Thursday, April 27, 2006

Rasionalisme vs Empirisme (2/3)

2. Empirisme
 
o Asal kata emprisme: kata Yunani empeiria yang berarti "pengalaman"
o Dalam bhs Latin disebut experientia.
 
Ajaran empirisme:
o Memandang rasio atau akalbudi itu tidak bisa apa-apa tanpa pengalaman
inderawi.
o Pengalaman inderawi-lah yang menjadi satu-satunya sumber dan penjamin
kepastian kebenaran pengetahuan.
 
Apakah yang dimaksud dengan "pengalaman"?
Jawaban atas pertanyaan ini menimbulkan beberapa jawaban dan aliran
dalam Empirisme:
o Aristoteles: pengalaman sebagai hasil persepsi inderawi dan ingatan
yang belum tertata.
o Empirisme Inggris/Empirisme Atomistik: memahami pengalaman sebagai
data-data inderawi yang secara terpilah-pilah atau atomistik terterakan
pada organ tubuh kita.
o Empirisme Logis/Positivisme Logis: memahami pengalaman sebatas apa
yang bisa diamati secara inderawi dan meyakini bahwa struktur logis
bahasa berkorelasi dengan struktur logis dunia ini, karena bahasa
mencerminkan kenyataan.
o Empirisme radikal (kaum Pragmatis): berpendapat pengalaman adalah
berbagai jenis peristiwa yang dialami subjek sebagai makhluk yang
bertubuh. Jadi pengalaman mencakup juga perasaan, misalnya rasa sedih.
 
o Empirisme lunak: indera memang memberi semacam pengetahuan tentang
dnia ini, tetapi tidk seluruh pengetahuanberasal dri pengalaman.
o Empirisme keras: menyatakan bahwa tidak ada sumber lain bagi
pengetahuan selain pengalaman inderawi.
o Empirisme menegaskan bahwa tidak ada suatu pun dalam pikiran kita yang
tidak sebelumnya sudah terdapat dalam pengalaman inderawi.
o Empirisme Inggris berpendapat bahwa satu-satunya sumber pengetahuan
dan penjamin kepastian kebenarannya adalah pengalaman inderawi.
 
Tokoh dan ajarannya:
o John Locke (1632-1704): menyatkan bahwa akal budi atau pikiran manusia
itu pada waktu ia dilahirkan masih bagaikan kertas putih (tabula rasa)
o Berkeley (1685-1753): berpendapat hanya dua kemungkinan terbentuknya
gagasan dalam pikiran:
   1. akibat persepsi inderawi
   2. karena ingatan dan imaginasi yang mendasarkan diri pada persepsi
inderawi sebelumnya.
o David Hume (Inggris, 1711-1776) membedakan antara:
   1. kesan-kesan inderawi (impressions), dan
   2. gagasan-gagasan (ideas)
o Bagi Hume semua gagasanyang bermakna haruslah dapat dirunut
asalusulnya dari kesan-kesan inderawi. Gagasan yang tidak dapat dirunut
asal-usulnya dia anggap tidak punya makna. Inilah yang disebut tolok
ukur empiris pemaknaan.
o Hume menolah gagasan-gagasan abstrak tentang substansi, diri,
identitas, dan kausalitas.
o Menurut Hume metode induktif tidaklah tidak sahih secara logis, dan
dikritik karena mengandaikan adanya keseragaman dalam alam.
o Bagi Hume sains tidak pernah dapat memberikan pengetahuan yang niscaya
tentang dunia ini. Yang diberikan oleh sains hanyalah generalisasi
empiris.
o Kebenaran bagi Hume adalah kebenaran faktual yang selalu bersifat
kebetulan (contingent)

Rasionalisme vs Empirisme (1/3)

Ringkasan extension course filsafat, STF Driyarkara
Dosen: J. Sudarminta
 
Kerangka:
 
0. Pendahuluan
1. Rasionalisme (pengertian, tokoh2, ajaran2)
2. Empirisme (pengertian, tokoh2, ajaran2)
3. Tanggapan
 
 
Penjelasan.
 
0. Pendahuluan
 
o Berbicara tentang aliran pemikiran dan isme-isme, akan mengakibatkan
terjadinya generalisasi. Kategori dapat menciptakan sekat-sekat yang
membatasi.
o Walau demikian dunia ilmu selalu memuat upaya untuk
mensistematisasikan.
o Idealisme vs Realisme: aliran filsafat di bidang metafisika.
o Rasionalisme vs Empirisme: aliran filsafat di bidang epistemologi
(teori pengetahuan)
o Metafisika: mengkaji ciri-ciri hakiki realitas secara keseluruhan
o Epistemologi: kajian umum, menyeluruh, dan mendasar tentang
pengetahuan.
o Pokok persoalan epitemologi:
   - Apa yang menjadi sumber pengetahuan
   - Apa yang menjadi dasar terakhir bagi penentuan kebenaran pengetahuan
 
1. Rasionalisme
 
Pengertian
o Asal kata rasionalisme: kata Latin ratio yang berarti "akal budi" atau
"pikiran".
o Rasionalisme: menekankan pikiran sebagai sumber utama pengetahuan
manusia dan pemegang otoritas terakhir bagi penentuan kebenarannya.
 
Ajaran-ajaran
o Pikiran manusia mempunyai daya kekuatan a-priori (tanpa sebelumnya
mengandaikan pengalaman inderawi) untuk menangkap kebenaran tentang
struktur dasar alam.
o Rasionalisme didasarkan pada cara kerja deduktif.
o Merendahkan peran pengalaman inderawi, memuja kemampuan akal budi
manusia.
o Adanya gagasan bawaan (innate ideas).
o Optimis bahwa kesejahteraan umat manusia akan ditunjang oleh kemajuan
sains dan teknologi.
o Ada korelasi antara struktur pikiran manusia dengan struktur matematis
dunia ini.
o Mengagumi keniscayaan kebenaran penalaran deduktif sebagaimana
terdapat dalam logika, matematika, dan geometri.
o Sedangkan kaum positivis beranggapan bahwa semua bahasa atau
terminologi teoretis dapat diterjemankan ke dalam bahasa observasi.
o Menggambarkan Tuhan sebagai Sang Matematikawan Agung yang dalam
menciptakan dunia ini, meletakkan dasar rasional berupa struktur
matematis di dalamnya yang perlu ditemukan oleh pikiran manusia.
o Descartes, Leibniz (abad ke-17) : mengandaikan adanya Tuhan sebagai
penjamin kebenaran.
o Rasionalisme abad ke-18 cenderung anti religius.
o Idealime mutlak (Hegel) berpendapat akal budi meliputi realitas
seluruhnya. Yang real itu rasional dan yang rasional itu real.
 
 
Tokoh-tokoh rasionalisme dan ajarannya
 
 
Rene Descartes (Perancis, 1596-1650)
 
o Descartes digelari "bapak filsafat modern"
o Descartes menekankan adanya gagasan2 bawaan atau konsep yang merupakan
unsur penting dalam putusan dan kepercayaan.
o Menurut Descartes ada tiga jenis gagasan:
   1. gagasan selintas-datang (adventitious ideas): dari luar pikiran
   2. gagasan buatan (factitious ideas): gagasan yang dikonstruksikan
oleh kegiatan pikiran
   3. gagasan bawaan (innate ideas): gagasan yang diciptakan Tuhan.
o Descartes menyebutkan 3 substansi pokok:
   1. Tuhan
   2. Jiwa
   3. Materi atau dunia fisik
o Bagi Descartes gagasan bawaan yang bersifat jelas dan terpilah-pilah
(idea clara et distincta) tentang perkara yang dipersoalkan dalam
pikiran kita, menjadi tolok ukur penentuan kebenaran pengetahuan.
o Pernyataan Descartes: "saya berpikir maka saya ada" (cogito ergo sum).
o Descartes meragukan segala sesuatu, tapi baginya tak mungkin meragukan
keberadaan dirinya yang ragu-ragu itu.
 
 
Baruch Spinoza (Belanda, 1632-1677)
o Menurut Spinoza hanya ada satu substansi, yaitu Allah.
o Spinoza beraliran panteisme: Allah disamakan dengan segala sesuatu
yang ada.
o Ciri rasionalisme adalah pada bukunya yang terpenting: Ethica, ordine
geometrico demostrata (Etika yang dibuktikan dengan cara geometris)
 
 
Gottfried Wilhelm  Leibniz (Jerman, 1646-1716):
 
o Kalau tidak ada gagasan bawaan yang daripadanya dapat diturunkan
prinsip2 bawaan atau proposisi2 yang secara logis dideduksikan
daripadanya, maka tidak ada proposisi apa pun yang dapat kita pelajari.
o Leibniz berpendapat terdapat banyak substansi yang tak terhingga yang
dinamakannya "monade"
 
 
Christian Wolff (Jerman, 1679-1754)
 
o Seorang yang menyadur filsafat Leibniz menjadi suatu sistem, tetapi
juga menggunakan banyak unsur Skolastik.
o Karena kegiatan Wolff, maka rasionalisme menjadi aliran yang
merajalela di semua universitas Jerman pada waktu itu.
 
 
Referensi tambahan:
Prof. K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Penerbit Kanisius

Filsafat dan agama

Dalam buku Filsafat Agama karangan Dr. H. Rosjidi diuraikan tentang
perbedaan filsafat dengan agama, sebab kedua kata tersebut sering
dipahami secara keliru.
 
 
Filsafat
 
1) Filsafat berarti berpikir, jadi yang penting ialah ia dapat berpikir.
 
2) Menurut William Temple, filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk
memahami.
 
3) C.S. Lewis membedakan 'enjoyment' dan 'contemplation', misalnya
laki-laki mencintai perempuan. Rasa cinta disebut 'enjoyment', sedangkan
memikirkan rasa cintanya disebut 'contemplation', yaitu pikiran si
pecinta tentang rasa cintanya itu.
 
4) Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang.
 
5) Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang dan jernih
dan dapat dilihat dasarnya.
 
6) Seorang ahli filsafat, jika berhadapan dengan penganut aliran atau
paham lain, biasanya bersikap lunak.
 
7) Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya, sering
mengeruhkan pikiran pemeluknya.
 
8) Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan
argumen, walaupun argumenya sendiri.
 
 
Agama
 
1) Agama berarti mengabdikan diri, jadi yang penting ialah hidup secara
beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.
 
2) Agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan
hubungan manusia dengan Tuhan.
 
3) Agama dapat dikiaskan dengan 'enjoyment' atau rasa cinta seseorang,
rasa pengabdian (dedication) atau 'contentment'.
 
4) Agama banyak berhubungan dengan hati.
 
5) Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan
dengan gemuruhnya.
 
6) Agama, oleh pemeluk-pemeluknya, akan dipertahankan dengan
habis-habisan, sebab mereka telah terikat dan mengabdikan diri.
 
7) Agama, di samping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan
pengabdian diri, juga mempunyai efek yang menenangkan jiwa pemeluknya.
 
8) Filsafat penting dalam mempelajari agama.
 
 
Demikianlah antara lain perbedaan yang terdapat dalam filsafat dan agama
menurut Dr. H. Rosjidi.

Idealisme (Plato) vs Realisme (Aristoteles)

Dr. Alex Lanur
 
Kerangka:
 
1. Dua pemikir pendahulu
    a. Herakleitos (500 SM)
    b. Pamenides (480 SM)
 
2. Plato (428/7 - 348/7 SM)
    a. Dua macam pengetahuan
    b. Dua macam dunia
    c. Hubungan antara kedua dunia itu
    d. Hirarki antara idea-idea
    e. Kedudukan manusia
 
3. Aristoteles (348 - 285/6 SM)
    a. Hubungannya dengan Plato
    b. Teorinya sendiri
       1) Materi dan forma
       2) Tingkat-tingkat pengetahuan
       3) Penyebab-penyebab
       4) Perubahan atau gerakan
       5) Perubahan substansial - aksidental
       6) Substansi dan aksiden
       7) Penggerak pertama yang tidak digerakkan
       8) Pandangannya tentang manusia
 
4. Beberapa Catatan
 
 
Penjelasan:
 
1. Dua pemikir pendahulu
    Kedua pemikir ini
 
    a. Herakleitos (500 SM)
       - Tidak ada sesuatu yang mantap, semua berubah.
       - Segala sesuatu mengalir (panta thei kai uden menei)
       - Segala sesuatu adalah banyak.
       - Pengatahuan: adalah pengetahuan inderawi.
 
    b. Pamenides (480 SM)
       - Yang ada itu ada, kekal, tak terubahkan.
       - Tidak mungkin ada kejamakan. Yang ada itu satu saja.
       - Berpihak pada pengetahuan rasional.
 
2. Plato (428/7 - 348/7 SM)
 
    a. Dua macam pengetahuan
       - Prestasi Plato: membedakan dengan tajam dan tegas:
         1. pengamatan (inderawi)
         2. pemikiran (rasional)
       - Idea (eidos): yang tetap, tidak berubah, kekal, dapat
         diketahui melalui akal budi.
       - Idea bersifat objektif. Idea mempengaruhi pemikiran manusia.
       - Idea: pola asli dari sesuatu yang ditangkap indera
 
    b. Dua macam dunia
       1. Dunia jasmani, dunia gejala -> berubah, jamak, inderawi
       2. Dunia idea: kekal, sempurna, tiada perubahan, tiada kejamakan,
          merupakan "ada" yang sebenarnya
 
    c. Hubungan antara kedua dunia itu
       - Idea tidak dipengaruhi oleh benda jasmani.
       - Idea-idea mendasari dan menyebabkan benda-benda jasmani.
       - Plato mengunkapkan hubungan itu dengan 3 cara:
         1. Idea2 hadir dalam benda2 jasmani
         2. Benda2 yang konkret mengambil bagian dalam idea2
         3. Idea2 merupakan tiruan, model, contoh
 
    d. Hirarki antara idea-idea
       - "Yang Baik" (to agathon) puncak segala idea: paling sempurna
       - "Kebaikan": puncak yang menyinari segala idea lainnya dan
         membuatnya "terkenal" untuk pikiran manusia
       - Persekutuan (koinonia): hubungan antara idea2
 
    e. Kedudukan manusia
       - Manusia masuk ke dalam dua dunia
       - Dalam diri manusia digabung dua makhluk: tubuh dan jiwa
       - Jiwa berasal dari dunia idea, sekarang terkurung dalam tubuh
       - Eros: kerindan jiwa akan pemandangan bahagia di dunia idea
       - Pengetahuan: adalah ingatan kembali (anamnesis) akan idea
         yang pernah dipandangnya
 
3. Aristoteles (348 - 285/6 SM)
 
    a. Hubungannya dengan Plato
       - Aristoteles mengkritik tajam pendapat Plato tentang idea
       - Aristoteles: idea tidak ada, yang ada hal-hal yang konkret saja
       - Sependapat dengan Plato: ilmu berbicara tentang yang umum & tetap
 
    b. Teorinya sendiri
       1) Materi dan forma (forma-materia, morphe-hyle)
          - Setiap benda jasmani terdiri dari bentuk dan materi (bahan)
          - Materi adalah asas yang sama sekali terbuka
          - Materi adalah kemungkinan untuk menerima bentuk
          - Bentuk adalah asas yang menentukan
          - Hyle prote (materi pertama) materi
 
       2) Tingkat-tingkat pengetahuan, ada 3:
          1. Pengetahuan pengalaman (empeiria): pengetahuan tentang suatu hal
          2. Pengetahuan keterampilan (techne): untuk menghasilkan sesuatu
          3. Pengetahuan ilmiah (episteme): pengetahuan demi pengetahuan
          - Metafisika (sophia): ilmu yang tertinggi, karena mencari asas
            asas yang paling fundamental
 
       3) Penyebab-penyebab, ada 4:
          1. penyebab efisien (causa efficiens): sumber kejadian
          2. penyebab final (causa finalis): tujuan yang menjadi sasaran
             seluruh kejadian
          3. penyebab material (causa materialis): bahan pembuat benda
          4. penyebab formal (causa formalis): bentuk tertentu ditambahkan
             pada sesuatu, mis: kayu menjadi kursi kayu
          - Penyebab nomor 1 dan 2: menentukan kejadian dari luar
          - Penyebab nomor 3 dan 4: menentukan kejadian dari dalam
 
       4) Perubahan atau gerakan
          - Dalam setiap perubahan ada 3 faktor:
            1. alas yang tetap (substrat),
            2. keadaan yang lama
            3. keadaan yang baru
          - Contoh: substrat:air, perubahan: dingin->panas
 
       5) Perubahan substansial - aksidental
          - Perubahan substansial: mis. anjing jadi bangkai
          - Perubahan aksidental: mis. air dingin jadi panas
          - Perubahan substansial memerlukan: substrat, keadaan dahulu
            dan keadaan baru
 
       6) Substansi dan aksiden
          - Substansi: hal yang berdiri sendiri, dapat menerima keterangan
          - Aksiden: hal yang dikenakan pada sesuatu yang berdiri sendiri
          - Contoh: substansi: kertas, aksiden: warna merah
 
       7) Penggerak pertama yang tidak digerakkan
          - Allah: dipandang sebagai penggerak pertama yang tidak digerakkan
          - Jagat raya tidak dapat dibinasakan, gerakan adalah abadi
          - Penggerak ini dianggap sebagai Aktus Murni
          - Allah adalah pemikiran yang memandang pemikirannya sendiri
          - Penggerak tidak mengenal atau mencintai sesuatu yang lain
            daripada dirinya sendiri
 
       8) Pandangannya tentang manusia
          - Semua makhluk hidup mempunyai dua aspek: jiwa dan badan
          - Badan adalah materi, jiwa adalah bentuknya
          - Jiwa adalah aktus pertama dari suatu badan organis
 
 
4. Beberapa Catatan
 
- Tentang akal budi dan pancaindera:
   Plato: berbeda dan berpisah.
   Aritoteles: berbeda tetapi tidak berpisah.
 
- Tentang sikap berjalan
   Plato: memandang ke atas -> ke dunia ide
   Aritoteles: memandang ke bawah -> ke dunia realitas
 
- Penekanan dalam filsafat
   Plato: membahas "kebaikan" -> kehendak
   Aristoteles: membahas "kebenaran" -> akal budi
 
- Tentang jiwa
   Plato: menganut pendapat akan kebakaan jiwa
   Aristoteles: jiwa manusia akan binasa
 
- Teori pengetahuan:
   Plato: pengetahuan adalah ingatan kembali (anamnesis)
   Aristoteles: teori abstraksi

Cabang-cabang Filsafat

Telah kita ketahui bahwa filsafat adalah sebagai induk yang mencakup
semua ilmu khusus. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu
khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya, filsafat.
Mula-mula matematika dan fisika melepaskan diri, kemudian diikuti oleh
ilmu-ilmu lain. Adapun psikologi baru pada akhir-akhir ini melepaskan
diri dari filsafat, bahkan di beberapa insitut, psikologi masih terpaut
dengan filsafat.
 
Setelah filsafat ditinggalkan oleh ilmu-ilmu khusus, ternyata ia tidak
mati, tetapi hidup dengan corak baru sebagai 'ilmu istimewa' yang
memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus. Yang
menjadi pertanyaan ialah: apa sajakah yang masih merupakan bagian dari
filsafat dalam coraknya yang baru ini? Persoalan ini membawa kita kepada
pembicaraan tentang cabang-cabang filsafat.
 
Ahli filsafat biasanya mempunyai pembagian yang berbeda-beda. Coba
perhatikan sarjana-sarjana filsafat di bawah ini:
 
1. H. De Vos menggolongkan filsafat sebagai berikut:
    - metafisika,
    - logika,
    - ajaran tentang ilmu pengetahuan
    - filsafat alam
    - filsafat sejarah
    - etika,
    - estetika, dan
    - antropologi.
 
2. Prof. Albuerey Castell membagi masalah-masalah filsafat menjadi enam
bagian, yaitu:
    - masalah teologis
    - masalah metafisika
    - masalah epistomologi
    - masalah etika
    - masalah politik, dan
    - masalah sejarah
 
3 Dr. Richard H. Popkin dan Dr Avrum Astroll dalam buku mereka,
Philosophy Made Simple, membagi pembahasan mereka ke dalam tujuh bagian,
yaitu:
    - Section I Ethics
    - Section II Political Philosophy
    - Section III Metaphysics
    - Section IV Philosophy of Religion
    - Section V Theory of Knowledge
    - Section VI Logics
    - Secton VII Contemporary Philosophy,
 
4. Dr. M. J. Langeveld mengatakan: Filsafat adalah ilmu Kesatuan yang
terdiri atas tiga lingkungan masalah:
    - lingkungan masalah keadaan (metafisika manusia, alam dan
seterusnya)
    - lingkungan masalah pengetahuan (teori kebenaran, teori pengetahuan,
logika)
    - lingkungan masalah nilai (teori nilai etika, estetika yang bernilai
       berdasarkan religi)
 
5. Aristoteles, murid Plato, mengadakan pembagian secara kongkret dan
sistematis menjadi empat cabang, yaitu:
    a)Logika. Ilmu ini dianggap sebagai ilmu pendahuluan bagi filsafat.
    b)Filsafat teoretis. Cabang ini mencangkup:
      - ilmu fisika yang mempersoalkan dunia materi dari alam nyata ini,
      - ilmu matematika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu
        dalam kuantitasnya,
      - ilmu metafisika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu.
        Inilah yang paling utama dari filsafat.
    c)Filsafat praktis. Cabang ini mencakup:
      - ilmu etika. yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup
perseorang
      - ilmu ekonomi, yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran di dalam
negara.
    d)Filsafat poetika (Kesenian).
 
Pembagian Aristoteles ini merupakan permulaan yang baik sekali bagi
perkembangan pelajaran filsafat sebagai suatu ilmu yang dapat dipelajari
secara teratur. Ajaran Aristoteles sendiri, terutama ilmu logika, hingga
sekarang masih menjadi contoh-contoh filsafat klasik yang dikagumi dan
dipergunakan.
 
Walaupun pembagian ahli yang satu tidak sama dengan pembagian ahli-ahli
lainnya, kita melihat lebih banyak persamaan daripada perbedaan. Dari
pandangan para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat
dalam coraknya yang baru ini mempunyai beberapa cabang, yaitu
metafisika, logika, etika, estetika, epistemologi, dan filsafat-filsafat
khusus lainnya.
 
1. Metafisika: filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika,
hakikat yang bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman manusia.
2. Logika: filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah.
3. Etika: filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk.
4. Estetika: filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek.
5. Epistomologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan.
6. Filsafat-filsafat khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia,
filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan,
dan sebagainya.
 
Seperti telah dikatakan, ilmu filsafat itu sangat luas lapangan
pembahasannya. Yang ditujunya ialah mencari hakihat kebenaran dari
segala sesuatu, baik dalam kebenaran berpikir (logika), berperilaku
(etika), maupun dalam mencari hakikat atau keaslian (metafisika). Maka
persoalannya menjadi apakah sesuatu itu hakiki (asli) atau palsu (maya).
 
Dari tinjauan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam
tiap-tiap pembagian sejak zaman Aristoteles hingga dewasa ini
lapangan-lapangan yang paling utama dalam ilmu filsafat selalu berputar
di sekitar
* logika,
* metafisika, dan
* etika.

Cara membatasi filsafat

Karena sangat luasnya lapangan ilmu filsafat, maka menjadi sukar pula
orang mempelajarinya, dari mana hendak dimulai dan bagaimana cara
membahasnya agar orang yang mempelajarinya segera dapat mengetahuinya.
 
Pada zaman modern ini pada umunya orang telah sepakat untuk mempelajari
ilmu filsafat itu dengan dua cara, yaitu :
1. Dengan mempelajari sejarah perkembangan sejak dahulu kala hingga
sekarang (metode historis),
2. Dengan cara mempelajari isi atau lapangan pembahasannya yang diatur
dalam bidang-bidang tertentu (metode sistematis).
 
Dalam metode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran
filsafat sejak dahulu kala sehingga sekarang. Di sini dikemukakan
riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana timbulnya
aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika,
dan tentang keagamaan. Seperti juga pembicaraan tentang zaman purba
dilakukan secara berurutan (kronologis) menurut waktu masing masing.
 
Dalam metode sistematis orang membahas langsung isi persoalan ilmu
filsafat itu dengan tidak mementingkan urutan zaman perjuangannya
masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam
bidang-bidang yang tertentu. Misalnya, dalam bidang logika dipersoalkan
mana yang benar dan mana yang salah menurut pertimbangan akal, bagaimana
cara berpikir yang benar dan mana yang salah. Kemudian dalam bidang
etika dipersoalkan tentang manakah yang baik dan manakah yang baik dan
manakah yang buruk dalam pembuatan manusia.
 
Di sini tidak dibicarakan persoalan-persoalan logika atau metafisika.
Dalam metode sistematis ini para filsuf kita konfrontasikan satu sama
lain dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam soal etika kita
konfrontasikan saja pendapat pendapat filsuf zaman klasik (Plato dan
Aristoteles) dengan pendapat filsuf zaman pertengahan (Al-Farabi atau
Thimas Aquinas), dan pendapat filsuf zaman 'aufklarung' (Kant dan
lain-lain) dengan pendapat-pendapat filsuf dewasa ini (Jaspers dan
Marcel) dengan tidak usah mempersoalkan tertib periodasi masing-masing.
Begitu juga dalam soal-soal logika, metafisika, dan lain-lain.

Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat

Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam
semesta, maknanya dan nilainya.
o Apabila tujuan ilmu adalah kontrol,
o dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan
komunikasi dan ekspresi
o maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan
(understanding and wisdom).
 
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan
filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada
keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan
kebenaran.
 
S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat
memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi
maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya
kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja
manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan
seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.
Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya
seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab,
yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik
Tuhan, alam, atau pun kebenaran.
 
Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugas
filsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup,
melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif,
o menetapkan nilai,
o menetapkan tujuan,
o menentukan arah dan menuntun pada jalan baru.
Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menumpang
dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan
penggolongan-penggolongan berdasarkan 'nation', ras, dan keyakinan
keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada
artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya
maupun dalam semangatnya.
 
Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan
keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat
mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan
tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang
sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni,
pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan
Tuhan.
 
o Menurut Soemadi Soerjabrata, tujuan mempelajari filsafat adalah untuk
mempertajamkan pikiran
 
o H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui,
tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan
bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang
dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia,
bagaimana ia harus hidup secara baik.
 
o Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat
menjadi manusia yang baik dan bahagia.
 
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah
mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam
- logika (kebenaran berpikir),
- etika (berperilaku),
- maupun metafisik (hakikat keaslian).

Pengertian Filsafat (2)

Beberapa definisi
 
Karena luasnya lingkungan pembahasan ilmu filsafat, maka tidak mustahil
kalau banyak di antara para filsafat memberikan definisinya secara
berbeda-beda. Coba perhatikan definisi-definisi ilmu filsafat dari
filsuf Barat dan Timur di bawah ini:
 
a. Plato (427SM - 347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid
Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan
tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai
kebenaran yang asli).
 
b. Aristoteles (384 SM - 322SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmua
pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung
ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan
estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
 
c. Marcus Tullius Cicero (106 SM - 43SM) politikus dan ahli pidato
Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang
mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
 
d. Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina,
mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan
bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
 
e. Immanuel Kant (1724 -1804), yang sering disebut raksasa pikir Barat,
mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang
mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
- apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
- apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
- sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)
 
f. Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat
adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari
radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan.
Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk
sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
 
g. Drs H. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang
menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam
semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang
bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan
bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
 
 
Kesimpulan
 
Setelah mempelajari rumusan-rumusan tersebut di atas dapatlah
disimpulkan bahwa:
 
a. Filsafat adalah 'ilmu istimewa' yang mencoba menjawab masalah-masalah
yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa kerana
masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
 
b. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk
memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis
hakikat sarwa yang ada, yaitu:
- hakikat Tuhan,
- hakikat alam semesta, dan
- hakikat manusia,
serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut. Perlu
ditambah bahwa definisi-definisi itu sebenarnya tidak bertentangan,
hanya penekanannya saja yang berbeda.

Pengertian Filsafat (1)

Apakah filsafat itu? Bagaimana definisinya? Demikianlah pertanyaan
pertama yang kita hadapi tatkala akan mempelajari ilmu filsafat. Istilah
"filsafat" dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
 
a. Segi semantik: perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab
'falsafah', yang berasal dari bahasa Yunani,  'philosophia', yang
berarti 'philos' = cinta, suka (loving), dan 'sophia' = pengetahuan,
hikmah(wisdom). Jadi 'philosophia' berarti cinta kepada kebijaksanaan
atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat
akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut
'philosopher', dalam bahasa Arabnya 'failasuf".
 
Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai
tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada
pengetahuan.
 
b. Segi praktis : dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat bererti
'alam pikiran' atau 'alam berpikir'. Berfilsafat artinya berpikir. Namun
tidak semua berpikir bererti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir
secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa
"setiap manusia adalah filsuf". Semboyan ini benar juga, sebab semua
manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar,
sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf.
 
Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan
sungguh-sungguh dan mendalam.
 
Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan
memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain:
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat
kebenaran segala sesuatu.

Indonesia Dibodohi Dunia

1. HARTA KARUN PLANET BUMI
Proses "pemerkosaan dan pembodohan" bangsa makin hari kian terasa di dalam pola kehidupan sosial di negara ini. Indonesia yang telah habis-habisan dijarah oleh para koruptor kini masih harus menghadapi gelombang negatif yang cenderung akan memperparah situasi dan kondisi bangsa di masa yang akan datang. Dapat dibayangkan untuk masa mendatang jika setiap individu yang hidup di negeri ini mempunyai mental korup, bodoh, hedonis, materialialis dan konsumtif, bukan mustahil negara ini akan terjual habis hingga akhirnya menjadi tempat sampah dunia.

Negeri yang semestinya mampu memakmurkan 1000 keturunan tanpa terputus pada saat ini lebih mirip "negeri gelandangan" yang mengemis dana bantuan dari negara-negara kapitalis. Infus dana, pengamputasian wilayah seperti Timor Timur hingga penjualan beberapa pulau di daerah Karimun Jawa serta pulau Bidadari dan penjualan tambang bumi dilakukan secara sadar oleh pemerintah sambil mereka tidak berani menghadapi resiko. Bukan mustahil lintah darat kelas dunia pun telah turut andil dalam pesta bagi hasil atas negara ini. Ironis, harta karun yang menjadi sumber kekayaan bumi Indonesia para penikmatnya justru bangsa lain yang hidup entah di negeri mana. Disatu sisi para pengemis dan anak jalanan merebak di berbagai penjuru kota besar, tanpa mereka tahu bahwa dirinya sedang berdiri di atas salah satu harta karun Planet Bumi. Singkatnya, banyak negara yang hidup makmur, tentram dan damai dari hasil SDM dan SDA bumi Indonesia, namun sebaliknya sebagian besar rakyat Indonesia dalam keadaan yang mengkhawatirkan, ibarat semut mati di lumbung gula dan yang lebih parah ialah terlalu sedikit orang Indonesia yang memahami keadaan ini.

Disadari atau tidak, negara ini seolah-olah telah dirancang agar selalu dalam keadaan kisruh, kenapa demikian? Logikanya sederhana, jika masyarakat Indonesia bisa mencapai puncak kesadarannya maka mereka yang mempunyai kepentingan di negara ini akan terusik dan terusir, itu tentu saja sangat merugikan. Jadi mau tidak mau Indonesia "harus terjaga dalam kebodohan" agar masyarakatnya tidak pernah bisa mencapai puncak kesadaran (pintar) serta tetap berada dalam perpecahan, hal tersebut sudah dibuktikan sejak VOC bercokol di negeri ini, dan terbukti bahwa "politik adu domba dan pembodohan bangsa" sangat efektif untuk menghancurkan (menjajah) atau pun menguasai negara kepulauan yang mempunyai keanekaragaman budaya ini.

Mengapa masyarakat Indonesia tidak merasa dibodohi? Kemungkinan besar hal tersebut diakibatkan dampak serangan 'peluru kendali abad modern' yang datang menggelombang; food, fashion, fun, fuck and fool, atau sebut saja 5F yang telah dikemas sedemikian rupa hingga membius dan meloyokan mental serta pikiran setiap individu yang hidup di negara ini. Pencapaian target pembodohan bangsa pada akhirnya dipercepat melalui perkembangan media elektronik yang secara tidak langsung telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu sebagai 'moncong senapan'. Tentu saja setiap peluru yang keluar dari moncong itu tidak pernah meleset, selalu tepat sasaran. Lalu apa sasaran dan tujuannya? Membentuk sikap mental dan pola pikir tertentu yang dikemas oleh istilah life style atau gaya hidup yang sesuai dengan kepentingan kaum kapitalis di seluruh negera industri.

a. Food
Siapa yang tidak kenal dengan McDonald, Kentucky, Coca-Cola, Pepsi, dan lain sebagainya? Mereka yang tidak tahu tentang itu dapat dipastikan sebagai manusia purba, mereka yang belum pernah mencicipi burger McD, yang belum pernah mengunyah renyahnya ayam goreng Kentucky, yang lidahnya belum pernah tersengat Coke atau Pepsi adalah "biadab". Tanpa disadari, begitulah pandangan generasi muda bangsa Indonesia terhadap orang-orang yang lidahnya tidak mempunyai pengalaman dengan American Food.

b. Fashion
Tidak kurang dari 100 merk produk Barat yang dianggap fashionable telah memandu pandangan ideal artistik masyarakat Indonesia, dari produk sepatu hingga produk lipstick. Tidak kurang dari 1000 gaya yang dianggap trendy telah memandu cara bergaya masyarakat di negeri ini, dari model rambut, cara berpakaian, cara berbicara dan lain sebagainya. Produk dalam negeri menjadi terlihat sebagai produk lokal dan tidak bergengsi, pakaian motif batik atau baju kebaya menjadi terlihat kedaerahan dan tidak modern. Bahkan tidak tanggung-tanggung bentuk tubuh pun dipaksa harus mengikuti ideal artistik masyarakat Barat, maka untuk disebut "cantik dan tampan" terpaksa harus terlihat seperti "indo".

c. Fun
Dunia hiburan seperti apa yang tidak ada di negeri ini? Dari acara televisi hingga acara radio. Film-film dan kuis berhadiah dipaksa untuk meniru ala Barat, bahkan demi daya jual dan hiburan arena bermain anak pun harus dibuat seperti di Barat. Sikap individualis tumbuh subur akibat ingin menjaga kesenangan pribadi. Ketergantungan masyarakat terhadap dunia hiburan semakin meningkat terutama pada media televisi, akibatnya ialah produktifitas masyarakat melemah sedang kebutuhan hidup semakin meningkat.

Mengenai diskotik serta rumah hiburan lainnya tidak usah ditanyakan lagi, untuk sekedar makan-minum, mendengarkan lagu sambil menikmati suasana, sekelompok orang dengan suka rela mengeluarkan dana 5 sampai 10 kali lipat dari harga barang sebenarnya. Di sisi lain si miskin yang kerap berada disekitar kehidupan telah menjadi polusi pengganggu pandangan mata yang bisa mengurangi nilai hiburan dan kegembiraan, untuk itu solusinya adalah memberikan uang 100 rupiah dan hitung-hitung 'beramal'.

Tempat hiburan lain adalah mall, dan pusat-pusat perbelanjaan mewah. Tidak perlu membeli barang di situ, cukup melihat dan memuji setelah itu simpan sebagai impian yang suatu saat kelak mungkin dapat terealisasikan (jika mungkin). Berdandan untuk melihat orang lain dan orang lain melihat kita, inilah aquarium gaya hidup abad modern.

d. Fuck
Pengertian "fuck" tentu saja bukan dalam arti sempit, ia lebih berkonotasi kepada "cara hidup bebas" yang dibawa oleh nilai pemberontakan terhadap norma-norma yang sudah mapan. Munculnya cara hidup bergaya hewani seperti seks bebas adalah bagian kecil dari persoalan fuck, namun intinya memang mengarah kepada eksploitasi seksual hingga munculnya kaum gay, lesbian, bisnis birahi, nilai-nilai pornografi dan dunia metro-sexual. Perawatan fisik yang berlebihan demi daya tarik tubuh dan bukan untuk jenis kesehatan seperti pada umumnya. Sadar atau tidak, masyarakat Indonesia pada saat ini sedang berusaha mencabut norma-norma mapan yang bernilai agung hasil kesepakatan para sepuh di masa lalu dan mencoba menggantikannya dengan nilai-nilai baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan jaman versi Barat. Nilai-nilai yang terkandung dalam "fuck" secara langsung memang duduk berseberangan dengan nilai religi yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

e. Fool
200 juta penduduk Indonesia adalah lahan pasar yang demikian besar dan menguntungkan, mereka adalah masyarakat konsumtif dan materialistis yang telah berhasil dibentuk melalui berbagai media sejak beberapa puluh tahun yang lalu dan inilah saatnya kaum kapitalis menuai hasil.

"Fool" adalah tingkat tertinggi sebagai sasaran utama, pembentukan pola pikir dan mental bangsa hingga kepuncak "tumpul". Pembodohan bangsa yang dilakukan dengan teknik tinggi amat sulit untuk dibongkar, sebab terjadi secara serentak dan menyeluruh dari unsur food, fashion, fun dan fuck, siapa orang Indonesia yang belum pernah melakukan dan menikmati salahsatu atau seluruhnya? Dimanjakan oleh 4F telah melahirkan dampak F ke 5 yang intinya adalah "penghapusan jati diri bangsa serta hilangnya kemampuan mengenal potensi negeri".

Saat kita mempergunakan bahasa daerah (bahasa ibu) maka akan dianggap "primordial", jika berbahasa Indonesia yang baik dan benar akan terlihat sebagai mahluk aneh, jadi terpaksa diaduk-aduk dan lahirlah bahasa gaul, bahasa prokem, bahasa jargon muda-mudi yang rata-rata justru membongkar struktur budaya bahasa nasional yang telah mapan. Ironisnya bahasa Inggris malah semakin melambung ke puncak citra sebagai bahasa kaum intelek, dan mereka menganggap serta mengakuinya sebagai bahasa pergaulan kelas dunia. Padahal tidak ada satu pun negara tetangganya yang mengakui hal tersebut, seperti Belanda, Perancis, Jerman, Belgia dan lain sebagainya. Inggris dan para pendukungnya telah berhasil mempropagandakan bahasa mereka hingga ke wilayah Asia dan dampak propaganda yang paling parah justru di negeri ini, Indonesia.

Bangsa yang agung adalah bangsa yang mampu menciptakan bahasanya sendiri, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga bahasanya.

Jepang, Cina, Thailand, Arab, India, Korea, Vietnam, serta beberapa negara di Asia lainnya berhasil menyelamatkan bahasa dan tulisan (huruf) mereka hingga saat ini. Mereka tidak tunduk kepada propaganda bahasa dan huruf yang dilancarkan oleh masyarakat Barat, artinya hanya penduduk negeri yang telah berada di puncak tumpullah (goblok) yang termakan oleh propaganda tersebut. Patut kita sadari bersama bahwa betapa sulitnya menjelaskan hal ini kepada masyarakat yang kebodohannya sudah berlangsung secara turun-temurun. Disadari atau tidak, pada saat ini pemerintah dan dunia pendidikan yang didukung oleh berbagai media massa telah beramai-ramai dan secara serentak turut berpartisipasi mendukung kelancaran propaganda penghapusan jati diri bangsa dari segala sektor. Saat mereka bergerak, para kaum nasionalis ditinggalkan sendirian berteriak-teriak kepada bangsa keledai dan lembu yang telah dicocok hidungnya.

2. RUNTUHNYA PILAR PENDIDIKAN
Perkembangan teknologi yang tumbuh dengan cepat di seluruh dunia, pada dasarnya belum siap untuk diterima oleh bangsa yang baru “merdeka” dan masih dalam tahap belajar tentang tata cara bernegara dan bermasyarakat. Pandangan seperti itu pada prinsipnya telah dikemukakan oleh para pengamat sosial dan budayawan, namun apa boleh buat “nasi sudah menjadi bubur”?. Dampak perkembangan teknologi tidak hanya dalam tataran industri atau perekonomian di dalam negeri, bahkan dunia pendidikan pun turut terguncang. Sekolah tingkat dasar tiba-tiba sibuk dengan urusan pengenalan komputer, bahkan sebagian menterjemahkan bahwa teknologi itu identik dengan dunia komputer. Dunia pendidikan di Indonesia seperti menutup penginderaan dalam memahami sejarah bangsanya, seakan-akan tidak mau tahu bahwa negara ini sebenarnya "baru saja merdeka". Persoalan trauma perang yang menghantam mental dan pikiran rakyat negeri ini dikesampingkan dan digantikan begitu saja oleh teknologi modern dengan alasan agar tidak tertinggal oleh negara-negara lain. Semangatnya baik, tapi bila ditanam pada fondasi yang lemah hasilnya akan mentah bahkan menyesatkan. Maka, wajar bila nilai-nilai nasionalisme mudah tercerabut dari generasi sekarang. Untuk membuktikannya silahkan dicoba, berapa banyak mahasiswa yang tahu apalagi memahami tentang Pancasila, Naskah Proklamasi, atau Sumpah Pemuda. Lalu perhatikan pula bagaimana seorang mahasiswa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di depan kelas, wajahnya merah tersipu menahan malu, nada suaranya pun tidak terdengar bersemangat. Kalau pun ada, mereka menyebutnya sebagai “pede aja lagi”!

3. RUNTUHNYA BAHASA PERSATUAN
Usia 60 tahun bagi sebuah negara sama sekali tidak bisa dianggap tua, negeri yang baru merdeka 60 tahun lalu ini mencoba mengejar ketertinggalannya untuk menjadi negara modern dengan membangun berbagai ragam pendidikan. Namun, pemahaman modernisasi bangsa itu malah jadi membias dan kebablasan, demi sebutan masyarakat modern bahasa daerah terpaksa duduk diurutan kedua demi bahasa persatuan Indonesia, alasan ini dapat diterima. Celakanya bahasa persatuan itu mulai digerogoti oleh bahasa pergaulan yang menjamur di lingkungan generasi muda gitu loh. Yang tidak kalah ironisnya bahasa Inggris tiba-tiba menjadi ukuran prestasi dan kualitas seseorang di bumi Indonesia. Lembaga pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi berlomba memperdalam bahasa Inggris, bahkan beberapa sekolah memberikan sertifikat khusus, dengan bangga mereka mempromosikan bahwa bahasa pengantar di lingkungan sekolahnya berbahasa Inggris. Demikian pula pada perguruan tinggi ternama yang manjadi kebanggaan bangsa Indonesia, untuk mengikuti jenjang pendidikan S2 dan S3 setiap warga negara Indonesia wajib mengikuti tes TOEFL terlebih dahulu, padahal kualitas bahasa Indonesia-nya saja masih amburadul. Biasanya alasan yang dikemukakan oleh kaum pendidikan adalah; karena buku pengantar kebanyakan berbahasa Inggris, atau karena (katanya) bahasa Inggris merupakan bahasa internasional so what gitu loh. Padahal di Jerman, Belanda, Perancis, yang satu daratan dengan Inggris menyangsikan hal tersebut, mereka mirip dengan Jepang sebagai negara yang mampu mengusung nilai lokal ke kancah internasional, mereka adalah contoh bangsa yang kenal diri, tahu diri, mawas diri. Maka, alasan tentang orang Indonesia harus mampu berbahasa Inggris itu tidak tepat dan terlalu mengada-ada, toh film India saja bisa dialih suarakan masa buku ilmiah tidak bisa? Jika saja persoalan itu dapat terjadi dalam lingkungan pendidikan dan penerbitan tentu dunia penerbitan buku ilmiah akan semakin hidup, masyarakat gemar membaca dan menulis, pada gilirannya pintarlah semua manusia Indonesia. Rasanya koq, lebih pintar orang perfileman dari pada orang pendidikan.

Wajar bila negara-negara tetangga seperti Singapura, Australia, Malaysia, India, serta beberapa negara lainnya menggunakan bahasa Inggris di negerinya, sebab mereka termasuk kelompok negara Persemakmuran yang pernah dijajah Inggris, sedang Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan Belanda dan tidak dengan cara gratisan. Artinya, kita bebas membentuk jati diri sesuai dengan potensi dan cita-cita bangsa, tidak harus dengan cara nebeng dari sana-sini. Jepang saja berani, masa kita tidak?

Belajar dari Jepang, Cina, Thailand, Korea, Arab, mereka bisa menjadi negara modern tanpa mengesampingkan nilai-nilai agung yang menjadi identitas bangsanya. Mereka bangga dengan apa yang dimiliki sambil menjaga kehormatan serta keagungan budayanya. Bukankah saat ini sudah cukup banyak orang pintar di negeri ini? Jika para pakar pendidikan di Indonesia sudah tidak mampu berpikir kearah sana, pada prinsipnya negara ini tinggal menunggu keruntuhan secara total. Ada pepatah, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mencipta dan melestarikan bahasanya.

4. SERANGAN MEDIA INFORMASI
Perkembangan teknologi media informasi sejenis televisi kini telah memasuki era persaingan ketat yang bernuansa "bisnis hiburan". Namanya juga dagang hiburan, tentu segala sesuatu yang bisa dianggap menghibur (menarik minat) akan dieksploitasi secara besar-besaran lalu ditawarkan kepada masyarakat. Fenomena dunia pertelevisian yang penting untuk diperhatikan ialah; di negara ini rating tertinggi rata-rata diduduki oleh jenis acara yang sama sekali tidak mendidik, dalam arti tidak membuat manusia Indonesia tumbuh menjadi individu yang intelek. Misalnya tayangan perhantuan lebih rutin dibanding religi, tayangan gosip lebih banyak dibanding informasi ilmiah, panggung hiburan dangdut lebih laris dari pada kesenian lainnya yang bermutu tinggi. Jenis acara tersebut pada dasarnya hanya sekedar menghibur kepedihan diri melalui derita orang lain, kepuasan atas ketidakpastian, dan sebagainya sambil disatu sisi pihak penayang mengeduk keuntungan. Dapat diterka, para pengelola media kemudian akan berkilah "ini urusan dunia hiburan, jangan dikaitkan dengan persoalan pendidikan bangsa, masalah pendidikan itu urusan “sekolahan”?. Wah, kalau sudah begini persoalannya menjadi rumit. Artinya, jika nuansa pembodohan bangsa telah merasuk melalui media masa maka kondisi negara ini sudah mencapai titik paling rawan. Contohnya, banyak kaum ibu berlinang air mata untuk sebuah adegan putus cinta dalam sinetron (kisah gadungan), namun ketika menyaksikan tayangan kisah nyata tentang seorang gadis 12 tahun diperkosa kemudian tubuhnya dimutilasi dan dibungkus kardus lalu dibuang begitu saja hingga busuk, tidak setetes pun air mata keluar dari mata ibu-ibu di negeri ini. Apakah itu bukan termasuk “sakit jiwa”?

Bagi mereka yang sudah terkena virus media dan para penggadai semangat bangsa pertunjukan yang tidak mendidik dalam bentuk apa pun mungkin bukan masalah besar, tetapi bagi “jiwa-jiwa yang lembut” pewaris negeri ini persoalannya menjadi berbeda. Sebab kelembutan jiwa mereka harus terjaga agar dapat melanjutkan cita-cita besar bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa terhormat di atas tanah yang subur dan makmur, maka selayaknya pula rakyat Indonesia-lah yang seharusnya bisa menikmati harta karun Planet Bumi ini, tidak sepantasnya di negara yang jembar-senang-sugih-mukti ini terdapat pengemis, gelandangan, anak jalanan, preman, pengangguran, penyakit busung lapar, kusta, hingga biaya pendidikan yang mahal.

Akhir kata, tulisan ini tidak ditujukan untuk menyinggung siapa pun, namun lebih kepada mengingatkan kita semua tentang cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam membangun kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Sebab masalah lain seperti NARKOBA dan terorisme masih memayungi negeri ini, siapa tahu mereka sudah berdiri di sekitar lingkungan anda.

tukangbatu

Wednesday, April 19, 2006

Pengertian Filsafat (1)

Apakah filsafat itu? Bagaimana definisinya? Demikianlah pertanyaan
pertama yang kita hadapi tatkala akan mempelajari ilmu filsafat. Istilah
"filsafat" dapat ditinjau dari dua segi, yakni:

a. Segi semantik: perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab
'falsafah', yang berasal dari bahasa Yunani, 'philosophia', yang
berarti 'philos' = cinta, suka (loving), dan 'sophia' = pengetahuan,
hikmah(wisdom). Jadi 'philosophia' berarti cinta kepada kebijaksanaan
atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat
akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut
'philosopher', dalam bahasa Arabnya 'failasuf".

Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai
tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada
pengetahuan.

b. Segi praktis : dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat bererti
'alam pikiran' atau 'alam berpikir'. Berfilsafat artinya berpikir. Namun
tidak semua berpikir bererti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir
secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa
"setiap manusia adalah filsuf". Semboyan ini benar juga, sebab semua
manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar,
sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf.

Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan
sungguh-sungguh dan mendalam.

Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan
memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain:
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat
kebenaran segala sesuatu.

Tuesday, April 18, 2006

Untung Ada Tomy Winata

Friday, April 14, 2006

Preman, Mafia dan ''Leak''

''Aku pertaruhkan kehormatanku untuk setia kepada Mafia, sebagaimana Mafia setia padaku. Seperti halnya Santo ini dan beberapa tetes darahku yang dibakar, maka aku pun akan memberikan seluruh darahku untuk Mafia, ketika abu tubuhku dan darahku kembali pada kondisi semula," sumpah calon anggota Mafia yang membasahi patung Santo terbuat dari kertas dengan darah tangan kanannya, lalu membakar patung kertas tersebut dalam upacara Omerta. (''Mafia Global'', Antonio Nicaso & Lee Lamothe).
RUBAG bersyukur kalau di Bali belum ada kelompok kriminal berkualitas seperti Mafia. Bahkan bergembira ketika membaca di Bali Post Minggu, 2 Mei lalu, bahwa di Pulau Dewata meskipun ada kelompok preman, namun pengoperasiannya masih bertaraf kampungan. Konon tidak seperti organisasi kriminal mafia di Italia, Ndrangheta di Kalabria, Triad di Hongkong, Yakuza di Jepang, La Cosa Nostra di Amerika dan Medellin di Kolombia. Tapi rasa syukur dan bangga tersebut terjegal, saat memikirkan kondisi Bali yang kian heterogen, sementara budaya Bali yang selama ini dibanggakan semakin kronis akibat terjangan materialisme dan kapitalisme global. Bukan tidak mungkin globalisasi di bidang ekonomi menggandeng pula kejahatan global yang akan tumbuh subur di lahan dimana hubungan antara masyarakatnya kian renggang akibat individualisme dan pragmatisme semakin meninggi. Konsep menyama-braya tergerogoti virus-virus skeptisme dan apatisme.
Mafia, menurut Nicaso dan Lamothe, pada awalnya bukanlah organisasi kriminal. Dia merupakan kelompok perjuangan melawan penindasan dan penjajahan Prancis yang teramat kejam di Sisilia. Mafia terlahir dari motto perlawanan masyarakat tertindas berbunyi, ''Morte Alla Francia Italia Anela!'' yang konon berarti ''Maut di tangan Prancis adalah tangis Italia''. Demikian pula Triad yang kini jaring-jaring operasi kejahatannya telah menjamah Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Kelompok yang kemudian jadi organisasi kriminal tersebut lahir di Fujian China, tahun 1674, ketika negeri tersebut dikuasai bangsa Manchu. Awalnya hanya terdiri dari 128 pendeta Budha, yang menguasai Kung Fu, lalu mendidik masyarakat dalam ilmu bela diri untuk mengusir penjajah Manchu. Setelah penjajah terusir, organisasi tersebut tetap eksis, namun kesulitan finansial menyebabkan mereka terlibat dalam berbagai kegiatan ilegal. Bernasib sama dengan kelompok Mafia yang hendak digulung oleh rezim Mussolini di Italia, kelompok Triad pun harus menyeberang ke Hongkong, karena kekerasan sudah menjadi pilihan hidup mereka.
''Sang Revolusioner adalah seorang yang tertindas yang sekaligus merupakan kunci utama dari pihak-pihak yang menindasnya. Sang Revolusioner tidak mendapat privelese-privelese seperti yang dimiliki para penindasnya, maka satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya adalah dengan menghancurkan kelas yang menindasnya,'' tiba-tiba Rubag teringat pendapat Jean Paul Sartre, setelah memyimak sejarah munculnya Mafia di Sisilia dan Triad di Fujian. Bahkan sejarah munculnya kelompok Yakuza di Jepang pun tidak terlepas dari para samurai atau ksatria berpedang peninggalan Rezim Tokugawa (1602-1868) yang mengisolasi daratan Negeri Sakura tersebut dari pengaruh asing selama dua setengah abad. Justru akibat diserbunya Jepang oleh Komodor Pery dengan Armada Hitam dari Amerika, tahun 1853 dan 1854, para samurai tak bertuan yang disebut ronin melakukan perlawanan gigih terhadap para penyerbunya. Pergantian rezim dari Tokugawa ke rezim Meiji yang terkenal dengan restorasinya yang cenderung kebarat-baratan, menyebabkan para ronin kehilangan martabat dan mata pencarian, sehingga sebagian dari mereka mengelompokkan diri dalam grup Yakuza.
Kerakusan melelap sains dan teknologi dari Barat memang menyebabkan Jepang jadi negara industri raksasa pertama di Asia, sedangkan pengaruh politik yang diserapnya dari Prusia Jerman, menyebabkannya dia jadi imperialisme fasis yang menyengsarakan rakyat di kawasan Pasifik selama Perang Dunia II. Samurai berpedang pun berubah jadi Yakuza bersenjata api canggih. Industri kejahatan Yakuza pun mendunia dan anggotanya yang ratusan ribu tersebar di seluruh Jepang. Kelompok yang paling ditakuti adalah Yamaguchi Gumi, selain itu ada enam kelompok lain yakni, Inagawa Kai, Sumiyopshi Kai, Aizu Kotetsu, Goda Ikka, Kudo Rengo Kusano Kai dan Kyosei Kai.
*** ''Benar kata orang, batas antara kebaikan dan kejahatan tipis! Patriotisme pun sulit dibedakan dengan pemberontakan. Bung Karno pun pernah dicap pemberontak ekstrimis oleh kolonialis Belanda. Seorang revolusioner bisa berubah jadi bajingan ketika nilai-nilai yang dia perjuangkan selalu gagal, sehingga menempuh tindakan kasar. Mudah-mudahan preman yang terhimpun dalam organisasi yang dicap kampungan di Bali tidak menyerap teknik dan cara kerja Mafioso, Triad, Yakuza dan La Cosa Nostra,'' renung Rubag.
Bila yang direnungkan Rubag terjadi, mengingat Bali sebagai daerah wisata yang dikunjungi berbagai bangsa dengan bermacam-macam pengaruh, bisa dibayangkan tingkat kesibukan, termasuk stres, yang akan dialami aparat keamanan, khususnya kepolisian. Dua kali perampokan bersenjata api dengan modus operandi sama, nyaris tidak terlacak jejaknya. Belum lagi kriminalitas atau pemerasan yang dilakukan oknum-oknum aparat yang melebihi tindakan preman, karena didukung seragam dan senjata api yang menggelayut di pinggangnya.
Kejahatan meliputi pemakaian serta pengedaran narkoba, yang di antaranya melibatkan orang asing, merupakan bukti bahwa jaring-jaring kejahatan global telah merajut kehidupan masyarakat Bali. Smurfing atau pencucian uang hasil kejahatan, korupsi dan narkoba, menimbulkan kekhawatiran bahwa jumlah uang yang beredar di Bali bisa jadi sebagian merupakan narko-rupiah, sehingga menjadi daya tarik pendatang ke pulau ini dengan jumlah sangat mencengangkan. Ironisnya, apatisme dan skeptisme di kalangan masyarakat lokal kian menebal, sehingga toleransi dan gotong royong kian menjauh.
"Kau jangan terlalu sering menyebut nama setan, karena suatu hari dia akan benar-benar nongol di hadapanmu!'' tiba-tiba Rubag teringat nasihat almarhum kakeknya yang secara otomatis menyetop otaknya memikirkan kehadiran kelompok-kelompok mobster di Bali.
Kendati Rubag sering membolak-balik lembaran fisika, biologi, filsafat, politik, namun sebagai orang Bali, dia percaya dengan nasihat kakeknya yang tradisionalis. Dia masih percaya pada Panca Sarada, yang diantaranya mengandung unsur roh sebagai fenomena misteri yang tidak pernah dituntaskan secara gamblang pengetahuan positif Cartesian maupun Newtonean. Bahkan Michael Talbot masih mengaitkan fisika dengan mistisisme. Kematian beberpaa dalang maupun balian sakti di Bali secara misterius, sering dikaitkan dengan kebiasaan mereka menantang leak atau setan untuk membuktikan pada khalayak, bahwa mereka lebih sakti dibanding mahluk-mahluk gaib yang mereka tantang. Sikap jumawa seperti ini justru merupakan paspor dan entry permit bagi mahluk-mahluk supernatural tersebut untuk masuk dan menyerang. Bagi dia, leak maupun setan tidak ubahnya dengan preman, mafia atau mobster. Padahal tidak semua orang yang diberi label preman memiliki kualitas yang benar-benar jahat.
''Orang yang diberi label jahat sesungguhnya tidak betul-betul jahat ! Mengapa ? Karena ada kejahatan yang sebanarnya tidak diinginkan oleh pelakunya,'' tulis dr. Taufik pasiak M.Pd dalam buku ''Revolusi IQ/EQ/SQ" mengulas perilaku pemuda tanggung usia 16 tahun, murid sekolah menengah West Side Jonesboro Arkansas AS, yang memuntahkan 27 kali tembakan ke arah guru dan kawan-kawan sekelasnya.
''Janganlah kau menertawakan orang yang jatuh, tapi bersyukurlah karena kamu tidak jatuh!" kembali tergiang petuah almarhum Hamka yang pernah didengarnya puluhan tahun silam di layar kaca dan yang tidak pernah dilupakan Rubag. Karena di otaknya berkelebat berbagai bayangan dan pertimbangan sebagai proses renungannya, Rubag berjanji pada dirinya untuk tidak memberi cap pada seseorang, sebelum merasa dirinya lebih sempurna dibanding orang yang diberinya label. Dia tidak ingin disebut sebagai orang yang mampu melihat kuman di seberang lautan, sementara gajah di pelupuk mata tidak dilihatnya.
* aridus
OPINI - Bali Post - 9 Mei 2004 (May 9, 2004).

Saturday, April 01, 2006

V for Vendetta, V for Vornografi ?

[Lawanlah ketidakadilan dengan pena dan otak bukan dengan otot]

Mungkin tidak ada film yang sebagus, berbobot dan seberat V for Vendetta di tahun 2006 ini. Jarang ada sebuah film yang memiliki nilai filosofis yang cukup tinggi namun tidak berat, kritis serta cerdas. Jika anda menonton film ini, maka anda seperti menonton lagi film the “Matrix Trilogy” hasil besutan dari sutradara Wachowski bersaudara, film yang mempunyai bobot filosofisnya sama namun Matrix sedikit lebih berat karena memang film V for Vendetta adalah hasil karya mereka meskipun Wachowski bersaudara hanya menjadi penulis skenario.

Alkisah tentang kehidupan masyarakat di London pada abad ke 21. Ketika Inggris menjadi Negara yang otoriter, rakyat hidup dalam ketakutan dan hidup dalam kebohongan oleh pemerintah. Digambarkan bahwa rakyat begitu patuh namun patuh dalam ketakutan kepada Konselor Sutler (artis) yang secara sistematis menghabisi lawan-lawan politiknya dengan cara yang kotor dan dengan propaganda serta kebohongan public. Suatu ketika dikisahkan pada tanggal 5 November, bahwa ada seorang wanita bernama Evey diselamatkan oleh pria bertopeng yang belakangan dipanggil Vendetta dari tindakan semena-mena “the finger” yaitu sebuah polisi rahasia pemerintah yang bertugas mengawasi jam malam. Di situlah kisah mereka dimulai ketika sebuah gedung pengadilan Inggris diledakkan sebagai tanda perlawanan terhadap pemerintah dimulai.
Mungkin saya sebaiknya tidak menceritakan film ini secara keseluruhan karena lebih baik anda menonton filmnya sendiri. Akan tetapi ada yang menarik yang saya ingin ungkapkan di sini.

Pemerintahan Sutler digambarkan memerintah dengan penuh terror, propaganda bahwa keamanan dan kesatuan iman adalah segala-galanya akibatnya hak-hak pribadi masyarakat dibatasi sampai diberlakukannya jam malam. Film ini merupakan kritik terhadap Hitler dan George W Bush. Wachowski seakan ingin memberitahukan kita bahwa agenda perang teroris George W Bush terhadap yang dianggapnya dianggapnya teroris itu bisa jadi lama kelamaan disamakan seperti gerakan fasisme Hitler. Wachowski juga ingin mengatakan kepada kita bahwa Perang terhadap teroris dengan mengatas namakan agama adalah sangat berbahaya sama halnya ketika George W Bush pernah mengatakan “Crusade” untuk perang terhadap teroris dan untungnya pernyataan itu ditarik kembali.

Vendetta adalah digambarkan sebagai tokoh yang sangat kecewa dengan perlakuan kejam pemerintah terhadap dirinya, maka timbulah kebencian dan ingin melakukan balas dendam. Simbol perlawanannya dilukiskan dalam huruf “V“ for “Vengeance”. Penggambaran Vendetta yang mengenakan topeng dan jubah tertutup untuk menutupi luka bakar di sekujur tubuhnya serta siksaan di penjara seakan menggambarkan penderitaan Vendetta yang amat dalam.

Seperti layaknya film yang biasanya terdapat tokoh antagonis dan tokoh utamanya. Tetapi saya rasa tokoh utamanya kali ini adalah Evey. Evey meskipun dia berterima kasih telah ditolong oleh Vendetta dan simpati serta mendukung terhadap perjuangannya, dia tidak serta merta setuju dengan cara Vendetta yang begitu keras dan radikal yang seakan tiada maaf bagi para penjahat (sebagai contoh ketika ada seorang dokter yang menciptakan virus untuk pemerintah meskipun dia minta maaf, Vendetta tetap membunuhnya), serta latihan penyiksaan yang dialaminya ternyata itu semua dikerjakan sendiri oleh Vendetta. Sikap lugu dan polos Evey terhadap Vendetta ketika apa yang dikatakan benar adalah benar, dan salah adalah salah membuat Vendetta yang cerdas, keras serta radikal pada akhirnya sadar bahwa perjuangannya dia hanyalah proyek balas dendam yang justru banyak menimbulkan masalah baru daripada menyelesaikan masalah yang sudah ada seperti terjadinya anarkisme di Inggris.

Itulah sebabnya tokoh Vendetta bukannya bebas dari kritik, kritik Evey terhadap Vendetta sebenarnya merupakan kritik Wachowski juga kepada Osama Bin Landen yang berjuang dengan cara kekerasan dan radikal untuk sesuatu yang tidak adil.
Sebenarnya film ini menuntut kita untuk berpikir obyektif dan adil terhadap lingkungan di sekitar kita, terkadang berita yang muncul di televisi tidak sepenuhnya benar sehingga mengharuskan kita untuk bersikap kritis dan tidak serta merta menerimanya. Jika anda pernah menonton Fahrenheit 9/11 maka pesan yang disampaikan kurang lebih sama yaitu kritik terhadap agenda perang terhadap teroris oleh Bush, kecerobohan pihak keamanan dalam peledakan gedung kembar WTC yang seakan-akan sengaja dibiarkan terjadi. Suatu pesan yang baru dari film ini adalah kritik terhadap sikap fasisme dan rasisme Hitler, sikap radikal Osama Bin Landen, kritik terhadap agama yang digabungkan dengan Negara dan mengatasnamakan agama untuk kepentingan politik, kritik terhadap kebebasan pers, beragama dan berekspresi, dan masih banyak yang mungkin bisa anda tambahkan juga di sini.

Sebenarnya jika mau berpikir lebih lokal lagi, telaah kritis film V for Vendetta juga tertuju terhadap pemerintah yang saat ini sedang menggodok RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Kisah Sutler yang memimpin negara dengan tangan besi dengan motto “Strength Through Unity, Unity Through Faith” menggunakan simbol-simbol agama untuk melawan segala bentuk terorisme padahal orang yang mengkritik pemerintah pun bisa disamakan dengan teroris (jelas-jelas pemerintah bukan Tuhan yang selalu benar). Sama seperti halnya pemerintah yang sedang membahas RUU yang memerangi pornografi, dengan alasan agama dan moral mereka membuat definisi pornografi yang terlalu bias sehingga justru lebih banyak jatuh korban tak bersalah akibat amunisi yang salah sasaran tersebut.

RUU ini seakan mengajak kita untuk bersatu untuk melawan suatu musuh yang tidak jelas, bias serta terkesan membodohi masyarakat. RUU ini dinilai terlalu jauh mengurusi hak privat seseorang bagaimana dia harus memakai baju ? Bagaimana dia harus beraksi di depan panggung ? Bagaimana dia harus dan harus dan harus ? Semuanya ini dijadikan satu jilid ke dalam suatu UU. Padahal urusan moral tidak perlu diundang-undangkan cukup hanya melalui ajaran agama (Hukum tertulis) & etika (Hukum tak tertulis) yang bisa diajarkan di sekolah ataupun di tempat-tempat ibadah.

Ketika moral atau ajaran agama dimasukkan ke dalam suatu UU, hal ini dikhawatirkan akan membuat orang tidak nyaman terhadap dirinya sendiri. Bisakah dibayangkan jika ada aturan UU kita harus makan menggunakan tangan kanan karena tangan kiri tidak sopan, dan kita ditangkap hanya gara-gara masalah tangan ? Begitu juga baju, kita ditangkap karena kita memakai baju yang kita anggap suka & bagus disamakan dengan hukum pidana ketika maling ayam atau seorang pemerkosa dihukum ? Haruskah hal sedemikian sepele dimasukkan ke dalam UU ? Mungkinkah kita semua tahu bahwa semua perkara di atas itu sudah ada hukumnya di dalam hukum moral yang terdapat di masyarakat ? Dan rasanya aneh jika Negara kita mengurusi hal yang demikian.

RUU APP sendiri dikhawatirkan akan terlalu banyak mengurusi hak privat ketimbang memberantas industri pornografinya yang sebenarnya lebih meresahkan ketimbang baju-baju yang dianggapnya seksi dan mengundang syahwat padahal mungkin bagi saya dan orang yang melihat biasa-biasa saja. Bahaya yang ditimbulkan sama seperti yang terdapat pada film V for Vendetta, ketika pemerintahan Sutler berteriak penting artinya kesatuan dan keamanan Negara, tetapi hak-hak pribadi seseorang dan keragaman kepercayaan serta budaya diabaikan.

RUU APP juga dikhawatirkan akan memberangus keunikan budaya, salah sasaran dalam pemberantasannya karena justru arti pornografi yang terlalu bias. Jangan lupa juga efek domino pada kehancuran dunia wisata. Terlalu banyak dampak buruk yang ditimbulkan ketimbang kebaikannya. Harus disadari bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang cultural dan memiliki keragaman suku, agama serta budaya. Masakah kita harus memberantas budaya kita sendiri yang dianggap oleh sebagian orang porno padahal sebagian orang biasa saja ? Apakah memang pemerintah lebih pusing memikirkan hak privat seseorang sehingga menunda agenda lain yang lebih penting bagaimana melawan serbuan produk tekstil impor dari Cina yang mengancam produk lokal ? Bagaimana memberantas flu burung ? Bagaimana meningkatkan jumlah investasi yang masuk ke Indonesia ? Bagaimana mempermudah birokrasi dan memberantas korupsi ? dan bagaimana yang lainnya. Coba anda renungkan sendiri bagi yang mendukung RUU aneh ini.

[Bingung dengan judul di atas, sengaja saya memberi huruf (V)ornografi menggantikan huruf (P)ornografi karena yang diberantas seharusnya huruf P tetapi menjadi salah sasaran sehingga menjadi huruf V, padahal Vornografi bukanlah Pornografi. V hanyalah korban tidak bersalah akibat salah tafsir. Ini hanyalah salah satu ilustrasi]