Tuesday, March 28, 2006

Gue Dikatain Raja Jelek

Wawancara Tomy Winata:

Source : Gatra.com

FIGUR Tomy Winata tak pernah sepi dari sorotan pers. Nama bos Grup Artha Graha, imperium bisnis bidang properti dan perbankan, itu pekan lalu bertebaran di pelbagai media massa Ibu Kota. Kasus demo sekelompok orang pembela Tomy Winata di kantor majalah Tempo, Sabtu dua pekan silam, berbuntut panjang. Tomy dituding mencederai kebebasan pers lewat aksi premanisme.

Memang, sejak Soeharto lengser, dan dominasi militer dipreteli dari percaturan politik, tudingan miring sering mengarah ke Tomy. Ada yang menyebut pengusaha berusia 45 tahun ini bos judi, beking bandar narkoba, hingga "komandan preman".

Maklum, ketika Orde Baru berkuasa, pengusaha yang tercatat dalam daftar 12 pembayar pajak terbesar pada 1994 ini tegar berkibar. Apalagi, ia dekat dengan keluarga Cendana. Akrab pula dengan petinggi militer, politisi, hingga pentolan preman. Tak mengherankan jika ia disebut- sebut memanfaatkan kekuasaan tentara dan otot preman untuk memperlancar bisnisnya.

Sejauh ini, Tomy tidak membantah hubungan baiknya dengan banyak kalangan. Ia pun tak menyangkal bermitra Yayasan Kartika Eka Paksi milik TNI Angkatan Darat. Salah satu proyek besar yang digarapnya adalah pembangunan Sudirman Central Business District, yang berlokasi di daerah Semanggi, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Hanya saja, Tomy selalu membantah jika namanya dipautkan dengan perjudian, premanisme, dan narkoba. "Itu semua fitnah," kata pengusaha yang suka memakai setelan safari lengan pendek warna gelap itu. Untuk mengonfirmasikan berbagai tuduhan miring yang dialamatkan kepadanya, trio wartawan Gatra, Heddy Lugito, Dwitri Waluyo, dan Koesworo Setiawan, mewawancarai Tomy Winata.

Wawancara berlangsung Rabu malam pekan lalu di rumah Tomy yang mewah, menempati areal sekitar 7.000 meter persegi, di Jalan Pasir Putih Raya, kawasan Ancol, Jakarta Utara. Petikannya:

Banyak orang mengaitkan keberhasilan bisnis Anda karena dekat dengan kalangan militer.

Saya kira begini, ya, tolong dimengerti. Hubungan kerja sama saya dengan Yayasan Kartika Eka Paksi, bukan dengan TNI dalam artian organisasi. Dengan Yayasan Kartika Eka Paksi, saya hanyalah satu partner. Saya juga banyak bekerja sendiri di luar.

Tapi, Anda kan pengusaha yang paling banyak menjalin bisnis dengan militer?

Kami berdagang berdasarkan aturan pemerintah dan berlandaskan hukum. Dan kami tidak melakukan usaha-usaha yang di luar aturan main dan hukum. Kami kan tidak based on power, tapi based on regulation and law.

Selama itu dasarnya, saya kira nggak akan menjadi masalah. Karena kami dulu berusaha dengan yayasan kan dasarnya hukum. Bahwa ada yang cemburu dan iri, ya, silakan saja.

Karena dekat dengan tentara dan polisi, Anda tak terjamah hukum?

Selalu orang bilang saya seolah-olah nggak tersentuh. Kalau saya salah, ya, tetap salah, ditangkap, masuk penjara. Kalau saya benar, ya, tetap saja saya benar. Dan saya bersyukur, negara kita ini, meskipun banyak uji cobanya, masih tetap berjalan di rel hukum.

Jadi, saya kira, kalau kami sampai terkoreksi secara ekonomi, dasar kami tidak bisa menggunakan momentum ekonomi. Tapi, kalau kami memang bisa menggunakan momentum, dan celah-celah bisnis yang kami jeli atau cerdik melihatnya, ya, tetap saja survive. Bukan karena siapa-siapa.

Setelah peran politik militer berkurang, kabarnya sekarang Anda merapat ke Polri?

Nggak benar. Yang kami kerjakan sekarang menyelesaikan pusat rehabilitasi penyembuhan korban narkotika dengan Badan Narkotika Nasional di Pulau Seribu.

Selama ini, tampaknya Anda lebih suka berteman dengan orang-orang yang punya kekuasaan.

Saya kira, melihatnya harus juga dengan kacamata normal dan fair, dong. Saya juga dekat dengan bapak ini (Tomy menunjuk seorang pimpinan majalah Pilar) sebagai tokoh pers. Saya dekat dan berteman dengan semua orang, dari yang paling tinggi sampai paling rendah. Dengan mantan narapidana pun saya berteman dan dekat.

Kedekatan Anda dengan sejumlah tokoh penting itu diperkalukan sebagai apa? Teman atau aset yang bisa membantu kegiatan bisnis?

Saya kira begini, kita sebagai bagian dari sistem bermasyarakat harus berkenalan dengan siapa saja, bergaul dekat dengan siapa saja. Tak kenal maka tak sayang. Nah, setelah kita kenal, bisa kongko-kongko mencari momen. Minimal menjadi narasumber untuk kelancaran (usaha).

Sebenarnya, Anda memandang kekuasaan seperti apa?

Wah, ini lagi. Saya kira, semua orang kan punya kekuasaan. Kekuasaan di lingkungannya, dan saya selalu mencari sumber untuk advis. Saya tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan mereka, baik kekuasaan di birokrasi, nonbirokrasi, maupun kekuasaan sebagai tokoh masyarakat. Itu barangkali yang membuat saya survive sampai saat ini.

Jadi, benar dong kata orang, karena Anda dekat dengan kekuasaan, bisnis Anda aman, lancar dan terlindungi?

Terbalik. Saya aman karena tertib hukum. Coba Anda tanya, ada tidak perusahaan swasta yang punya sampai empat asosiasi law firm seperti dalam grup kami. Yang sembilan afiliasi, anggota lawyer-nya ada 30-an. Jadi, hampir semua langkah saya dijaga sistem hukum yang benar. Itulah yang membuat seolah-olah kami tidak tersentuh, karena memang tidak ada yang perlu disentuh.

Anda banyak mempekerjakan mantan militer. Apa pertimbangannya?

Pertanyaan ini agak menjurus dan sedikit tidak fair. Apa pun persoalan seseorang, setelah dia laksanakan dan dia pertanggungjawabkan, maka apakah berarti hak perdatanya hilang? Apakah dia tidak boleh dipekerjakan? Kalau kemudian dia frustrasi, sakit dan meninggal, atau apa yang kemudian melakukan tindakan ilegal, apakah itu yang dikehendaki?

Berapa banyak orang dari kalangan militer yang bergabung dengan Anda?

Saya kira, kalau militer masih aktif tidak ada. Bapak-bapak itu bergabung sama kami setelah pensiun. Ada 600-an dari berbagai instansi.

Tentu banyak pula jenderal, bintang satu, dua, atau malah ada yang bintang empat?

Tidak ada-lah. Kami di sini tidak ada bintang- bintangan. Yang kelas perwira aja hampir 600-an, dan saya minta mereka lepas atribut. Jadi benar- benar kami duduk sebagai anggota masyarakat biasa.

Tapi, ada juga kan anggota militer yang masih aktif bergabung dengan Anda. Jenderal Hendropriyono, misalnya, bergabung ke KIA Motors, perusahaan milik Anda?

Pak Hendro, waktu bergabung bersama kami, nganggur, non-job, dan beliau sudah purnawirawan.

Belum pensiun. Pada waktu itu militer aktif, kan?

Sudah pensiun. Sudah purnawirawan. Atau kalau tidak, sudah mendapat surat izin penyaluran. Jadi, Pak Hendro waktu itu sudah masuk masa persiapan pensiun. Sekarang malah saya jarang ketemu.

Beberapa anggota Kopassus bekas personel Tim Mawar-nya Letnan Jenderal Prabowo Subianto juga Anda tampung?

Wah, saya nggak hafal. Bisa saja ada. Pokoknya siapa saja yang sudah pensiun. Yang katanya korban Tim Mawar juga ada. Pokoknya begini, gue ini PT dagang, bukan PT politik. PT kompak bukan PT pro- kontra. Selama lu dagang dan kompak, boleh masuk ke PT gua.

Selain menampung mantan militer, Anda juga mempekerjakan bekas penjahat. Kabarnya, mantan tokoh preman Slamet Gundul juga bekerja di tempat Anda. Mengapa Anda mempekerjakan preman atau setidaknya mantan preman?

Apa pun kejahatan yang dilakukan seseorang itu kan tidak menghilangkan hak perdata dia. Itu satu. Kedua kita lihat ini orang dulu salah jalan atau melakukan tindakan-tindakan yang kurang tepat, akibatnya melanggar hukum. Karena apa? Karena memang jiwanya penjahat atau lingkungannya yang memaksa dia jadi penjahat?

Karena menampung pelaku kriminal dan preman itu, kemudian Anda dijuluki..?

Apa? (Tomy memotong pertanyaan Gatra) Raja Preman? Apa lagi? Sebut saja semua gelar yang jelek-jelek itu untuk saya.

Iya, ada yang menyebut Anda sebagi raja preman, raja judi, beking bandar narkoba?

Saya disebut begitu. Selama masih disebut-sebut, gue nggak pikirin.

Yang dipikirin yang seperti apa?

Kalau sudah membuat opini. Akibatnya, saya terancam keselamatan fisik, dan jiwa saya, itu baru mulai saya pikirin. Kalau baru katanya orang bilang, setan lu, preman lu, emangnya gue pikirin. Biar aja lah, capek.

Bekas penjahat narkoba juga Anda tampung?

Oh, tidak. Bekas bandar narkoba dan bekas pemerkosa, saya tidak. Nah, itu dua. Jadi, pemerkosa sama narkoba. Entah kalau kecolongan, tolong beritahu saya. Tapi, saya usahakan itu tidak ada.

Kenapa?

Ya, begini, ya, obat itu kan kambuhan, susah dihilangkan. Kalau pemerkosa, itu kan sudah penghianatan, sudah moral.

Kabarnya Anda terkait dengan soal perjudian di Batam?

Begini, kita nggak usah munafik. Anda silakan melakukan cek ke sana. Saya buatkan surat kuasa, kalau bener ada yang bilang, barang tersebut saya punya, langsung you ambil sahamnya. Ambil saja duitnya, kita bagi dua.

Sejumlah karyawan tempat judi ilegal di Jakarta yang kami wawancarai bilang, tempat judi itu, katanya, dibekingi Tomy Winata. Benarkah Anda membekingi tempat judi ilegal itu?

Itulah dia orang yang iri pada saya, dan suka memfitnah. Nah, mulai besok, gue bilang tempat itu dibuka karena Anda bekingnya, ha, ha, ha....

Apa saya nggak bisa bilang juga bahwa ini bekingnya Gatra? Begini, kita kan sepakat dalam era reformasi ini. Dalam era pembangunan hukum semuanya berdasarkan asas pembuktian dan hukum. kalau konon dan katanya, ya kasihanilah orang yang selalu ditekan dengan konon.

Anda juga di kabarkan membekingi Ang Kiem Soe, pemilik dua pabrik ekstasi yang dulu tertangkap di Hotel Borobudur?

Itu fitnah lagi. Bukankah, orang yang menuduh sudah meralat tuduhannya. Semuanya sudah selesai. Ada ralat dari kepolisian dan sudah diklarifikasi.

Jadi Anda mendengar dan mengetahui, kalau selama ini dituding atau dicap macam-macam?

Kalu cuma sekadar tuduhan, hampir tidak ada gelar yang tidak ditempelkan di badan saya.

Dan semuanya jelek ya?

Ya pokoknya gue ini, dikatain, raja jelek lah. Ya sudah biarin saja. Tapi ukurannya sekarang begini. Ada satu orang hanya memberi cap tanpa dasar hukum. Cuma fitnah. Seberapa besar sih, orang yang memberi cap itu mampu membuat economic growth? Berapa besar dia sanggup nampung orang, dan dia jamin dikasih makan sehari 3 kali sehari?

Tapi sebagai pengusaha sukses, nama Anda sering dikaitkan soal judi dan preman?

Begini. Ini buah simalakama. Saya anggap, semua tuduhan itu sebagai ibadah sosial. Jadi saya harus menanggung isu-isu orang dengan selera-selera kesirikannya, karena saya mengajak mantan penjahat ke rumah saya.

Tapi, kalau mereka tidak kita kasih pekerjaan, lantas siapa yang mau memberi pekerjaan? Apa kita biarkan mereka melakukan kejahatan? Kalau cuma difitnah karena mempekerjakan bekas narapidana, biarkan saja-lah. Pada saatnya, kebenaran bisa dikalahkan, tapi kebenaran tidak bisa disalahkan.

Apakah Anda bisa mengontrol mereka? Sebab, menurut cacatan kami, ada sejumlah kasus yang disebut-sebut melibatkan orang Anda. Dulu ada yang mendemo Majalah Forum, karena Forum memuat berita buruk tentang Anda. Dan yang terakhir kasus demo di Kantor Majalah Tempo.

Begini Pak. Saya juga protes, saya juga minta, tolong dong Pak kalau bener orang saya, orang- orang itu ditangkap. Buktikan unsur kesalahannya. Kalau memang ada data dan bukti-bukti yang mengaitkan kepada saya, tolong ditangkap.

Kami mendapat informasi seorang yang mengaku bernama David Tanjung mengirimkan proposal kepada Pemda DKI untuk merenovasi Pasar Tanah Abang yang terbakar. Di dalam proposal itu disebutkan bahwa biayanya dari Bank Artha Graha, milik Anda. David Tanjung itu orang Anda ya?

Tidak ada itu David Tanjung. Saya nggak kenal.

Anda tertarik merenovasi Pasar Tanah Abang?

Tanah Abang, saya tidak pernah tertarik. Nggak pernah terpikir. Jadi benar-benar saya mikir saja tidak. Sebelum kebakaran, saya tidak pernah mikir. Setelah kebakaran saya pikir aduh kasihan. Apa yang kita bisa bantu. Sebagai manusia, saya tidak mencari keuntungan di atas penderitaan orang.

Kembali ke soal bisnis Anda. Kabarnya beberapa nama yang dikaitkan dengan Anda. Mereka disebut gank of nine?

Saya katakan, gank of nine itu hanya julukan, tidak pernah dilantik. Tolong dilantik buruan!

Tapi orang-orang yang disebut gang of nine, itu kan dekat dengan Anda. Mulai dari Yorrys, Sugianto Kusuma, Arief, Iwan Cahyadi, Johnny Kusuma, Edi Porkas, Kwee Haryadi Kumala alias A Sie, dan Ari Sigit juga masuk di situ?

Memang sebagian saya kenal, sebagian tidak. Ya kalau Pak Aguan (Sugiyanto Kusuma-Red.) kan senior saya. Iwan kan partner saya di KIA Motors. Dengan Arief cuma kenal-kenal kerbau. Edi Porkas, kenal dia beberapa tahun.

Kalau Haryadi Kumala atau A Sie, dulu pernah ketemu, waktu acara binis di sebuah hotel. Gua ditawarin kavling di Sentul, disuruh beli. Tapi saya nggak beli.

Kalau dengan Yorrys?

Yorrys memang teman. Teman jaman masih tahun 1975. Dia masih kerja di showroom Phillips Protelium. Saya juga di daerah situ. Kita sama-sama masih jadi gembel, masih susah-susah. Kita berteman, berantem, berkelahi. Akhirnya terpisah. Eh balik-balik ke sini dia udah jadi anggota PP. Berteman begitu aja, nggak pernah ada koalisi aneh-aneh.

Dengan Ari Sigit?

Ari Sigit saya ketemu sekali waktu dia bikin ulang tahun di Borobudur. Tapi, udah beberapa tahun yang lalu.Tidak ada hubungan dagang. Maunya ada hubungan dagang, biar cuan-nya banyak. Karena saya dengar semua yang gabung dengan Mas Ari Sigit itu cuan-nya banyak.

Belakangan ini, Anda melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Indonesia Timur. Apa sih sebenarnya yang lagi dikerjakan?

Sulawesi Tenggara itu tempatnya besar, penduduknya sendiri tidak sampai 2 juta. Kabupaten Kendari sendiri hanya 800.000, Ibu Kota Kendari hanya 200.000 lebih. Potensi alamnya banyak yang belum tersentuh.

Masyarakat rajin dan punya dedikasi, dibuktikan dengan tidak ada pengemis. Indonesia timur itu adalah bagian dari masa depan bangsa ini.

Berapa besar investasi Anda di sana?

Secara equity saya kira sekurang-kurangnya Rp 300 milyar. Utuk bidang perkebunan, infrastruktur. Ya macam-macam-lah. Sawit, tebu, bakau, mete, rotan. Bahan bakunya diolah di sana agar punya nilai tambah dan masyarakatnya punya lapangan pekerjaan. Nah itu lah konsep yang kami buat. Mudah-mudahan tidak ada halangan.

Benar anda punya bisnis di Morowali senilai Rp 23 milyar?

Iya, marmer. Baru mulai.

Membangun jalan dari Kendari ke Morowali?

Itu kan jalan penting untuk mengangkat ekonomi rakyat. Karena hasil bumi rakyat di Morowali menjadi murah. Kalau jalan itu dibuka, akan bisa terangkat dengan baik. Kalau pemerintah, ya, kita bisalah secara barter atau gimana.

Nah karena bisnis ini, Anda membangun asrama Batalyon 711 TNI Angkatan Darat di Poso?

Ngga ada.

Bisnis di Indonesia Timur itu karena restu dari Presiden Megawati?

Restu? Apakah kalau nggak ada restu kita nggak boleh dagang? Saya mengenal Ibu Mega karena beliau presiden kita. Apakah investasi di Indonesia Timur itu, kalau tidak ada restu dari Bu Mega, tidak boleh?

Tidak restu dari Megawati, tapi dari Taufik Kiemas ya?

Lho, jangan fitnah lagi. Fitnah lagi.


[Laporan Utama, GATRA, Nomor 18 Beredar Senin 17 Maret 2003]





0 Comments:

Post a Comment

<< Home