Tuesday, March 28, 2006

Belitan Naga Sampai ke Jenderal

From: "O'sama bin Titan" <anti_teror@hotmail.com>
To: apakabar@radix.net
Subject: JUDI: Antara Olo Panggabean, Tommy Winata, Jenderal Tengik dan MUI
Date: Tue, 15 Jan 2002 17:09:49 +0700

Jaringan Sembilan Naga menembus berbagai daerah di Indonesia. Upeti untuk
pejabat militer, kepolisian, atau pemda, membuat bisnis ini kian kuat.
Jarum jam sudah bergerak ke angka 01.00 WIB, Sabtu dini hari. Malam pun kian
larut dan menebar hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun,
beberapa sudut Kota Jakarta tetap saja "panas" dan berdenyut. Sebuah siklus
sosial yang tetap hidup. Jakarta memang tak pernah "mati" dari kehidupan
malam, terutama bagi mereka yang doyan dengan dunia hiburan dan perjudian.
Datanglah ke Kabuki, Hotel Prinsen Park, Kawasan Lokasari di Jakarta Barat.
Lalu, Pelangi dan Raja Kota di Jalan Hayam Wuruk, termasuk Raja Mas di
Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Siapa pun bisa gambling dan mengadu nasib di
tempat usaha milik Rudi atau kalangan penjudi sering memanggilnya dengan
sebutan Rudi Raja Mas. Cukup dengan menitipkan Rp 1 juta di pintu masuk
sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam.
Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya.
Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin mickey mouse. Puluhan
pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan
cepak. Kabarnya, dari tiga lokasi perjudian itu, Rudi bisa menyedot Rp 5
miliar dana segar per malam. Hitung saja kalau di dikalikan 30 hari. Maka,
tak kurang dari Rp 150 miliar per bulan.
Hatta, berjudi bukanlah hal yang sulit di Jakarta. Riwayatnnya memang sudah
ada sejak zaman Belanda. Setelah Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan izin judi
pada pertengahan tahun 1967, berlombalah orang membuka bisnis yang menurut
ajaran agama tergolong haram jadah.
Ketika itu para penjudi alias junket sudah menghambur-hamburkan rupiah di
beberapa lokasi perjudian. Misalnya di Petak IX, Copacobana, Jakarta
Theatre, dan Lofto Fair Hailal. Muncullah beberapa pengusaha Indonesia
keturunan Cina yang jadi primadona di bisnis ini. Sebut saja Yan Darmadi.
Semasa Gubernur Ali Sadikin, Yan berhasil meraup Rp 1,5 miliar. Selain
memiliki saham di empat lokasi perjudian tadi, Yan juga disebut-sebut
membuka kasino di Surabaya pada tahun 1980. Konon, seperempat penerimaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Buaya itu berasal dari
Yan Darmadi.
Tapi, kondisi tersebut tak lama bertahan. Setahun kemudian (1981), Gubernur
DKI Jakarta Tjokropranolo mencabut kembali izin tersebut. Toh, jaringan
mafia judi di Jakarta bukannya terputus, melainkan malah meluas ke seluruh
Indonesia dalam konfigurasi Sembilan Naga. Jaringan ini mirip dengan Triad
di Hong Kong dan Makau. Merekalah yang menguasai dan mengatur lokasi
perjudian. Mereka membentuk satuan "pengamanan" yang mengikutsertakan jasa
centeng amatir sampai jenderal profesional.
Kini ada sedikitnya 44 lokasi perjudian di Jakarta (lihat tabel). Mulai dari
kelas kakap hingga kelas teri. Dari yang terbuka, seperti toto gelap
(togel), sampai yang tertutup (kasino dan rolet). Semua itu bertebaran di
setiap sudut Jakarta. Sementara kota-kota besar lainnya, seperti Medan,
Riau, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Manado, juga tak kalah
gesit.
Menurut mantan raja judi Anton Medan, tempat bermain judi terbesar di
Jakarta kini ada di Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di situ, beberapa
bandar besar seperti Tomy Winata, Engsan, Yasmin, Chandra dan David
berkolaborasi membangun usaha dan jaringan. Baik untuk wilayah Jakarta
maupun seluruh Indonesia. Termasuk pengaturan upeti bagi sejumlah oknum
pejabat tinggi TNI, Polri, Pemda DKI, ormas pemuda dan kemasyarakatan, serta
wartawan. Dari lokasi itu, para bandar bisa meraup Rp 10 miliar-Rp 15 miliar
per malam. Setelah dipotong modal pemilik saham, sisanya di bagikan ke
seluruh jaringan pengamanan tadi. Ada yang per sepuluh hari, per bulan, atau
per minggu.
Untuk Jakarta, ada sejumlah nama dan kawasan perjudian potensial yang bisa
disebut sebagai jaringan "Sembilan Naga" tadi. Selain Tomy Winata, Engsan,
Yasmin dan David, masih ada Apow, pemilik rumah judi mickey mouse (MM) di
Pancoran (Glodok), Jalan Boulevard (Kelapa Gading), Kasturi di Mangga Besar,
Ruko Blok A di Green Garden serta di Jalan Kejayaan, Jakarta Barat. Nah,
dari tiga lokasi itu, ia minimal meraup Rp 2 miliar setiap malam.
Di beberapa lokasi lain, Apow juga membangun jaringan usaha sejenis dengan
Juhua dan Ali Oan di Asemka, Jakarta Barat, serta di Jalan Gajah Mada,
Jakarta Pusat. Setingkat Apow, ada Rudi Raja Mas. Nah, taipan ini tergolong
hoki. Lokasi kasino, rolet serta MM-nya terletak di Stadium dan Pelangi di
Kawasan Hayam Wuruk. Kabuki Hotel Prinsen Park di Lokasari, Jakarta Barat,
serta di Jalan Kunir, Jakarta Utara, termasuk yang di Pulau Ayer, juga mulai
membawa keuntungan besar baginya. Kabarnya, dari semua itu, ia bisa menarik
Rp 10 miliar per malam.
Rudi tak sendirian. Untuk usaha di Pulau Ayer misalnya, ia menggaet Haston,
Arief, Cocong, Edi P. dan Umar. Sementara untuk lokasi di kompleks perjudian
kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Rudi bekerja sama dengan Tomy Winata,
Arief, dan Cocong.
Dibandingkan dengan lokasi perjudian lain di Jakarta, gedung berlantai dua
di Jalan Kunir I ini relatif agak sulit ditembus, terutama bagi mereka yang
belum akrab dengan "kaki tangan" pemilik lokasi itu. Selain ditutup dengan
pagar seng, tempat usaha itu juga dikawal puluhan tukang pukul.
Nah, dari sejumlah lokasi perjudian yang ditelusuri FORUM, permainan kasino
memang relatif banyak diminati penjudi. Permainan ini menggunakan piringan
berlubang-lubang kecil yang dapat diputar dan dilengkapi dengan sebuah bola
kecil. Setiap pemain memasang koin di meja berangka 0-38, yang terbagi dalam
tiga bagian berdasarkan kelipatan bayarannya. Bagi pemilik koin yang
angkanya sama dengan tempat bola, ialah sang pemenang.
Selain jaringan "Sembilan Naga" yang bermarkas di Jakarta tadi, di pentas
judi nasional ada beberapa nama lainnya yang juga termasuk dalam jaringan
tersebut. Misalnya Wang Ang (Bandung), Pepen (Manado), Dedi Handoko (Batam,
Tanjung Pinang dan sekitarnya), Jhoni F. (Surabaya), Olo Panggabean (Medan
dan Aceh), dan Firman (Semarang). "Mereka inilah yang menguasai jaringan
mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, kabarnya sudah masuk
dalam jaringan mafia judi Hong Kong dan Singapura," kata sumber FORUM di
Markas Besar Polri.
Pasar Atom, Andika Plaza, dan Darmo Park merupakan daerah perjudian elite di
Kota Surabaya. Jenisnya kasino dan bola tangkas. Tapi, tak semua orang bisa
masuk ke arena itu karena dijaga ekstra ketat. Salah satunya dengan memakai
sistem "kartu anggota".
Selain Jhoni F., kabarnya YE alias W, yang dulu tak aktif, kini kambuh lagi.
Malah, ia kembali menjalin hubungan dengan Rudi Raja Mas dan Chandra di
Jakarta. Rata-rata per bulannya, omzet yang masuk minimal mencapai Rp 5
miliar. Sementara di beberapa kota besar di Sumatra, seperti Medan,
Pekanbaru, Palembang dan Jambi, judi buntut sudah beroperasi selama puluhan
tahun tanpa hambatan berarti dari aparat keamanan. Di Medan, misalnya,
bisnis yang paling terkenal adalah kupon togel Singapura serta permainan
judi KIM yang dikelola Olo Panggabean. Mereka mengedarkan kupon-kupon
melalui agen setiap Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu. Dalam sekali putaran,
Olo kabarnya menerima bersih sekitar Rp 2 miliar.
Operasi mereka berjalan lancar-lancar saja. Kalau pun ada gertakan dari
pemerintah, biasanya tak lama kemudian akan "aman" lagi. Pernah sekali
waktu, para bandar judi sempat kaget ketika pada Mei 2000, Preiden
Abdurrahman Wahid--waktu itu masih berkuasa--menuding Tomy Winata sebagai
dalang judi di atas kapal pesiar. Namun belakangan tudingan itu ditarik
melalui Jaksa Agung Marzuki Darusman. Pemilik kapal itu, kata Marzuki,
adalah Rudi Susanto. Ialah kabarnya yang menggelar perjudian di atas kapal
pesiar di lepas pantai teluk Jakarta yang menghebohkan itu.
Sumber FORUM menyebutkan, sekali berlabuh, usaha Rudi Susanto tadi bisa
mencetak duit sedikitnya Rp 500 miliar bersih. Sayangnya, banjir rupiah yang
didapat para bandar judi seperti Rudi Susanto dan kawan-kawannya, jarang
sekali disimpan di Indonesia. "Setelah itu, mereka beli dolar dan langsung
mentransfer ke salah satu bank asing di luar negeri," kata sumber FORUM di
Bursa Efek Jakarta.
Maraknya praktek perjudian di Indonesia tentu tak terlepas dari sebuah
riwayat hitam bangsa ini. Apiang Jinggo alias Yan Darmadi adalah pemilik
Peta Sembilan dan Kopabana, dan boleh dibilang sebagai raja judi pertama
(era Orde Lama). Apiang memang sempat berkibar beberapa tahun, saat Ali
Sadikin melegalkan judi di Jakarta. Namun, setelah keluar kebijakan
pemerintah yang melarang judi, bisnisnya kabarnya sempoyongan.
Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Meski ada larangan, operasi bawah
tanah tetap saja jalan. Nah, generasi kedua, diwarisi Robert Siantar dan
Abah. Sedangkan Sie Hong Lie, Liem Engsan alias Hasan, Apyang alias Atang
Latif, serta mendiang Nyo Beng Seng alias Darmansyah, termasuk Anton Medan
sendiri, adalah generasi ketiga. "Waktu itu saya menguasai tujuh lokasi di
Jakarta. Sisanya di Batam, Jambi dan Medan," kata Anton Medan. Sedangkan
Tomy Winata, Rudi Raja Mas, dan sederet nama lainnya tadi adalah pewaris
generasi keempat.
Di luar nama-nama tadi, masih ada tokoh lain yang beroperasi sampai ke
mancanegara.
Sebut saja Sie Hong Lie, ia memiliki usaha judi Lotere Phom Penh di Kamboja.
Juga peternakan, pacuan kuda, serta bukit timah di Singapura dan Penang,
Malaysia. Selain itu, ia memiliki dua kapal pesiar, Delfin Star dan Lido
Star, yang bermarkas di Singapura.
Ada lagi nama Apyang, selain mengelola judi di Chrismast Island, Australia,
bersama Robby Sumampouw, ia juga membuka bank, properti, dan hotel di
Jakarta. Sementara mendiang Nyo Beng Seng punya jaringan judi di Genting
Highland (Malaysia), Las Vegas (AS), Macau dan Perth, Australia. Usaha di
Indonesia adalah perusahaan rekaman Irama Tara.
Mengapa mereka bisa begitu aman dan kuat?

Menurut Anton Medan, semua itu tak terlepas dari jaringan pengamanan alias
beking yang dibangun. Biasanya, setiap pergantian pucuk pemimpin TNI, Polri
atau Gubernur DKI, para gembong itu kerap mencari jalan masuk sebagai
partner. Maklum sajalah, sebagai pemimpin, tentu mereka membutuhkan dana
operasional yang tak sedikit. Nah, pundi yang paling aman dan sulit terlacak
adalah dari sektor 303 ini.

Uang yang mirip-mirip dana nonbudgeter bagi para pemimpin TNI, Polri, Pemda
DKI, tokoh ormas dan OKP, termasuk wartawan, itu justru ada di bandar 303
ini. Akses ke para petinggi itu tidaklah sulit. Sebab, begitu ada sinyal mau
dipromosikan sebagai salah satu petinggi, para bandar itu langsung
mengirimkan kurir sebagai salam perkenalan. Hubungan itu terus terjalin
secara alamiah pula. "Makanya, mustahil kalau ada jenderal yang bilang tak
pernah makan duit judi," kata Anton.
Upeti yang disalurkan juga tergolong tak sedikit.

Untuk oknum perwira tinggi TNI dan Polri misalnya, perbulan Rp 15 miliar.
Sementara setingkat di bawahnya Rp 10 miliar. Turun ke bawahnya lagi, Rp 5
miliar. Begitulah seterusnya. "Itu belum termasuk permohonan bantuan dalam
bentuk barang seperti mobil dan komputer," ujar sumber di Mabes Polri.
Begitu juga dengan pejabat tinggi di Pemda DKI Jakarta. Masih menurut Anton,
upetinya bisa Rp 10 miliar per bulan. Sementara Ketua OKP dan ormas,
berkisar Rp 200-500 juta per bulan. "Yang berat itu kan dari kalangan
aparat. Mulai dari Polsek dan Koramil hingga jenderal. Dana operasionalnya
lumayan besar," kata salah seorang bandar kepada FORUM.
Makanya, unjuk rasa masyarakat antijudi tak pernah disambut selayaknya.
Maka jangan pernah mimpi, masalah judi tuntas.
Yang perlu dicermati Pemerintahan Megawati sebenarnya ialah, menegosiasikan
Judi dengan tokoh agama. Daripada hasil judi masuk mulut setan-setan backing
judi tadi (cukong, preman dan jenderal korup sebaiknya JUDI dilegalkan saja
di Indonesia) Agar pemerintah mendapat tambahan income tak kunjung kering
yg dapat membangun fasilitas sosial yang digunakan bagi kepentingan rakyat
banyak khususnya yg miskin.

Kita tahu, semua orang ingin matinya masuk sorga.
Nah yang tidak ingin masuk sorga silahkan main judi. Gampang kan?????

0 Comments:

Post a Comment

<< Home