lembu yang telah dicocok hidungnya.

2. RUNTUHNYA PILAR PENDIDIKAN
Perkembangan teknologi yang tumbuh dengan cepat di seluruh dunia, pada dasarnya belum siap untuk diterima oleh bangsa yang baru “merdeka” dan masih dalam tahap belajar tentang tata cara bernegara dan bermasyarakat. Pandangan seperti itu pada prinsipnya telah dikemukakan oleh para pengamat sosial dan budayawan, namun apa boleh buat “nasi sudah menjadi bubur”?. Dampak perkembangan teknologi tidak hanya dalam tataran industri atau perekonomian di dalam negeri, bahkan dunia pendidikan pun turut terguncang. Sekolah tingkat dasar tiba-tiba sibuk dengan urusan pengenalan komputer, bahkan sebagian menterjemahkan bahwa teknologi itu identik dengan dunia komputer. Dunia pendidikan di Indonesia seperti menutup penginderaan dalam memahami sejarah bangsanya, seakan-akan tidak mau tahu bahwa negara ini sebenarnya "baru saja merdeka". Persoalan trauma perang yang menghantam mental dan pikiran rakyat negeri ini dikesampingkan dan digantikan begitu saja oleh teknologi modern dengan alasan agar tidak tertinggal oleh negara-negara lain. Semangatnya baik, tapi bila ditanam pada fondasi yang lemah hasilnya akan mentah bahkan menyesatkan. Maka, wajar bila nilai-nilai nasionalisme mudah tercerabut dari generasi sekarang. Untuk membuktikannya silahkan dicoba, berapa banyak mahasiswa yang tahu apalagi memahami tentang Pancasila, Naskah Proklamasi, atau Sumpah Pemuda. Lalu perhatikan pula bagaimana seorang mahasiswa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di depan kelas, wajahnya merah tersipu menahan malu, nada suaranya pun tidak terdengar bersemangat. Kalau pun ada, mereka menyebutnya sebagai “pede aja lagi”!

3. RUNTUHNYA BAHASA PERSATUAN
Usia 60 tahun bagi sebuah negara sama sekali tidak bisa dianggap tua, negeri yang baru merdeka 60 tahun lalu ini mencoba mengejar ketertinggalannya untuk menjadi negara modern dengan membangun berbagai ragam pendidikan. Namun, pemahaman modernisasi bangsa itu malah jadi membias dan kebablasan, demi sebutan masyarakat modern bahasa daerah terpaksa duduk diurutan kedua demi bahasa persatuan Indonesia, alasan ini dapat diterima. Celakanya bahasa persatuan itu mulai digerogoti oleh bahasa pergaulan yang menjamur di lingkungan generasi muda gitu loh. Yang tidak kalah ironisnya bahasa Inggris tiba-tiba menjadi ukuran prestasi dan kualitas seseorang di bumi Indonesia. Lembaga pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi berlomba memperdalam bahasa Inggris, bahkan beberapa sekolah memberikan sertifikat khusus, dengan bangga mereka mempromosikan bahwa bahasa pengantar di lingkungan sekolahnya berbahasa Inggris. Demikian pula pada perguruan tinggi ternama yang manjadi kebanggaan bangsa Indonesia, untuk mengikuti jenjang pendidikan S2 dan S3 setiap warga negara Indonesia wajib mengikuti tes TOEFL terlebih dahulu, padahal kualitas bahasa Indonesia-nya saja masih amburadul. Biasanya alasan yang dikemukakan oleh kaum pendidikan adalah; karena buku pengantar kebanyakan berbahasa Inggris, atau karena (katanya) bahasa Inggris merupakan bahasa internasional so what gitu loh. Padahal di Jerman, Belanda, Perancis, yang satu daratan dengan Inggris menyangsikan hal tersebut, mereka mirip dengan Jepang sebagai negara yang mampu mengusung nilai lokal ke kancah internasional, mereka adalah contoh bangsa yang kenal diri, tahu diri, mawas diri. Maka, alasan tentang orang Indonesia harus mampu berbahasa Inggris itu tidak tepat dan terlalu mengada-ada, toh film India saja bisa dialih suarakan masa buku ilmiah tidak bisa? Jika saja persoalan itu dapat terjadi dalam lingkungan pendidikan dan penerbitan tentu dunia penerbitan buku ilmiah akan semakin hidup, masyarakat gemar membaca dan menulis, pada gilirannya pintarlah semua manusia Indonesia. Rasanya koq, lebih pintar orang perfileman dari pada orang pendidikan.

Wajar bila negara-negara tetangga seperti Singapura, Australia, Malaysia, India, serta beberapa negara lainnya menggunakan bahasa Inggris di negerinya, sebab mereka termasuk kelompok negara Persemakmuran yang pernah dijajah Inggris, sedang Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan Belanda dan tidak dengan cara gratisan. Artinya, kita bebas membentuk jati diri sesuai dengan potensi dan cita-cita bangsa, tidak harus dengan cara nebeng dari sana-sini. Jepang saja berani, masa kita tidak?

Belajar dari Jepang, Cina, Thailand, Korea, Arab, mereka bisa menjadi negara modern tanpa mengesampingkan nilai-nilai agung yang menjadi identitas bangsanya. Mereka bangga dengan apa yang dimiliki sambil menjaga kehormatan serta keagungan budayanya. Bukankah saat ini sudah cukup banyak orang pintar di negeri ini? Jika para pakar pendidikan di Indonesia sudah tidak mampu berpikir kearah sana, pada prinsipnya negara ini tinggal menunggu keruntuhan secara total. Ada pepatah, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mencipta dan melestarikan bahasanya.

4. SERANGAN MEDIA INFORMASI
Perkembangan teknologi media informasi sejenis televisi kini telah memasuki era persaingan ketat yang bernuansa "bisnis hiburan". Namanya juga dagang hiburan, tentu segala sesuatu yang bisa dianggap menghibur (menarik minat) akan dieksploitasi secara besar-besaran lalu ditawarkan kepada masyarakat. Fenomena dunia pertelevisian yang penting untuk diperhatikan ialah; di negara ini rating tertinggi rata-rata diduduki oleh jenis acara yang sama sekali tidak mendidik, dalam arti tidak membuat manusia Indonesia tumbuh menjadi individu yang intelek. Misalnya tayangan perhantuan lebih rutin dibanding religi, tayangan gosip lebih banyak dibanding informasi ilmiah, panggung hiburan dangdut lebih laris dari pada kesenian lainnya yang bermutu tinggi. Jenis acara tersebut pada dasarnya hanya sekedar menghibur kepedihan diri melalui derita orang lain, kepuasan atas ketidakpastian, dan sebagainya sambil disatu sisi pihak penayang mengeduk keuntungan. Dapat diterka, para pengelola media kemudian akan berkilah "ini urusan dunia hiburan, jangan dikaitkan dengan persoalan pendidikan bangsa, masalah pendidikan itu urusan “sekolahan”?. Wah, kalau sudah begini persoalannya menjadi rumit. Artinya, jika nuansa pembodohan bangsa telah merasuk melalui media masa maka kondisi negara ini sudah mencapai titik paling rawan. Contohnya, banyak kaum ibu berlinang air mata untuk sebuah adegan putus cinta dalam sinetron (kisah gadungan), namun ketika menyaksikan tayangan kisah nyata tentang seorang gadis 12 tahun diperkosa kemudian tubuhnya dimutilasi dan dibungkus kardus lalu dibuang begitu saja hingga busuk, tidak setetes pun air mata keluar dari mata ibu-ibu di negeri ini. Apakah itu bukan termasuk “sakit jiwa”?

Bagi mereka yang sudah terkena virus media dan para penggadai semangat bangsa pertunjukan yang tidak mendidik dalam bentuk apa pun mungkin bukan masalah besar, tetapi bagi “jiwa-jiwa yang lembut” pewaris negeri ini persoalannya menjadi berbeda. Sebab kelembutan jiwa mereka harus terjaga agar dapat melanjutkan cita-cita besar bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa terhormat di atas tanah yang subur dan makmur, maka selayaknya pula rakyat Indonesia-lah yang seharusnya bisa menikmati harta karun Planet Bumi ini, tidak sepantasnya di negara yang jembar-senang-sugih-mukti ini terdapat pengemis, gelandangan, anak jalanan, preman, pengangguran, penyakit busung lapar, kusta, hingga biaya pendidikan yang mahal.

Akhir kata, tulisan ini tidak ditujukan untuk menyinggung siapa pun, namun lebih kepada mengingatkan kita semua tentang cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam membangun kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Sebab masalah lain seperti NARKOBA dan terorisme masih memayungi negeri ini, siapa tahu mereka sudah berdiri di sekitar lingkungan anda.

tukangbatu

0 Comments:

Post a Comment

<< Home