Tuesday, March 28, 2006

Siapakah Tommy Winata?

Sumber : kompas Senin, 22 April 2002

Banyak orang kenal nama, tapi tak kenal siapa sebenarnya sosok lelaki berumur 43 tahun bernama Tommy Winata ini? Benarkah taipan muda dan digdaya ini sukses berkait dukungan bisnis remang-remang: dari judi, obat bius, hingga penyelundupan? Benarkah ia merupakan salah satu 'Mr Big' dari "Gang of Nine?"- sekelompok orang yang menguasai bisnis remang-remang?

Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Yang jelas, sebagai pengusaha,
Tommy termasuk punya kisah sukses. Lelaki berumur 43 tahun kelahiran
Pontianak ini termasuk ulet dan tekun, merangkak dari bawah.
Meskipun, ia kerap dituding menyumbang bagian yang akut dalam krisis
ekonomi dan politik di tanah air. Terutama dalam perselingkuhan
bisnis dan kekuatan senjata yang bisa menghasilkan banyak uang secara
mudah.

Ketekunannya memang membuahkan. Lewat Grup Artha Graha ("Rumah
Uang"), Tommy Winata terbilang mumpuni. Dalam tempo 10 tahun, Tommy
bisa mengembangkan imperium bisnisnya.

Pilar bisnisnya adalah properti dan keuangan. Di bawah payung PT
Danayasa Arthatama, imperium bisnisnya menjadi jaring bisnis yang
terdiri atas 16 perusahaan.

Bos Grup Artha Graha ini punya tiga kunci sukses: uang, kekuasaan dan
militer. Perpaduan yang menghasilkan power apa saja dan menghasilkan
apa saja.

Karena itu, soal kedekatan Tommy dengan kalangan militer, bukan
rahasia lagi. Laporan yang disusun Data Consult mengindikasikan bahwa
ekspansi bisnis grup ini memperoleh dukungan dana besar dari yayasan
milik tentara-khususnya Yayasan Kartika Eka Paksi.

Dari kantornya yang megah di kawasan bisnis Sudirman itu, Tewe-
demikian panggilan akrab taipan ini, dengan mudah bisa menghubungi
hampir semua panglima kodam di seluruh Indonesia-antara lain karena
aktivitasnya di Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat.

Kedekatan Tommy dengan militer sudah terjadi sejak 1972, saat ia
berusia 15 tahun. Mulanya,ia diperkenalkan oleh seorang seniornya
kepada sebuah instansi militer di Singkawang, Kalimantan Barat. Di
sana, Tommy membangun sebuah mess tentara dengan biaya Rp 60 juta.

Hubungan itu kemudian dibina. Selain mess, ia membangun barak,
sekolah tentara, menyalurkan barang-barang ke markas tentara di Irian
Jaya. Hingga akhirnya di era tahun 1970 -an, ia menjadi seorang
kontraktor yang andal dan membangun proyek militer di Irian Jaya,
Ujung Pandang sampai Ambon.

Seperti Liem yang bertemu Soeharto atau Bob bertemu Gatot Soebroto,
Tommy, anak miskin yatim piatu itu beruntung mengenal Jenderal Tiopan
Bernard (T.B.) Silalahi, mantan Sekjen Departemen

Pertambangan dan Energi serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dalam Kabinet Pembangunan VI Soeharto.

Berkait Silalahi-yang hingga kini menjadi tokoh kunci dalam Grup
Artha Graha-Tommy memulai bisnis dengan memperoleh order pembangunan
barak-barak asrama militer di Irianjaya, ketika dia berusia 15 tahun.
Di Irian itu pula dia berkenalan dengan Yorrys Raweyai, Ketua Pemuda
Pancasila-sebuah organisasi yang dikenal memiliki hubungan khusus
dengan militer.

Sejak mengenal Yayasan Kartika Eka Paksi, lewat PT Danayasa Arthatama
yang didirikannya pada tahun 1989, masa keemasan Tommy pun tiba.
Proyek raksasa kawasan Bisnis Sudirman yang dilahirkan Tommy dengan
memakan investasi US $ 3,25 miliar itu bakal menjadi kawasan paling
canggih dan diduga bakal meraup untung miliran juta dollar. Tommy pun
merambah ke bisnis perdagagan, konstruks, properti, perhotelan,
perbankan, transportasi, telekomunikasi sampai real estate.

Akibat kesuksesan kongsi inilah, Tommy andalan militer dalam hal cari
dana. Bisnis Kartika Eka Paksi yang bertalian dengan Artha Graha
menghasilkan keuntungan tak sedikit yang antara lain untuk menghidupi
barak tentar di seluruh negeri dan kegiatan operasi militer.

Kisah kedigdayaan Tommy menuai kontroversi. Sejumlah patner dan
pesaing bisnisnya, menuding Tommy memanfaatkan militer untuk
memudahkannya berbisnis. Seperti dituding Effendi Ongko dari Bank
Umum Majapahit Jaya atau kisah Hartono, muncikari keals nasional
dalam proyek Planet Bali adalah kisah bagaimana cara Tommy mematahkan
lawan bisnisnya.

Belakangan, terdengar kabar, bisnis remang-remang- sebutlah perjudian
di sejumlah sudut di
Jakarta- ataupun di sejumlah pulau di kawasan
pulau seribu, terkait dengan Tommy Winata. Bisnis sampingan Tommy:
perjudian, obat bius, dan penyelundupan sebagaimana dilansir sumber
TEMPO di tahun 1999, mengatakan bahwa Tommy adalah satu dari sembilan
tokoh ("Gang of Nine") dalam bisnis gelap itu-bisnis yang ada bahkan
merajalela, tanpa aparat keamanan pernah bisa memberantasnya. Tokoh
lain dalam bisnis ini, menurut sumber-sumber tadi, meliputi nama-nama
seperti Yorrys sendiri, Edi "Porkas" Winata, dan Arie Sigit Soeharto.

Namun kepada TEMPO saat itu, Tommy menolak dengan tegas disebut
Mafia. Ia juga menolak disebut-sebut sebagai tulang punggung kelompok
ini.

Mantan presiden Abdurrahman Wahid pun dalam sebuah diskusi publik
dengan terang-terangan menyebut bahwa Tommy adalah cukong dari bisnis
perjudian di kawasan Pulau Ayer (di Kepulauan Seribu). Malah dirinya
telah memerintahkan Kapolri saat itu Rusdihardjo dan Jaksa Agung
Marzuki Darusman untuk menutup pulau itu dan menyita kapal pesiar
yang digunakan untuk perjudian ditahan.

"Begitu juga saya dengar, di dekat situ ada kapal laut yang dipakai
untuk berjudi. Lagi-lagi ini melanggar hukum, karena ada cukongnya,
yaitu Saudara Tommy Winata. Saya minta kepada Jaksa Agung untuk
menyita kapal itu dan menangkap Tommy Winata, karena ia melanggar
hukum. " demikian Gus Dur.

Kini, ketika bisnis perjudian bakal dilegalkan dan dilokalisasi, nama
Tommy kembali mencuat. Tak hanya soal bakal ditutupnya sejumlah
tempat perjudian ilegal di sudut Jakarta, tetapi karena telah bertemu
dengan Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati dan Bupati Kepulauan
Seribu, Abdul Kadir di sebuah pulau seribu.

Meski kepada Koran Tempo ia membantah membicarakan soal ini, namun
toh pertanyaan publik tetap saja bakal menganggu. Kenapa pertemuan
digelar di saat sejumlah investor - sebut Bupati Abdul Kadir telah
melirik bisnis ini? wda dari berbagai sumber.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home