Tuesday, March 28, 2006

ABRI/TNI = the real mafia??

Para Pembaca yth, sebenarnya peristiwa penculikan2, pembunuhan2, penjarahan2, pemerkosaan2 memang tidak asing bagi ABRI, inilah ulah dari jamannya jendral besar( pur ) kita AH Nasution, jendral Mafia Soeharto dan sampai sekarang yang dipimpin oleh jendral Wiranto. ABRI selalu menindas kaum lemah terutama WNI keturunan Cina, yang dijadikan sapi perahan. Apalagi sekarang menjamur yayasan2 ABRI yaitu untuk membiayai kesejahteraan ABRI terutama perwira2 tingginya yang banyak menikmatinya. Mulai kedudukan Camat sampai Gubernur dipegang militer, semakin hari semakin sengsara negara kita diperas militer, se-olah2 tanpa dipimpin militer negara Indonesia akan ambruk.
Bagaimana rakyat akan mempercayainya kalau ABRI terutama oknum2 AD sudah se- wenang2 melakukan penculikan2, pembunuhan2, penjarahan2, terutama pemerkosaan2 yang didalangi oknum2 AD, ini sangat memalukan martabat bangsa Indonesia. Menurut saya tidak heran yang menjadi jendral2 karena KKN tidak perlu adanya disiplin asal setoran pada atasan lancar, inilah yang merusak moral dan mental ABRI.
Lihat contohnya jendral yang menjadi MenPolkam ( Faisal Tanjung ) untuk mendapatkan uang saku saja cukup hanya memanggil pengusaha2 WNI keturunan Cina, beliau main golf dengan pengusaha2 tsb, taruhannya uang yang tidak sedikit, dimana beliau selalu menang taruhannya, inilah cara2 yang halus untuk minta uang.
Siapa sebenarnya penculik2 klas kakap ??? yang tahu hanya perwira tinggi yang mempunyai jalur MAFIA Indonesia, masyarakat sipil hanya dikibuli saja. Siapa yang membuat Bank2 swasta dan Bank Negara bangkrut ? siapa lagi kalau bukan si baju hijau, yang ditonjolkan si Cino ne yo opo ora rek. Pejabat2 sipil tidak bisa berbuat apa2 hanya ikut menanda tangani dan kecipratan hasil korupsi dan kolusinya.
Raja diraja Mafia Indonesia sudah lengser akan tetapi kaki tangannya masih memegang peranan, yang dinamakan pahlawan2 kesiangan sekarang, lihat saja ulah mereka lebih banyak bicara reformasi daripada rakyat biasa dan mahasiswa. Inilah taktik Soeharto yang masih memegang kekuasaan dibelakang layar.
Apakah mampu Habibie memberantas jaringan Mafia ini ? korban terlalu banyak kalau kasus ini diungkapkan di Media. Saya mengusulkan kepada presiden Habibie supaya ABRI yang sekarang dibubarkan saja, membentuk ABRI yang sesuai dengan reformasi, diskrining betul2 untuk mengayomi rakyat. Semoga jendral2 kancil kita tidak lupa diri diatas penderitaan rakyat.

Prihatin,

Anak Berlan

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ ++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 29 Jul 1998 jam 04:20:48 GMT+1 (Waktu Jerman) oleh: Indonesia Daily News Online http://www.uni-stuttgart.de/indonesia/news/

Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO

Oleh: Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO
Prolog


Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan
dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban). Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi
pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut
disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis. Inilah laporan lengkapnya.


Rabu, 5 Maret 2003
Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa hukum Tomy Winata. Ia mengatakan bosnya, Tomy Winata, tak senang dengan tulisan saya di TEMPO edisi Senin, 3 Maret 2003, berjudul Ada Tomy di Tenabang?
Dia tanya, Apakah tulisan itu dibuat BHM (Bambang Harymurti)? BHM itu, kan bekas anak tentara, yang
membenci Tomy Winata, Artha Graha, karena AG diback-up Edy Sudrajat.
Saya bilang, Pada saat tulisan itu jadi BHM sedang berada di luar negeri, di sini kami bekerja dalam sebuah tim kolektif.
Desmon lalu bilang, Akan mengirim surat ke TEMPO. Saya katakan silakan saja. Ia mengatakan, Saya kulonuwun dulu, karena ada senior di sini (TEMPO, maksudnya saya, sebagai aktivis dulunya) untuk mengirim surat atas
permintaan bos/kliennya.

Saya sempat memberi tahu kepada atasan saya di kompartemen nasional, dan beberapa kawan, serta BHM soal rencana Tomy melalui Desmon J. Mahesa akan mengirim surat ke TEMPO.


Jumat, 7 Maret 2003
Desmon kembali, menelepon saya, bahwa ia sudah mengirimkan surat somasi ke TEMPO. Lo, saya kaget juga. Somasi? Saya pikir surat yang dimaksud Desmon
adalah surat bantahan. Saya tanya kapan dikirim?
"Sudah siang ini," jawabnya.
"OK, saya cek," jawab saya.
Baru saya turun ke lantai dua, Wakil Pemimpin Redaksi Toriq Hadad memanggil saya, bahwa ada surat somasi dari Tomy Winata yang baru diterimanya. Saya diminta foto copy untuk mempelajarinya, dan mengumpulkan bahan-bahan untuk
bukti-bukti bila kasus tersebut berlanjut ke pengadilan.
Saya berdiskusi dengan atasan saya di kompartemen nasional. Atasan saya bilang cobalah rayu Desmon dulu, mungkin bisa diselesaikan dengan cara lain.


Kawan saya dari kompartemen lain, Karaniya Dharmasaputra penanggung jawab kompartemen Ekbis & Investigasi, juga berusaha menghubungi seorang sumbernya yang merupakan kawan dekat Tomy Winata. Katanya akan diatur pertemuan dengan Tomy Winata pada Hari Senin, 10 Maret, mungkin caranya dengan memberikan wawancara khusus kepada Tomy yang lebih konprehensif seputar isi berita
sebelumnya. Saya menelepon Desmon, soal somasi itu. Dia mengatakan akan memberikan konprensi pers di Restoran Sari Kuring, kompleks SCBD, Sabtu, 8 Maret 2003,
pukul 11.00 siang. Aku menawarkan kenapa dia tidak mengajukan dulu surat bantahan (yang saya janjikan akan bisa dimuat untuk terbitan mendatang),jadi somasinya enak.
Tapi Desmon bilang, kliennya minta somasi bukan surat bantahan. Lagi pula bantahannya kan sudah termuat dalam berita itu, kata Desmon.

Kalau sudah ketetapannya begitu, saya bilang OK-lah. Bahkan Desmon sempat bilang kirim orang ya ke konprensi pers itu. Saya mengiyakan.

Sabtu, 8 Maret
Sekitar pukul 10.00 saya sedang menghadiri undangan acara penikahan yang juga dihadiri Wakil Presiden Hamzah Haz di daerah Condet, Jakarta Timur. Saya ditelepon seseorang teman seprofesi. Eh, Tomy marah besar sama TEMPO
soal berita Tanah Abang itu.
O ya terima kasih, kata saya dan menceritakan soal somasi dan konprensi pers Desmon, hari ini (Sabtu/11/03). Telepon terputus. Tak lama kemudian sekretaris redaksi menelepon, Pik, tolong ke kantor segera, di sini belum ada orang. Polisi sudah banyak di depan katanya, orang-orang Tomy Winata
akan mendemo kantor TEMPO.
Acara pernikahan belum seluruhnya selesai, saya langsung pulang setelah mencicipi sedikit nasi kebuli. Saya berjalan kaki mencari taksi di Jln raya Condet, sunguh sulit, jalan macet. Akhirnya setelah berjalan kaki 15 menit,
saya melihat taksi Blue bird kosong, saya memberi tanda ia untuk memutar arah.
Saya akhirnya naik taksi itu sampai ke kantor, memang polisi sudah ada 2 truk, sedang bersiap-siap di dalam pagar TEMPO untuk pengamanan. Saya ke lantai 3 untuk mengecek e-mail, sambil beberapa kali melihat ke jendela dari
atas ke bawah lapangan parkir. 15 menit kemudian, saya lihat sekelompok orang (mungkin masih 100-an orang) bertampang sangar menggoyang-goyangkan
pagar gerbang TEMPO. Mereka juga berteriak-teriak, Tutup majalah TEMPO, Cabut Izinnya, bakar, tangkap dll. Saya berbekal foto copy surat kuasa Tomy Winata dan somasi yang dikirimkan Desmon, menuju ke bawah, saya berada di
belakang polisi sambil melihat-lihat aksi itu, saya merasa masih biasa-biasa saja, walapun mereka bertampang sangar dan teriak-teriak. Saya bilang kepada salah seorang polisi (kalau saya lihat saya ingat orang itu),

Saya minta perwakilan 2 atau 5 orang untuk masuk ke kantor kami.Namun, polisi tersebut mengatakan, Sudah, bapak ke depan saja, beri penjelasan kepada mereka.
Akhirnya dengan baca bismilllah, saya ke depan, saya berpikir akan aman, toh polisi sudah lebih banyak dari mereka (namun saya baru sadar belakangan semua polisi berada di balik pagar, di dalam halaman kantor TEMPO). Di depan
massa, saya berkata, Saya sekarang yang sedang bertanggung jawab di kantor ini, saya akan memberi penjelasan, kata saya sambil membawa kertas surat
kuasa Tomy dan Somasi Desmon. Namun yang terjadi saya ditarik-tarik, ada 4 orang menarik-narik saya ke arah tengah-tengah massa, seorang lagi yang berada di dekat pagar menarik kerah baju saya (orangnya kurus gondrong, dan
terus ada sampai di kantor Polres). Saya ditarik-tarik, tanpa ada yang menolong, di depan pagar yang ada polisi, saya bilang, Buka, buka tolong selamatkan saya. Tapi pagar tidak dibuka (mungkin polisi punya alasan lain, takut massa masuk juga).


Saya sungguh ketakutan, peci putih saya pinjaman ipar saya yang saya kenakan sejak acara pernikahan melayang dari kepala saya, entah siapa yang mengambilnya. Saya melihat pintu kecil di pinggir gerbang terbuka, jaraknya hanya 1,5 meter dari tempat saya ditarik-tarik. Saya berontak dari massa dan kabur terseok-seok (Alhamdulillah berkat tangan Allah padahal saat ditarik-tarik saya sudah hopeless). Jari tangan saya berdarah terluka, entah kena apa? Sampai di dalam gerbang karena terjatuh, dua orang polisi dengan
tongkatnya dari kerumunan itu berusaha akan menggebuk saya, tongkat sudah diayunkan, tapi hanya jarak dekat tongkat itu tertahan, seorang atau lebih kawannya saya dengar mengingatkan eeee, itu bukan. Lalu polisi yang akan
menggebuk saya, secara sekilas minta maaf, Maaf ya, saya kira demonstran, katanya.
Saya sudah tak mendengar lagi, karena pikiran saya sudah mulai kalut. Saya ingat beberapa kawan TEMPO hanya melihat dari kaca di lantai 3 dan beberapa lainnya dari dalam pagar. Lalu saya minta kepada seorang polisi, yang lain (bukan yang menyuruh saya ke depan massa), saya minta perwakilan mereka 2 sampai 5 orang saja, saya
akan menerima mereka, mendengarkan keluhan yang akan disampaikan dan memberi penjelasan. Saya lalu membawa mereka ke lantai 3, bahkan seseorang di antaranya (belakangan saya tahu bernama Guntur Medan), mengatakan wah capeknya nih naik tangga. Saya bilang ya, berbeda dengan kantor Tomy Winata yang naik lift itu. Saya bawa ke ruang rapat lantai 3 yang sialnya masih terkinci, tapi belum 2 menit, ruangan itu sudah dibuka oleh pegawai TEMPO.
Saya sempat basa-basi menawarkan minum air, teh atau kopi, tapi mereka bilang tak perlu. Saya bingung, demontran yang datang bukan dua sampai 5 seperti yang saya minta, tapi belasan orang, saya lihat polisi (saya ingat
tampangnya) menyuruh mereka masuk.
Saya Tanya siapa saja mereka kok, banyak, saya berpikir kawatir kantor ini diacak-acak, atau ada barang-barang yang hilang maklum kantor sepi dan tak jelas siapa yang datang masuk ke kantor. O,o mereka wartawan, jawab polisi
itu. Ternyata yang berada di dalam ruang rapat belasan orang adalah para pendukung demo itu, ada beberapa polisi, saya di temani Abdul Manan, yang duduk di sebelah kiri saya, seorang bagian umum TEMPO, belakangan saya lihat
ada seorang lagi dari TEMPO Bahasa Inggris. Beberapa kawan TEMPO lain tampak berada di luar ruang rapat.
Saya minta apa keluhan mereka. Saya mengenalkan nama saya, dan kebenaran saat itu saya bilang saya yang bertanggung jawab, karena yang lain sedang tidak ada, karena hari Sabtu. Seorang (yang belakangan bernama Yosep, menggertak tidak ada orang atau sengaja diliburkan karena tahu kami akan datang?) Saya bilang sekarang Hari Sabtu, yang masuk hanya yang piket saja, dan orang yang belum selesai tulisannya. Akhirnya debat yang tak perlu itu
putus. Seorang yang bernama Teddy Uban (tangan kanan Tomy Winata), lelaki berambut putih berbicara nyerocos, marah-marah. Bahwa TEMPO menulis hal yang tidak benar, akibat tulisan itu kantor Bank Artha Graha di Jln.Jayakarta dilempari telor, Pak Tomy juga diteror, bahkan Hari Senin,
sejumlah pedagang korban kebakaran Pasar Tanah Abang akan menyerbu kantor Arta Graha di Jln. Jendral Sudirman.

Kalau nggak percaya gua telepon Kapolda nih, mau? kata Teddy.

Ya, silakan saja, kataku. Dia tampak berusaha menelepon, saya nggak tahu
apakah benar menelepon Kapolda itu atau cuma gertakan.

Beliau sedang acara acara nggak bisa diganggu, kata Teddy. Sejumlah orang pengikut Tomy, di dalam ruang rapat berteriak-teriak mengompori, sahut menyahut, bagi saya itu
biasa terjadi, dalam rapat-rapat. Sudah cukup, saya bilang, Saya akan menjelaskan persoalannya. saya katakan, Saya sudah terima somasi dari Pak Tomy melalui pengacaranya Desmon, bahkan hari ini kabarnya akan ada konprensi pers, kami terima keluhan anda, kami juga sedang berusaha menemui Pak Tomy, rencananya hari Senin, sekarang kabarnya Pak Tomy sedang berada di Kendari. Saya terima keluhan anda.
Belum selesai saya omong Teddy sudah menyahut kembali, kamu kan penulisnya,
kami minta siapa sumber Anda, hayo sebutkan sekarang, tunjukkan kalau Anda
katakan Anda akan aman, akan kami amankan.
Saya bilang, ada prosesnya seperti yang sudah ada dalam somasi ini, kata
saya menunjukkan somasi, apa pun ada prosedurnya, orang bersalah juga tidak
langsung dimasukkan ke penjara, tapi ke polisi dulu diproses, ke kejaksaan
lalu ke pengadilan baru masuk ke penjara.
Ah, lu wartawan taik semua, lu nulis begitu UUD, ujung-ujungnya duit, abis
nulis lu dekati bos gua minta duit, taik lu,  kata Teddy sambil jalan-jalan
di seberang meja, tak lagi duduk.
Eh... Anda jangan begitu ini penghinaan, mana buktinya, TEMPO tidak seperti
yang Anda sebutkan, kata saya.
Eeee lu ngomong bolak balik bisa aja, katanya emosi sambil mengambil tisu
kotak kayu dan dilemparkan ke kepala saya, saya tangkis, rupanya kena kawan
saya Abdul Manan yang berada di sebelah kiri saya, kena pas di tengah antara
mata, dan hidung, luka berdarah, seorang bagian umum mengambil betadin dan
mengelapkan betadine ke luka itu, tangan saya yang luka bertambah berdarah, setelah menangkis itu, dan sambil menjulurkan jari tanda minta diberi betadine juga.
Lo, kok dikantor saya main kekerasan begitu, kata saya kepada polisi yang berdiri di sebelah kanan saya, yang diam saja. Saya langsung menelepon BHM,
Udah deh kalau begitu saya telepon atasan saya.
Panggil kesini segera, kata Teddy dengan suara keras.
Seorang yang bernama Yosep menyela bicara, Kamu tahu pimpinan kami di Kendari, berarti kamu mengkuti kemana saja bos kami pergi ya?


Situasi tak jelas karena banyak yang omong namun yang dominan Teddy, Yosep yang menekan-nekan dan yang lain bersahut-sahutan. Saya telepon BHM, sempat saya pada telepon pertama karena saya punya nomor
yang lama. Lalu saya telepon lagi, dan bilang saya tak bisa mengatasi situasi, saya keluar ruang bertemu dengan Kapolsek Menteng. Saya tanya, Bagaimana nih Pak Kapolsek? Gimana ya selesaikan dong, kan anda yang tahu persoalannya, kata Kapolsek Menteng itu.Lalu Teddy menelepon, Nih sudah ada yang nulisnya, disini diapain,
katanya. Tak lama kemudian lelaki putih, berbaju jeans biru naik Belakangan saya tahu bernama David alias A Miauw (juga dikenal sebagai tangan kanan Tomy Winata) ia menyerocos terus marah-marah tak jelas minta sumber berita itu supaya dihadirkan sekarang juga. Bahkan ia menyebut-nyebut soal yang berbau rasial. Jangan mentang-mentang Tomy winata, Cina, ya, gua cina, buka
diskotek, buka judi, lalu lu tulis senaknya."
"Nggak begitu Pak David," kata saya," disini kami pluralis tak pandang suku."
"Lu banyak omong bisa aja balikin omongan orang," katanya sambil dia nyerocos saya lihat mata dia, "E, mata elu jangan melotot ngeliatin gua ngomong gua bunuh sekarang lu bisa juga," kata David emosi. Orang asal Flores, orangnya Tomy Winata mengambil bangku lipat yang ada dikantor mau di
pukulkan ke wajah saya, sudah terayun, begitu juga seorang Flores lain yang memakai baju safari biru gelap didanyanya tertulis bordiran PMD warna merah. Mendekati saya mau memukul. Entah kenapa tidak jadi saya dikepruk.
Karaniya (kebetulan dia juga keturunan Cina) masuk, saya bersyukur, karena David sudah menggunakan ungkapan rasial. Akhirnya Karaniya yang mengambil
alih situasi. Semua penjelasan Karaniya juga tak digubris, dan David serta kembali memaki-maki, "Elu ngomong kayak berak. Gua tiup mati lu!"
Saya kini hanya lesu tertunduk loyo, sebagai manusia saya akui saya takut dan merasa tertekan waktu itu, saya cuma telepon kembali BHM, dia sudah berada di jalan kolong BNI 46, Sudirman. David sudah tak sabar meminta saya
ditangkap, dibawa ke kantor polisi, "Ini sudah ada penulisnya dia yang bertanggung jawab bawa saja," kata David.
Kapolsek Menteng juga mendesak saya soal penyelesaiannya. Saya bilang, " Tunggu, pimpinan saya, Bambang harymurti, sudah tak jauh, paling lama 10 menit." Saya masuk ke dalam ruangan, David keluar ruangan menelepon entah
kemana, saya mencoba mencairkan suasana. Saya peluk Yosep dan lelaki berbaju safari yang bertampang seperti kawan kita di kantor yang berasal dari NTT juga Saya bilang Anda dari mana? Dari Flores, "Wah satu tempat dengan saya,
bapak saya dari Waingapu,"
"O, kita satu kampung, untung saya nggak jadi ngepruk kamu," kata Yosep,
"Kamu kenapa ke depan massa untung kamu selamat."
Saya bilang, "Saya berani karena saya pikir yang di depan saudara saya semua asal flores jadi saya aman," kata saya. Kami mengobrol basa-basi, Yosep menekan saya, "kamu katakan saja siapa sumber kamu, ayo kamu akan aman, aku
yang jamin deh, udah jangan takut," katanya sedikit merayu. Saya hanya senyum saja. Saya keluar ruangan, tak lama kemudian BHM datang dan mengambil semua tanggung jawab berhadapan dengan preman yang tak jelas omongannya, kesana kemari membangga-banggakan diri, mengancam akan membunuh, membakar kantor ini, menjadikan Humanika kedua, bilang kantor TEMPO ini kecil dibeli sama Tomy juga bisa. Dia juga menelepon mengendalikan massa di luar untuk terus menekan.
David dengan sombong juga mengatakan, soal bom Bali, "Tahu nggak yang memberi tahu adanya bom Bali pertama kali ke Kapolri, gua, dia belum tahu
gua udah tahu."
Ia juga ngomong soal kebakaran Tanah Abang. "Elu tahu apa soal kebakaran Tanah Abang. Gua tahu titik api pertama kali, kenapa pemadam kebakaran tidak bisa masuk ke pasar. Jadi, lu, jangan sok tahu soal kebakaran tanah Abang,"
kata David. Apa maksudnya?
Akhirnya sampai situasi, harus ke kantor polisi, agar massa di depan kantor bisa tenang. BHM minta jaminan keamanan dan barikade polisi. Bari kade malah di dalam kantor, untung di luar turun hujan. BHM tampak naik ke mobil Timor
milik polisi, dan berusaha mempersiapkan tempat untuk saya berdua. Tetapi saya ditahan David untuk tidak masuk mobil polisi, saya mulai khawatir diculik dan dibawa ke tempat lain, saya terus berpegangan erat dengan Karaniya. Mobil Land Cruiser hitam milik Arta Graha (tampak dari
tanda pengenal diujung kanan dekat sopir) di dalam sudah masuk orang-orang Tomy winata yang tadi ikut menarik-narik badan saya di tengah massa di depan kantor. Karaniya menarik seorang polisi (dadan/dadang untuk ikut masuk ke
dalam mobil) di mobil itu sempat bertumpuk-tumpuk. Akhirnya di bangku tengah kami berempat, sebelah kiri saya Haris Sumbi, Ambon yang tinggal di Bendungan Hilir, karena saya pernah bertemu dia beberapa kali di Retro,
Hotel Crown, depan Polda Metro jaya, setelah saya ingat-ingat, ia mengiyakan ingatan saya itu. Sebelah kanan saya Karaniya, sebelah kanan nya lagi polisi Dadang tadi. Di depan David dan sopir, dibangku belakang tiga orang dari
arthha graha, Yosep, si gondrong kurus yang menarik-narik baju saya di depan massa dan lainnya. Akhirnya, kami dibawa pergi, dengan suara sirenenya, nguing-nguing.
Di dalam mobil, David berkata lewat telepon, Kantor itu lu segel, nggak boleh ada seorang pun karyawan TEMPO yang keluar dari situ, sampai persoalan ini selesai, mengerti? Katanya entah kepada siapa? Alhamdulillah ternyata
kami bukan dibawa kemana-mana tapi ke kantor Polres Jakarta Pusat.


Sudah aman di kantor Polres? Nggak juga, David marah-marah kepada Yosep, "Elu tahu, gua pecat lu, dia kan orang Flores, seharusnya elu yang duluan
ijak-injak dia sampai mati." Sejak saat itu tampang Yosep tak lagi bersahabat malah menekan-nekan. Dialah yang pertama kali menggebuk wajak BHM dari belakang di kantor polisi. Buk. Keras juga, sehingga kaca matanya terpental. David, Teddy, dan beberapa preman lainnya juga memaki-maki dan
mendorong-dorong BHM di depan kantor Kapolres Jak-Pus.
Saya, BHM, dan Karaniya dibawa ke ruang kerja Kasat Serse Polres Jak-Pus A.R. Yoyol. Masuk ke ruangan kerja Kasat Serse sekitar 5 polisi (beberapa berpakaian preman), David, Teddy, Haris Sumbi, dan sekitar 5 orang David
lainnya. David terus mengoceh, soal BHM sebagai komandan yang harus bertanggung jawab, mengancam akan membunuh. "Lu gue tembak juga deh sekarang, kalau gue di penjara dan dibunuh disini nggak takut. Mana, mintain
pistol?"kata David.
Dia ngoceh terus menunjuk-nunjuk saya dan BHM. "Lu, kan, orang pintar kalau ngua kan nggak makan sekolah, SD aja gua nggak tamat, tapi gua megang tempat judi di Harco Mangga dua menghidupkan 800 orang, gua bayar mereka Rp 50 ribu tiap hari, lu bisa?"
BHM berusaha menjawab tudingan David yang tak masuk akal dan tak berdasar, dan menyebutkan cara penyelesaiannya secara prosedur yang sudah ada, beberapa polisi reserse ada di dalam ruangan itu juga beberapa orang Tomy Winata. Dari TEMPO cuma saya, BHM dan Karaniya. Lalu David emosi, dan
menonjok perut BHM, menendangnya dan memukul-mukul kepalanya, "Ini saking pinternya sampe botak. Karaniya marah dan protes atas perlakuan itu, malah
bogem mentah menghantam wajah sebelah kirinya. Keras juga. Saya hanya diam saja. Saya lihat apa yang dilakukan David sudah tidak wajar, menghina banyak
orang termasuk polisi dan tentara. "Udahlah polisi sudah gua bayar semua, lampu disini juga gua yang beliin, gua juga ngeluarin duit buat wartawan Rp 150 juta tiap bulan ada daftarnya. Sutiyoso juga gue yang jadiin sebagai
Gubernur, kalau kagak mana bisa dia jadi gubernur. Udahlah lu nggak ada ape-apenya jangan macem-macem. Udah deh persoalan ini bisa selesai kalau Ciputra udah ketemu sama bos gue Tomy Winata. Telepon dia!" kata David.
"Wah saya nggak punya teleponnya, sejak handphone saya hilang," kata BHM.
"Ah lu pemimpin goblok nih gua teleponin," kata David. Dia sambungkan. "Halo ada yang mau bicara nih, telepon David pindah ke BHM. BHM ngomong dengan
Ciputra. Tapi hanya memberitahukan persoalan saja. Kata BHM kemudian Ciputra bilang kan saya nggak ikut-ikutan urusan redaksi, Cuma komisaris saja, anda
kan yang tangan
Situasi di ruangan Kasat Serse tak jelas. Saya, BHM, dan Karaniya tak berkutik dan tak bisa melawan. Polisi yang hadir cuma menonton tanpa berusaha mencegah semua tindakan brutal itu. Belakangan, di situ juga hadir Kasat serse Yoyol yang datang setelah penggebukan. Tapi David masih berlaku
tak sopan dengan polisi, bahkan merendahkan martabatnya, namun polisi-poilisi itu menerima saja tampaknya. IRONIS, BAHKAN DI KANTOR POLISI HUKUM PUN SEPERTI TAK EKSIS.
Tak lama kemudian, David mengatakan, Sekarang ini di luar beredar kabar Anda diculik ditangkap, tapi sebenarnya Anda kesini, kan untuk menyelasaikan persoalannya, ya, kata David menekan-nekan. Kami diminta untuk berbicara di lain tempat untuk bersepakat dan berbicara pada pers, bahwa kami tidak ditangkap, tidak ada kekerasan, tidak ada
penggebukan. Beruntung memang banyak kawan-kawan jurnalis yang ikut ke kantor Polres, sehingga, tekanan terhadap kami mulai berkurang. Sehingga di
dalam ruangan data di Polres kami mengadakan konprensi pers, BHM lah yang berbicara dan seorang yang mengaku Habib Hamid Alhamid dari Ambon yang mengaku punya pengajian membawa 50 orang massa dengan 2 metro mini dan mendapat makan dari Tomy Winata. Saat kami di dalam ruangan untuk konprensi pers, sebenarnya kami masih
tertekan, karena orang-orang Tomy Winata masih banyak di dalam ruang itu dan depan ruangan konprensi pers. Jawaban-jawaban BHM terkesan diplomatis dan
menghindarkan jawaban-jawaban langsung. Wajar kami sudah hopeless, di ruang kantor polisi saja orang-orang Tomy Winata bisa berbuat seenaknya. Siapa yang jamin, apa lagi kabarnya kantor masih disegel dan dijaga orang-orang
Tomy Winata.

Saya lebih banyak diam dan mendengarkan pembicaraan. Kesombongan David, ancamannya dan penghinaannya terhadap profesi jurnalis dan polisi, begitu juga setelah dipindahkan ke ruang Kapolres Jakpus dan hadir Kapolres AKBP Sukrawardhi Dahlan, yang juga tak bisa berbuat banyak. Bahkan, Teddy Uban lalu mengontak Kapolda melalui HP-nya. Setelah tersambung, HP itu diserahkannya ke Kapolres. Kapolres terdengar bicara, Siap, Jenderal. Siap,
Jenderal Setekah itu ia bilang ke BHM, Wah, ini sudah jadi urusan di atas.
Saat ini Kapolda sedang membicarakan nasib saya ke Kapolri. Ia lalu menguliahi kami, bahkan Kapolres cenderung mengarahkan agar TEMPO, membuat
pernyataan permohonan maaf pada Tomy Winata karena berita yang telah dibuat itu fiktif. Tapi BHM tetap berkelit dan tak mau ada pernyataan itu. Yang keluar akhirnya adalah pernyataan bersama, yang dikonsep oleh Karaniya
dan Haris Sumbi (dari pihak Tomy Winata) di ruang lain. Baik David alias A Miauw dan Kapolres meminta agar TEMPO menyatakan semua kejadian dianggap selesai disana, namun berkali-kali soal permintaan maaf TEMPO diminta oleh
David, Teddy, dan kapolres. Tapi BHM bertahan. Akhirnya, pernyataan bersama itulah yang keluar, yaitu akan menyerahkan persoalan itu dengan lewat jalur
hukum. Di pernyataan itu, David alias A Miauw menyatakan diri sebagai YANG MEWAKILI TOMY WINATA. Kami keluar dari ruang Kapolres, bersalam-salaman (hanya basa basi), persoalan sesungguhnya masing menggantung. Kenapa
kekerasan bisa terjadi, bahkan di kantor poli si? Saya sudah putus asa.

Penutup
Saya kawatir sikap kritis jurnalis akan digadaikan dengan ketakutan dan terror. Baru menghadapi seorang Tomy Winata yang punya saham di Hotel Borobudur, kelompok Artha Graha Grup, sejumlah tempat hiburan dan judi.
Tekanan yang lebih besar akan terus terjadi dari orang-orang lain yang punya kekuasaan secara politik, punya uang, punya senjata, punya otorisasi menangkap, menculik, membunuh dan punya massa. Persoalan ini harus diselesaikan secara tuntas. Saya minta David, Teddy, Yosep, Hamid Al-Hamid
dkk di proses secara hukum dan adil sesuai andil yang mereka lakukan dalam terror ini. Juga Tomy Winata dimintai pertanggung jawabannya. Kalau tidak bakal bisa terjadi pada siapapun dan institusi manapun. Situasi bisa terjadi
seperti Zaman Soeharto (orde baru) atau bahkan lebih buruk lagi seperti terjadi di Kolombia, Amerika Latin, ketika mafia kartel barang-barang terlarang menguasai negeri. Saya tak tahu harus berbuat apa?

Jakarta, 10 Maret 2003, pukul 04.45 WIB
Ahmad Taufik
Wartawan MBM TEMPO
Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta

****

Liputan6.com, 2004-10-22

06:27 — Kematian Basri Jala Sangaji masih diselubungi kabut misteri. Benarkah pembunuhan terhadap anggota tim sukses Wiranto-Wahid itu tindak kriminal biasa atau bermotif politik?

Liputan6.com, Jakarta: Subuh hampir menjelang di Hotel Kebayoran Inn di Jalan Senayan nomor 87, Jakarta Selatan, pada Selasa pekan silam. Bersamaan dengan semilir angin malam yang masih terasa, belasan pemuda merangsek ke hotel bertarif Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta sehari itu. Tanpa bisa dicegah, mereka yang bermuka bengis itu langsung menuju kamar 301. Basri Sangaji yang dicari. Kejadian berlangsung cepat, tak lebih dari 15 menit. Gaduh sebentar, sekelompok pemuda itu yang berwajah bengis dan dingin itu kemudian keluar. Tak ada yang berani mendekat. Sampai di parkiran, mereka sempat merusak kendaraan Basri. Setelah puas, mereka pun raib bak ditelan kabut subuh.

Petugas hotel baru berani memastikan keadaan setelah gerombolan orang itu pergi. Mereka bergegas menuju kamar 301. Benar saja, sang tamu hotel sudah bersimbah darah. Basri mati di sofa dengan lubang di dada. Adiknya, Ali Sangaji yang berusia 30 tahun merintih. Tangannya nyaris putus, selangkangannya pun terus mengucurkan darah. Kondisi seorang kerabat Basri tak jauh beda. Anyir darah begitu terasa. Jamal Sangaji, 33 tahun, mengerang sambil memegangi tangan kanannya yang sudah tak berjari.

Setelah diotopsi di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (MMC), Jaksel, Basri disemayamkan di rumah keluarganya di bilangan Pulomas, Jakarta Timur. Ribuan pelayat pun membanjiri rumah duka. Esok petangnya, Jenazah orang yang dekat dengan calon presiden Wiranto itu kemudian diterbangkan ke Ambon, Maluku.

Jasad Basri kemudian dibawa ke kampung halamannya, Desa Rohomoni, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Keheningan malam pun pecah ketika jenazah Basri datang dan disambut dengan teriakan histeris masyarakat Rohomoni. Malam itu, ratusan warga tumpah-ruah di pinggir pantai Pulau Haruku. Mereka menyambut jenazah Basri dengan kesedihan mendalam. Kematian putra pertama dari pahlawan nasional A.M. Sangaji yang disegani di daerah itu memang membuat warga Maluku berduka.

Tak pelak, kedatangan jasad Basri sempat membuat Negeri Seribu Pulau menjadi panas. Kabar burung pun merebak. Entah siapa yang mengembuskan, anak buah Basri yang sebagian besar "pensiunan" konflik Maluku dikabarkan bakal membalas dendam. Untungnya, polisi cepat tanggap membaca gelagat itu. Kepala Kepolisian Resor Ambon Komisaris Besar Polisi Leonidas Braskan langsung memimpin pengawalan bersama aparat dari TNI dan Polri mulai dari Bandar Udara Pattimura hingga ke kampung halamannya [baca: Jenazah Basri Sangaji Tiba di Ambon].

Pengawalan ketat itu memang wajar. Maklumlah, polisi berupaya keras mengantisipasi terulangnya rentetan peristiwa berdarah yang menelan 1.842 jiwa akibat konflik antaragama di Maluku. Apalagi kerusuhan yang terjadi pada 1998-1999 itu juga diawali bentrokan antarpemuda [baca: Mimpi Buruk Bernama Darurat Sipil]. Tak heran jika aparat yang diturunkan tak sekadar mengawal jenazah. Mereka dibekali dengan senapan. Bahkan jasad Basri pun dibawa dengan mobil militer. Untuk mendinginkan suasana, sejumlah tokoh Maluku juga ikut mengantarkan Basri ke peristirahatan terakhirnya. Di antara pelayat, tampak mantan Gubernur Maluku Saleh Latuconsina. "Kita berharap ini adalah cobaan bagi kita semua, dan almarhum dapat diterima di sisi-Nya," kata Latuconsina [baca: Basri Sangaji Dimakamkan].

Untuk mengantisipasi kerusuhan, polisi juga cepat tanggap dengan kondisi yang kian panas. Meski sejumlah spekulasi seputar kematian Basri masih menimbulkan banyak pertanyaan, polisi bertindak cepat. Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Mathius Salempang yang memimpin penyidikan telah menangkap delapan tersangka [baca: Delapan Tersangka Pembunuh Basri Sangaji Ditangkap]. Mathius juga menetapkan bahwa kasus pembunuhan Basri, murni kriminal [baca: Pembunuh Basri Sangaji Bermotifkan Dendam]. Tersiar kabar, jika pembunuhan Basri berlatar belakang perebutan daerah kekuasaan di Mangga Besar, Jakarta Barat.

Pria bernama lengkap Basri Jala Sangaji adalah pribadi yang penuh warna. Pria berumur 35 tahun itu tak hanya terkenal dalam dunia preman yang keras. Basri juga dikenal dekat dengan sejumlah tokoh, mulai dari pejabat, ulama, hingga dunia hiburan malam. Di mata Ketua Front Pembela Islam Habib Rizieq, almarhum adalah anak nakal yang manis. Sebutan itu tak lepas dari niat Basri yang ingin mendalami ajaran Islam kepada Rizieq.

Basri Sangaji memang dikenal dekat dengan berbagai kalangan. Tak hanya bermain di dunia keras dan hiburan malam, warga Jalan Pangkal Raya Nomor 3, Pela Mampang, Jaksel itu juga terjun ke dalam kancah politik. Sepak terjangnya di dunia politik dimulai sejak terlibat dalam terbentuknya pengamanan swakarsa (Pam Swakarsa) pada 1998. Terakhir, dia juga aktif menjadi anggota tim sukses calon presiden dari Partai Golongan Karya, Wiranto dan Salahuddin Wahid pada pemilihan presiden putaran pertama, Juli silam.

Nama Basri Sangaji juga pernah menghiasi media massa nasional pada pertengahan 2002 ketika terlibat konflik dengan kelompok John Key. Selain itu, Basri juga diduga terlibat dalam kerusuhan di Ketapang, Jakarta Pusat, akhir November 1998. Tetapi keterlibatan Basri di Sampit dibantah oleh Habib Rizieq.

Menelisik masa silam Basri Sangaji ibarat membuka lembaran album foto kerasnya dunia preman. Dia diduga kuat banyak bersinggungan dengan dunia hitam. Tak heran jika Basri ditengarai memiliki banyak musuh. Salah satunya adalah John Key, salah seorang pimpinan geng yang pernah berseteru dengannya [baca: Kepolisian Tak Terpengaruh Desakan Kelompok Hercules dan Basri]. John Key mengakui delapan tersangka pembunuh Basri adalah anak buahnya. Dia juga mengaku dendam pada Basri yang dituduhnya telah membunuh saudaranya, lima tahun silam. Namun Basri lolos dari jeratan hukum karena saat itu diduga berhubungan dekat dengan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Mayor Jenderal Polisi Noegroho Djajoesman.

Selain dengan John Key, Basri juga pernah bentrok dengan kelompok penguasa Tanahabang, Jakpus, pimpinan Hercules. Hercules juga menyatakan, Basri Sangaji mempunyai banyak musuh, dan ia adalah salah satunya. Dia mengaku pernah berteman baik dengan korban, namun masalah bisnis penagihan utang telah memisahkan persahabatan mereka.

Entah karena hati-hati atau karena sebab lain, yang pasti hingga kini polisi tidak menangkap John Key. Padahal, keluarga Basri berkeras meminta polisi membekuk John Key. Salah satu keluarga yang menuding John Key sebagai otak pembunuh Basri adalah Basri Moni, paman korban. Apalagi keponakannya itu pernah terlibat konflik dengan John Key di Diskotek Hailai, Ancol, Jakarta Utara dan Diskotek Stadium di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat pada 2002 [baca: Diskotek Stadium Diserang, Dua Orang Tewas].

Anton Medan yang telah lama pensiun dari dunia preman pun angkat bicara. Menurut dia, pembunuhan Basri memang berlatar dendam. Pelaku diperkirakan putus asa karena pengaduannya ke polisi tidak pernah digubris. Tak heran jika kemudian si pelaku "membereskan" sendiri masalah tersebut. "Dilaporkan ke polisi beberapa kali, hingga masa pembunuhan [karena] tidak ditanggapi," kata Anton di Studio Liputan 6 SCTV, Jakarta, malam tadi.

Lebih lanjut Anton menjelaskan, buntunya pengungkapan pelaku pembunuhan Basri karena kasus ini melibatkan konspirasi tingkat tinggi. Menurut Anton, pelaku diperkirakan mempunyai backing yang cukup kuat sehingga polisi tidak berkutik. Pelindung si pelaku diperkirakan berasal dari kalangan pejabat. "Sebenarnya yang dipakai itu orang-orang yang punya nama," ungkap Anton.

Di sinilah terungkap bahwa antara preman dan sejumlah pejabat mempunyai hubungan saling menguntungkan. Menurut Anton, pejabat membutuhkan preman untuk mempermudah pekerjaannya. Contohnya, penggusuran tanah. Dengan bantuan "pendekar", bisa dipastikan penggusuran tanah bisa dilakukan. Mereka juga membutuhkan preman ketika kekuasaannya terancam oleh aksi massa. Saat itulah sosok preman dimajukan. Sementara preman membutuhkan pejabat untuk melindunginya dari cengkeraman polisi. Tak mengherankan, bila kasus pembunuhan Basri belum menemui titik terang.

Dalang di balik pembunuhan Basri seharusnya tak sulit untuk dibongkar. Karena peristiwa itu menyimpan dua saksi mata yang turut menjadi korban. Mereka adalah Ali Sangaji dan Jamal Sangaji. Kedua adik korban juga mengaku mengenal kelompok yang menyerbu mereka. Selain itu, sejumlah barang bukti juga ditemukan di lokasi kejadian. Kuat dugaan saat kejadian, paling tidak ada dua senjata api yang menyalak. Salah satunya pistol berizin dengan peluru karet milik korban. Sedangkan satunya berasal dari bukti selongsong dan satu butir peluru kaliber sembilan milimeter.

Nah, untuk mengurai benang kusut itu, Anton menyarankan kepada polisi untuk lebih berani. Menurut Anton, premanisme memang tidak bisa dihapuskan. Namun bukan berarti tidak bisa dikurangi. "Sekarang tinggal bagaimana aparat, mencari hukum yang tepat untuk menjerat mereka (pelaku)," kata Anton.

Kriminolog dari Universitas Indonesia Adrianus Meliala membenarkan pernyataan Anton. Menurut dia, hubungan simbiosis antara preman dan pejabat telah terjadi sejak lama. Preman membutuhkan orang "kuat" yang bisa melindunginya dari ancaman preman lain. Biasanya dengan dukungan orang kuat itu timbul sifat arogan preman. Maka dia tak segan-segan melibas kelompok lain yang dianggap bermasalah dengannya. Salah satunya seperti yang terjadi pada kasus Basri. "Jangan-jangan ada transaksi," kata Adrianus.

Adrianus boleh menduga seperti itu. Yang jelas, mata sejumlah pihak kini menoleh ke polisi. Apalagi keterlibatan kelompok preman tampak nyata di balik pembunuhan Basri. Boleh jadi, timbul pula pertanyaan. Maukah dan mampukah polisi menguak kasus itu sampai ke akarnya?(YAN/Tim Sigi SCTV)

Gue Dikatain Raja Jelek

Wawancara Tomy Winata:

Source : Gatra.com

FIGUR Tomy Winata tak pernah sepi dari sorotan pers. Nama bos Grup Artha Graha, imperium bisnis bidang properti dan perbankan, itu pekan lalu bertebaran di pelbagai media massa Ibu Kota. Kasus demo sekelompok orang pembela Tomy Winata di kantor majalah Tempo, Sabtu dua pekan silam, berbuntut panjang. Tomy dituding mencederai kebebasan pers lewat aksi premanisme.

Memang, sejak Soeharto lengser, dan dominasi militer dipreteli dari percaturan politik, tudingan miring sering mengarah ke Tomy. Ada yang menyebut pengusaha berusia 45 tahun ini bos judi, beking bandar narkoba, hingga "komandan preman".

Maklum, ketika Orde Baru berkuasa, pengusaha yang tercatat dalam daftar 12 pembayar pajak terbesar pada 1994 ini tegar berkibar. Apalagi, ia dekat dengan keluarga Cendana. Akrab pula dengan petinggi militer, politisi, hingga pentolan preman. Tak mengherankan jika ia disebut- sebut memanfaatkan kekuasaan tentara dan otot preman untuk memperlancar bisnisnya.

Sejauh ini, Tomy tidak membantah hubungan baiknya dengan banyak kalangan. Ia pun tak menyangkal bermitra Yayasan Kartika Eka Paksi milik TNI Angkatan Darat. Salah satu proyek besar yang digarapnya adalah pembangunan Sudirman Central Business District, yang berlokasi di daerah Semanggi, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Hanya saja, Tomy selalu membantah jika namanya dipautkan dengan perjudian, premanisme, dan narkoba. "Itu semua fitnah," kata pengusaha yang suka memakai setelan safari lengan pendek warna gelap itu. Untuk mengonfirmasikan berbagai tuduhan miring yang dialamatkan kepadanya, trio wartawan Gatra, Heddy Lugito, Dwitri Waluyo, dan Koesworo Setiawan, mewawancarai Tomy Winata.

Wawancara berlangsung Rabu malam pekan lalu di rumah Tomy yang mewah, menempati areal sekitar 7.000 meter persegi, di Jalan Pasir Putih Raya, kawasan Ancol, Jakarta Utara. Petikannya:

Banyak orang mengaitkan keberhasilan bisnis Anda karena dekat dengan kalangan militer.

Saya kira begini, ya, tolong dimengerti. Hubungan kerja sama saya dengan Yayasan Kartika Eka Paksi, bukan dengan TNI dalam artian organisasi. Dengan Yayasan Kartika Eka Paksi, saya hanyalah satu partner. Saya juga banyak bekerja sendiri di luar.

Tapi, Anda kan pengusaha yang paling banyak menjalin bisnis dengan militer?

Kami berdagang berdasarkan aturan pemerintah dan berlandaskan hukum. Dan kami tidak melakukan usaha-usaha yang di luar aturan main dan hukum. Kami kan tidak based on power, tapi based on regulation and law.

Selama itu dasarnya, saya kira nggak akan menjadi masalah. Karena kami dulu berusaha dengan yayasan kan dasarnya hukum. Bahwa ada yang cemburu dan iri, ya, silakan saja.

Karena dekat dengan tentara dan polisi, Anda tak terjamah hukum?

Selalu orang bilang saya seolah-olah nggak tersentuh. Kalau saya salah, ya, tetap salah, ditangkap, masuk penjara. Kalau saya benar, ya, tetap saja saya benar. Dan saya bersyukur, negara kita ini, meskipun banyak uji cobanya, masih tetap berjalan di rel hukum.

Jadi, saya kira, kalau kami sampai terkoreksi secara ekonomi, dasar kami tidak bisa menggunakan momentum ekonomi. Tapi, kalau kami memang bisa menggunakan momentum, dan celah-celah bisnis yang kami jeli atau cerdik melihatnya, ya, tetap saja survive. Bukan karena siapa-siapa.

Setelah peran politik militer berkurang, kabarnya sekarang Anda merapat ke Polri?

Nggak benar. Yang kami kerjakan sekarang menyelesaikan pusat rehabilitasi penyembuhan korban narkotika dengan Badan Narkotika Nasional di Pulau Seribu.

Selama ini, tampaknya Anda lebih suka berteman dengan orang-orang yang punya kekuasaan.

Saya kira, melihatnya harus juga dengan kacamata normal dan fair, dong. Saya juga dekat dengan bapak ini (Tomy menunjuk seorang pimpinan majalah Pilar) sebagai tokoh pers. Saya dekat dan berteman dengan semua orang, dari yang paling tinggi sampai paling rendah. Dengan mantan narapidana pun saya berteman dan dekat.

Kedekatan Anda dengan sejumlah tokoh penting itu diperkalukan sebagai apa? Teman atau aset yang bisa membantu kegiatan bisnis?

Saya kira begini, kita sebagai bagian dari sistem bermasyarakat harus berkenalan dengan siapa saja, bergaul dekat dengan siapa saja. Tak kenal maka tak sayang. Nah, setelah kita kenal, bisa kongko-kongko mencari momen. Minimal menjadi narasumber untuk kelancaran (usaha).

Sebenarnya, Anda memandang kekuasaan seperti apa?

Wah, ini lagi. Saya kira, semua orang kan punya kekuasaan. Kekuasaan di lingkungannya, dan saya selalu mencari sumber untuk advis. Saya tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan mereka, baik kekuasaan di birokrasi, nonbirokrasi, maupun kekuasaan sebagai tokoh masyarakat. Itu barangkali yang membuat saya survive sampai saat ini.

Jadi, benar dong kata orang, karena Anda dekat dengan kekuasaan, bisnis Anda aman, lancar dan terlindungi?

Terbalik. Saya aman karena tertib hukum. Coba Anda tanya, ada tidak perusahaan swasta yang punya sampai empat asosiasi law firm seperti dalam grup kami. Yang sembilan afiliasi, anggota lawyer-nya ada 30-an. Jadi, hampir semua langkah saya dijaga sistem hukum yang benar. Itulah yang membuat seolah-olah kami tidak tersentuh, karena memang tidak ada yang perlu disentuh.

Anda banyak mempekerjakan mantan militer. Apa pertimbangannya?

Pertanyaan ini agak menjurus dan sedikit tidak fair. Apa pun persoalan seseorang, setelah dia laksanakan dan dia pertanggungjawabkan, maka apakah berarti hak perdatanya hilang? Apakah dia tidak boleh dipekerjakan? Kalau kemudian dia frustrasi, sakit dan meninggal, atau apa yang kemudian melakukan tindakan ilegal, apakah itu yang dikehendaki?

Berapa banyak orang dari kalangan militer yang bergabung dengan Anda?

Saya kira, kalau militer masih aktif tidak ada. Bapak-bapak itu bergabung sama kami setelah pensiun. Ada 600-an dari berbagai instansi.

Tentu banyak pula jenderal, bintang satu, dua, atau malah ada yang bintang empat?

Tidak ada-lah. Kami di sini tidak ada bintang- bintangan. Yang kelas perwira aja hampir 600-an, dan saya minta mereka lepas atribut. Jadi benar- benar kami duduk sebagai anggota masyarakat biasa.

Tapi, ada juga kan anggota militer yang masih aktif bergabung dengan Anda. Jenderal Hendropriyono, misalnya, bergabung ke KIA Motors, perusahaan milik Anda?

Pak Hendro, waktu bergabung bersama kami, nganggur, non-job, dan beliau sudah purnawirawan.

Belum pensiun. Pada waktu itu militer aktif, kan?

Sudah pensiun. Sudah purnawirawan. Atau kalau tidak, sudah mendapat surat izin penyaluran. Jadi, Pak Hendro waktu itu sudah masuk masa persiapan pensiun. Sekarang malah saya jarang ketemu.

Beberapa anggota Kopassus bekas personel Tim Mawar-nya Letnan Jenderal Prabowo Subianto juga Anda tampung?

Wah, saya nggak hafal. Bisa saja ada. Pokoknya siapa saja yang sudah pensiun. Yang katanya korban Tim Mawar juga ada. Pokoknya begini, gue ini PT dagang, bukan PT politik. PT kompak bukan PT pro- kontra. Selama lu dagang dan kompak, boleh masuk ke PT gua.

Selain menampung mantan militer, Anda juga mempekerjakan bekas penjahat. Kabarnya, mantan tokoh preman Slamet Gundul juga bekerja di tempat Anda. Mengapa Anda mempekerjakan preman atau setidaknya mantan preman?

Apa pun kejahatan yang dilakukan seseorang itu kan tidak menghilangkan hak perdata dia. Itu satu. Kedua kita lihat ini orang dulu salah jalan atau melakukan tindakan-tindakan yang kurang tepat, akibatnya melanggar hukum. Karena apa? Karena memang jiwanya penjahat atau lingkungannya yang memaksa dia jadi penjahat?

Karena menampung pelaku kriminal dan preman itu, kemudian Anda dijuluki..?

Apa? (Tomy memotong pertanyaan Gatra) Raja Preman? Apa lagi? Sebut saja semua gelar yang jelek-jelek itu untuk saya.

Iya, ada yang menyebut Anda sebagi raja preman, raja judi, beking bandar narkoba?

Saya disebut begitu. Selama masih disebut-sebut, gue nggak pikirin.

Yang dipikirin yang seperti apa?

Kalau sudah membuat opini. Akibatnya, saya terancam keselamatan fisik, dan jiwa saya, itu baru mulai saya pikirin. Kalau baru katanya orang bilang, setan lu, preman lu, emangnya gue pikirin. Biar aja lah, capek.

Bekas penjahat narkoba juga Anda tampung?

Oh, tidak. Bekas bandar narkoba dan bekas pemerkosa, saya tidak. Nah, itu dua. Jadi, pemerkosa sama narkoba. Entah kalau kecolongan, tolong beritahu saya. Tapi, saya usahakan itu tidak ada.

Kenapa?

Ya, begini, ya, obat itu kan kambuhan, susah dihilangkan. Kalau pemerkosa, itu kan sudah penghianatan, sudah moral.

Kabarnya Anda terkait dengan soal perjudian di Batam?

Begini, kita nggak usah munafik. Anda silakan melakukan cek ke sana. Saya buatkan surat kuasa, kalau bener ada yang bilang, barang tersebut saya punya, langsung you ambil sahamnya. Ambil saja duitnya, kita bagi dua.

Sejumlah karyawan tempat judi ilegal di Jakarta yang kami wawancarai bilang, tempat judi itu, katanya, dibekingi Tomy Winata. Benarkah Anda membekingi tempat judi ilegal itu?

Itulah dia orang yang iri pada saya, dan suka memfitnah. Nah, mulai besok, gue bilang tempat itu dibuka karena Anda bekingnya, ha, ha, ha....

Apa saya nggak bisa bilang juga bahwa ini bekingnya Gatra? Begini, kita kan sepakat dalam era reformasi ini. Dalam era pembangunan hukum semuanya berdasarkan asas pembuktian dan hukum. kalau konon dan katanya, ya kasihanilah orang yang selalu ditekan dengan konon.

Anda juga di kabarkan membekingi Ang Kiem Soe, pemilik dua pabrik ekstasi yang dulu tertangkap di Hotel Borobudur?

Itu fitnah lagi. Bukankah, orang yang menuduh sudah meralat tuduhannya. Semuanya sudah selesai. Ada ralat dari kepolisian dan sudah diklarifikasi.

Jadi Anda mendengar dan mengetahui, kalau selama ini dituding atau dicap macam-macam?

Kalu cuma sekadar tuduhan, hampir tidak ada gelar yang tidak ditempelkan di badan saya.

Dan semuanya jelek ya?

Ya pokoknya gue ini, dikatain, raja jelek lah. Ya sudah biarin saja. Tapi ukurannya sekarang begini. Ada satu orang hanya memberi cap tanpa dasar hukum. Cuma fitnah. Seberapa besar sih, orang yang memberi cap itu mampu membuat economic growth? Berapa besar dia sanggup nampung orang, dan dia jamin dikasih makan sehari 3 kali sehari?

Tapi sebagai pengusaha sukses, nama Anda sering dikaitkan soal judi dan preman?

Begini. Ini buah simalakama. Saya anggap, semua tuduhan itu sebagai ibadah sosial. Jadi saya harus menanggung isu-isu orang dengan selera-selera kesirikannya, karena saya mengajak mantan penjahat ke rumah saya.

Tapi, kalau mereka tidak kita kasih pekerjaan, lantas siapa yang mau memberi pekerjaan? Apa kita biarkan mereka melakukan kejahatan? Kalau cuma difitnah karena mempekerjakan bekas narapidana, biarkan saja-lah. Pada saatnya, kebenaran bisa dikalahkan, tapi kebenaran tidak bisa disalahkan.

Apakah Anda bisa mengontrol mereka? Sebab, menurut cacatan kami, ada sejumlah kasus yang disebut-sebut melibatkan orang Anda. Dulu ada yang mendemo Majalah Forum, karena Forum memuat berita buruk tentang Anda. Dan yang terakhir kasus demo di Kantor Majalah Tempo.

Begini Pak. Saya juga protes, saya juga minta, tolong dong Pak kalau bener orang saya, orang- orang itu ditangkap. Buktikan unsur kesalahannya. Kalau memang ada data dan bukti-bukti yang mengaitkan kepada saya, tolong ditangkap.

Kami mendapat informasi seorang yang mengaku bernama David Tanjung mengirimkan proposal kepada Pemda DKI untuk merenovasi Pasar Tanah Abang yang terbakar. Di dalam proposal itu disebutkan bahwa biayanya dari Bank Artha Graha, milik Anda. David Tanjung itu orang Anda ya?

Tidak ada itu David Tanjung. Saya nggak kenal.

Anda tertarik merenovasi Pasar Tanah Abang?

Tanah Abang, saya tidak pernah tertarik. Nggak pernah terpikir. Jadi benar-benar saya mikir saja tidak. Sebelum kebakaran, saya tidak pernah mikir. Setelah kebakaran saya pikir aduh kasihan. Apa yang kita bisa bantu. Sebagai manusia, saya tidak mencari keuntungan di atas penderitaan orang.

Kembali ke soal bisnis Anda. Kabarnya beberapa nama yang dikaitkan dengan Anda. Mereka disebut gank of nine?

Saya katakan, gank of nine itu hanya julukan, tidak pernah dilantik. Tolong dilantik buruan!

Tapi orang-orang yang disebut gang of nine, itu kan dekat dengan Anda. Mulai dari Yorrys, Sugianto Kusuma, Arief, Iwan Cahyadi, Johnny Kusuma, Edi Porkas, Kwee Haryadi Kumala alias A Sie, dan Ari Sigit juga masuk di situ?

Memang sebagian saya kenal, sebagian tidak. Ya kalau Pak Aguan (Sugiyanto Kusuma-Red.) kan senior saya. Iwan kan partner saya di KIA Motors. Dengan Arief cuma kenal-kenal kerbau. Edi Porkas, kenal dia beberapa tahun.

Kalau Haryadi Kumala atau A Sie, dulu pernah ketemu, waktu acara binis di sebuah hotel. Gua ditawarin kavling di Sentul, disuruh beli. Tapi saya nggak beli.

Kalau dengan Yorrys?

Yorrys memang teman. Teman jaman masih tahun 1975. Dia masih kerja di showroom Phillips Protelium. Saya juga di daerah situ. Kita sama-sama masih jadi gembel, masih susah-susah. Kita berteman, berantem, berkelahi. Akhirnya terpisah. Eh balik-balik ke sini dia udah jadi anggota PP. Berteman begitu aja, nggak pernah ada koalisi aneh-aneh.

Dengan Ari Sigit?

Ari Sigit saya ketemu sekali waktu dia bikin ulang tahun di Borobudur. Tapi, udah beberapa tahun yang lalu.Tidak ada hubungan dagang. Maunya ada hubungan dagang, biar cuan-nya banyak. Karena saya dengar semua yang gabung dengan Mas Ari Sigit itu cuan-nya banyak.

Belakangan ini, Anda melakukan ekspansi bisnis ke wilayah Indonesia Timur. Apa sih sebenarnya yang lagi dikerjakan?

Sulawesi Tenggara itu tempatnya besar, penduduknya sendiri tidak sampai 2 juta. Kabupaten Kendari sendiri hanya 800.000, Ibu Kota Kendari hanya 200.000 lebih. Potensi alamnya banyak yang belum tersentuh.

Masyarakat rajin dan punya dedikasi, dibuktikan dengan tidak ada pengemis. Indonesia timur itu adalah bagian dari masa depan bangsa ini.

Berapa besar investasi Anda di sana?

Secara equity saya kira sekurang-kurangnya Rp 300 milyar. Utuk bidang perkebunan, infrastruktur. Ya macam-macam-lah. Sawit, tebu, bakau, mete, rotan. Bahan bakunya diolah di sana agar punya nilai tambah dan masyarakatnya punya lapangan pekerjaan. Nah itu lah konsep yang kami buat. Mudah-mudahan tidak ada halangan.

Benar anda punya bisnis di Morowali senilai Rp 23 milyar?

Iya, marmer. Baru mulai.

Membangun jalan dari Kendari ke Morowali?

Itu kan jalan penting untuk mengangkat ekonomi rakyat. Karena hasil bumi rakyat di Morowali menjadi murah. Kalau jalan itu dibuka, akan bisa terangkat dengan baik. Kalau pemerintah, ya, kita bisalah secara barter atau gimana.

Nah karena bisnis ini, Anda membangun asrama Batalyon 711 TNI Angkatan Darat di Poso?

Ngga ada.

Bisnis di Indonesia Timur itu karena restu dari Presiden Megawati?

Restu? Apakah kalau nggak ada restu kita nggak boleh dagang? Saya mengenal Ibu Mega karena beliau presiden kita. Apakah investasi di Indonesia Timur itu, kalau tidak ada restu dari Bu Mega, tidak boleh?

Tidak restu dari Megawati, tapi dari Taufik Kiemas ya?

Lho, jangan fitnah lagi. Fitnah lagi.


[Laporan Utama, GATRA, Nomor 18 Beredar Senin 17 Maret 2003]





Belitan Naga Sampai ke Jenderal

From: "O'sama bin Titan" <anti_teror@hotmail.com>
To: apakabar@radix.net
Subject: JUDI: Antara Olo Panggabean, Tommy Winata, Jenderal Tengik dan MUI
Date: Tue, 15 Jan 2002 17:09:49 +0700

Jaringan Sembilan Naga menembus berbagai daerah di Indonesia. Upeti untuk
pejabat militer, kepolisian, atau pemda, membuat bisnis ini kian kuat.
Jarum jam sudah bergerak ke angka 01.00 WIB, Sabtu dini hari. Malam pun kian
larut dan menebar hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun,
beberapa sudut Kota Jakarta tetap saja "panas" dan berdenyut. Sebuah siklus
sosial yang tetap hidup. Jakarta memang tak pernah "mati" dari kehidupan
malam, terutama bagi mereka yang doyan dengan dunia hiburan dan perjudian.
Datanglah ke Kabuki, Hotel Prinsen Park, Kawasan Lokasari di Jakarta Barat.
Lalu, Pelangi dan Raja Kota di Jalan Hayam Wuruk, termasuk Raja Mas di
Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Siapa pun bisa gambling dan mengadu nasib di
tempat usaha milik Rudi atau kalangan penjudi sering memanggilnya dengan
sebutan Rudi Raja Mas. Cukup dengan menitipkan Rp 1 juta di pintu masuk
sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam.
Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya.
Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin mickey mouse. Puluhan
pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan
cepak. Kabarnya, dari tiga lokasi perjudian itu, Rudi bisa menyedot Rp 5
miliar dana segar per malam. Hitung saja kalau di dikalikan 30 hari. Maka,
tak kurang dari Rp 150 miliar per bulan.
Hatta, berjudi bukanlah hal yang sulit di Jakarta. Riwayatnnya memang sudah
ada sejak zaman Belanda. Setelah Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan izin judi
pada pertengahan tahun 1967, berlombalah orang membuka bisnis yang menurut
ajaran agama tergolong haram jadah.
Ketika itu para penjudi alias junket sudah menghambur-hamburkan rupiah di
beberapa lokasi perjudian. Misalnya di Petak IX, Copacobana, Jakarta
Theatre, dan Lofto Fair Hailal. Muncullah beberapa pengusaha Indonesia
keturunan Cina yang jadi primadona di bisnis ini. Sebut saja Yan Darmadi.
Semasa Gubernur Ali Sadikin, Yan berhasil meraup Rp 1,5 miliar. Selain
memiliki saham di empat lokasi perjudian tadi, Yan juga disebut-sebut
membuka kasino di Surabaya pada tahun 1980. Konon, seperempat penerimaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Buaya itu berasal dari
Yan Darmadi.
Tapi, kondisi tersebut tak lama bertahan. Setahun kemudian (1981), Gubernur
DKI Jakarta Tjokropranolo mencabut kembali izin tersebut. Toh, jaringan
mafia judi di Jakarta bukannya terputus, melainkan malah meluas ke seluruh
Indonesia dalam konfigurasi Sembilan Naga. Jaringan ini mirip dengan Triad
di Hong Kong dan Makau. Merekalah yang menguasai dan mengatur lokasi
perjudian. Mereka membentuk satuan "pengamanan" yang mengikutsertakan jasa
centeng amatir sampai jenderal profesional.
Kini ada sedikitnya 44 lokasi perjudian di Jakarta (lihat tabel). Mulai dari
kelas kakap hingga kelas teri. Dari yang terbuka, seperti toto gelap
(togel), sampai yang tertutup (kasino dan rolet). Semua itu bertebaran di
setiap sudut Jakarta. Sementara kota-kota besar lainnya, seperti Medan,
Riau, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Manado, juga tak kalah
gesit.
Menurut mantan raja judi Anton Medan, tempat bermain judi terbesar di
Jakarta kini ada di Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di situ, beberapa
bandar besar seperti Tomy Winata, Engsan, Yasmin, Chandra dan David
berkolaborasi membangun usaha dan jaringan. Baik untuk wilayah Jakarta
maupun seluruh Indonesia. Termasuk pengaturan upeti bagi sejumlah oknum
pejabat tinggi TNI, Polri, Pemda DKI, ormas pemuda dan kemasyarakatan, serta
wartawan. Dari lokasi itu, para bandar bisa meraup Rp 10 miliar-Rp 15 miliar
per malam. Setelah dipotong modal pemilik saham, sisanya di bagikan ke
seluruh jaringan pengamanan tadi. Ada yang per sepuluh hari, per bulan, atau
per minggu.
Untuk Jakarta, ada sejumlah nama dan kawasan perjudian potensial yang bisa
disebut sebagai jaringan "Sembilan Naga" tadi. Selain Tomy Winata, Engsan,
Yasmin dan David, masih ada Apow, pemilik rumah judi mickey mouse (MM) di
Pancoran (Glodok), Jalan Boulevard (Kelapa Gading), Kasturi di Mangga Besar,
Ruko Blok A di Green Garden serta di Jalan Kejayaan, Jakarta Barat. Nah,
dari tiga lokasi itu, ia minimal meraup Rp 2 miliar setiap malam.
Di beberapa lokasi lain, Apow juga membangun jaringan usaha sejenis dengan
Juhua dan Ali Oan di Asemka, Jakarta Barat, serta di Jalan Gajah Mada,
Jakarta Pusat. Setingkat Apow, ada Rudi Raja Mas. Nah, taipan ini tergolong
hoki. Lokasi kasino, rolet serta MM-nya terletak di Stadium dan Pelangi di
Kawasan Hayam Wuruk. Kabuki Hotel Prinsen Park di Lokasari, Jakarta Barat,
serta di Jalan Kunir, Jakarta Utara, termasuk yang di Pulau Ayer, juga mulai
membawa keuntungan besar baginya. Kabarnya, dari semua itu, ia bisa menarik
Rp 10 miliar per malam.
Rudi tak sendirian. Untuk usaha di Pulau Ayer misalnya, ia menggaet Haston,
Arief, Cocong, Edi P. dan Umar. Sementara untuk lokasi di kompleks perjudian
kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Rudi bekerja sama dengan Tomy Winata,
Arief, dan Cocong.
Dibandingkan dengan lokasi perjudian lain di Jakarta, gedung berlantai dua
di Jalan Kunir I ini relatif agak sulit ditembus, terutama bagi mereka yang
belum akrab dengan "kaki tangan" pemilik lokasi itu. Selain ditutup dengan
pagar seng, tempat usaha itu juga dikawal puluhan tukang pukul.
Nah, dari sejumlah lokasi perjudian yang ditelusuri FORUM, permainan kasino
memang relatif banyak diminati penjudi. Permainan ini menggunakan piringan
berlubang-lubang kecil yang dapat diputar dan dilengkapi dengan sebuah bola
kecil. Setiap pemain memasang koin di meja berangka 0-38, yang terbagi dalam
tiga bagian berdasarkan kelipatan bayarannya. Bagi pemilik koin yang
angkanya sama dengan tempat bola, ialah sang pemenang.
Selain jaringan "Sembilan Naga" yang bermarkas di Jakarta tadi, di pentas
judi nasional ada beberapa nama lainnya yang juga termasuk dalam jaringan
tersebut. Misalnya Wang Ang (Bandung), Pepen (Manado), Dedi Handoko (Batam,
Tanjung Pinang dan sekitarnya), Jhoni F. (Surabaya), Olo Panggabean (Medan
dan Aceh), dan Firman (Semarang). "Mereka inilah yang menguasai jaringan
mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, kabarnya sudah masuk
dalam jaringan mafia judi Hong Kong dan Singapura," kata sumber FORUM di
Markas Besar Polri.
Pasar Atom, Andika Plaza, dan Darmo Park merupakan daerah perjudian elite di
Kota Surabaya. Jenisnya kasino dan bola tangkas. Tapi, tak semua orang bisa
masuk ke arena itu karena dijaga ekstra ketat. Salah satunya dengan memakai
sistem "kartu anggota".
Selain Jhoni F., kabarnya YE alias W, yang dulu tak aktif, kini kambuh lagi.
Malah, ia kembali menjalin hubungan dengan Rudi Raja Mas dan Chandra di
Jakarta. Rata-rata per bulannya, omzet yang masuk minimal mencapai Rp 5
miliar. Sementara di beberapa kota besar di Sumatra, seperti Medan,
Pekanbaru, Palembang dan Jambi, judi buntut sudah beroperasi selama puluhan
tahun tanpa hambatan berarti dari aparat keamanan. Di Medan, misalnya,
bisnis yang paling terkenal adalah kupon togel Singapura serta permainan
judi KIM yang dikelola Olo Panggabean. Mereka mengedarkan kupon-kupon
melalui agen setiap Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu. Dalam sekali putaran,
Olo kabarnya menerima bersih sekitar Rp 2 miliar.
Operasi mereka berjalan lancar-lancar saja. Kalau pun ada gertakan dari
pemerintah, biasanya tak lama kemudian akan "aman" lagi. Pernah sekali
waktu, para bandar judi sempat kaget ketika pada Mei 2000, Preiden
Abdurrahman Wahid--waktu itu masih berkuasa--menuding Tomy Winata sebagai
dalang judi di atas kapal pesiar. Namun belakangan tudingan itu ditarik
melalui Jaksa Agung Marzuki Darusman. Pemilik kapal itu, kata Marzuki,
adalah Rudi Susanto. Ialah kabarnya yang menggelar perjudian di atas kapal
pesiar di lepas pantai teluk Jakarta yang menghebohkan itu.
Sumber FORUM menyebutkan, sekali berlabuh, usaha Rudi Susanto tadi bisa
mencetak duit sedikitnya Rp 500 miliar bersih. Sayangnya, banjir rupiah yang
didapat para bandar judi seperti Rudi Susanto dan kawan-kawannya, jarang
sekali disimpan di Indonesia. "Setelah itu, mereka beli dolar dan langsung
mentransfer ke salah satu bank asing di luar negeri," kata sumber FORUM di
Bursa Efek Jakarta.
Maraknya praktek perjudian di Indonesia tentu tak terlepas dari sebuah
riwayat hitam bangsa ini. Apiang Jinggo alias Yan Darmadi adalah pemilik
Peta Sembilan dan Kopabana, dan boleh dibilang sebagai raja judi pertama
(era Orde Lama). Apiang memang sempat berkibar beberapa tahun, saat Ali
Sadikin melegalkan judi di Jakarta. Namun, setelah keluar kebijakan
pemerintah yang melarang judi, bisnisnya kabarnya sempoyongan.
Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Meski ada larangan, operasi bawah
tanah tetap saja jalan. Nah, generasi kedua, diwarisi Robert Siantar dan
Abah. Sedangkan Sie Hong Lie, Liem Engsan alias Hasan, Apyang alias Atang
Latif, serta mendiang Nyo Beng Seng alias Darmansyah, termasuk Anton Medan
sendiri, adalah generasi ketiga. "Waktu itu saya menguasai tujuh lokasi di
Jakarta. Sisanya di Batam, Jambi dan Medan," kata Anton Medan. Sedangkan
Tomy Winata, Rudi Raja Mas, dan sederet nama lainnya tadi adalah pewaris
generasi keempat.
Di luar nama-nama tadi, masih ada tokoh lain yang beroperasi sampai ke
mancanegara.
Sebut saja Sie Hong Lie, ia memiliki usaha judi Lotere Phom Penh di Kamboja.
Juga peternakan, pacuan kuda, serta bukit timah di Singapura dan Penang,
Malaysia. Selain itu, ia memiliki dua kapal pesiar, Delfin Star dan Lido
Star, yang bermarkas di Singapura.
Ada lagi nama Apyang, selain mengelola judi di Chrismast Island, Australia,
bersama Robby Sumampouw, ia juga membuka bank, properti, dan hotel di
Jakarta. Sementara mendiang Nyo Beng Seng punya jaringan judi di Genting
Highland (Malaysia), Las Vegas (AS), Macau dan Perth, Australia. Usaha di
Indonesia adalah perusahaan rekaman Irama Tara.
Mengapa mereka bisa begitu aman dan kuat?

Menurut Anton Medan, semua itu tak terlepas dari jaringan pengamanan alias
beking yang dibangun. Biasanya, setiap pergantian pucuk pemimpin TNI, Polri
atau Gubernur DKI, para gembong itu kerap mencari jalan masuk sebagai
partner. Maklum sajalah, sebagai pemimpin, tentu mereka membutuhkan dana
operasional yang tak sedikit. Nah, pundi yang paling aman dan sulit terlacak
adalah dari sektor 303 ini.

Uang yang mirip-mirip dana nonbudgeter bagi para pemimpin TNI, Polri, Pemda
DKI, tokoh ormas dan OKP, termasuk wartawan, itu justru ada di bandar 303
ini. Akses ke para petinggi itu tidaklah sulit. Sebab, begitu ada sinyal mau
dipromosikan sebagai salah satu petinggi, para bandar itu langsung
mengirimkan kurir sebagai salam perkenalan. Hubungan itu terus terjalin
secara alamiah pula. "Makanya, mustahil kalau ada jenderal yang bilang tak
pernah makan duit judi," kata Anton.
Upeti yang disalurkan juga tergolong tak sedikit.

Untuk oknum perwira tinggi TNI dan Polri misalnya, perbulan Rp 15 miliar.
Sementara setingkat di bawahnya Rp 10 miliar. Turun ke bawahnya lagi, Rp 5
miliar. Begitulah seterusnya. "Itu belum termasuk permohonan bantuan dalam
bentuk barang seperti mobil dan komputer," ujar sumber di Mabes Polri.
Begitu juga dengan pejabat tinggi di Pemda DKI Jakarta. Masih menurut Anton,
upetinya bisa Rp 10 miliar per bulan. Sementara Ketua OKP dan ormas,
berkisar Rp 200-500 juta per bulan. "Yang berat itu kan dari kalangan
aparat. Mulai dari Polsek dan Koramil hingga jenderal. Dana operasionalnya
lumayan besar," kata salah seorang bandar kepada FORUM.
Makanya, unjuk rasa masyarakat antijudi tak pernah disambut selayaknya.
Maka jangan pernah mimpi, masalah judi tuntas.
Yang perlu dicermati Pemerintahan Megawati sebenarnya ialah, menegosiasikan
Judi dengan tokoh agama. Daripada hasil judi masuk mulut setan-setan backing
judi tadi (cukong, preman dan jenderal korup sebaiknya JUDI dilegalkan saja
di Indonesia) Agar pemerintah mendapat tambahan income tak kunjung kering
yg dapat membangun fasilitas sosial yang digunakan bagi kepentingan rakyat
banyak khususnya yg miskin.

Kita tahu, semua orang ingin matinya masuk sorga.
Nah yang tidak ingin masuk sorga silahkan main judi. Gampang kan?????

BERITA UTAMA WASPADA

RABU, 29 DESEMBER 1999

'Gedung Putih' Diberondong
MEDAN (Waspada): Rumah Ketua IPK Sumut Olo Panggabean di Jalan
Sekip Medan dihujani peluru senjata jenis M-16 oleh lebih kurang
20 aparat berpakaian dinas Selasa pagi (28/12). Demikian pantauan
Waspada dari lokasi kejadian.
Beberapa saksi mata di lokasi menjelaskan, penembakan dilakukan
rombongan aparat berpakaian dinas dan rompi menggunakan sepeda
motor dan truk.
Menurut saksi mata, aparat berpakaian dinas mencoba menerobos ke
dalam rumah yang populer disebut 'Gedung Putih,' tetapi karena
pintu depan terkunci mereka tidak bisa masuk dan menghujani dengan
senjata laras panjang.
Selanjutnya beberapa aparat menggunakan sepeda motor roda dua
masuk mencoba mendobrak pintu namun tak berhasil.
Sedangkan beberapa pemuda yang menjaga rumah lari menyelamatkan
diri. Akibat tembakan peluru, dinding-dinding batu dan jendela
kaca jebol.
Di halaman depan terlihat lebih kurang 30 selongsongan peluru,
sedangkan di dinding lantai dua tujuh bekas tembakan dan lantai
III delapan bekas tembakan.
Sekretaris IPK Sumut Syamsul Samah didampingi Ketua IPK Medan
Moses Tambunan menjelaskan, peristiwa penembakan aparat berpakaian
dinas itu sangat mengejutkan.
Syamsul Samah menjelaskan, dia tidak mengerti mengapa aparat
kepolisian menembaki rumah Olo Panggabean. ''Apakah tindakan
mereka diketahui komandannya dan seharusnya aparat tersebut
menjaga keamanan dan bukan menciptakan kerusuhan,'' tambahnya.
Syamsul menduga bahwa penembakan berkaitan dengan perkelahian
antar kelompok pemuda, dimana pihaknya sudah berulang-ulang
menghadiri panggilan Kodim, Poltabes dan Polsek, namun pihak lawan
belum sekalipun menghadiri pertemuan .
Syamsul selaku Sekretaris IPK Sumut mengakui kemarin malam ada
perkelahian antara kelompok pemuda dan satu anggota Brimob kena
tikam. Mungkin saja penembakan itu akibat peristiwa tersebut.
Syamsul Samah mewakili Ketua IPK Sumut Olo Panggabean yang saat
ini sedang berada di luar negeri menjelaskan, agar Poldasu segera
menyelidiki kasus penembakan tersebut dan menindak petugas yang
melakukan kesalahan .
Beberapa jam kemudian Syamsul Samah melakukan kunjungan ke
Mapoldasu untuk menerangkan kejadian penembakan .
Sedangkan Dan Denpom 1/7 Mayor CPM Sugeng Subagio membenarkan
peristiwa penembakan dilakukan aparat keamanan. Menurut saksi
mata, katanya penembakan dilakukan anggota Brimob
Poldasu.Begitupun dia menjelaskan selongsongan peluru dan reftil
masih dalam penelitian . (m45)

Bom Medan atau Bom Jakarta, Bandar Judi yang Beraksi

Reporter:Aulia Andri

Elit politik Jakarta bisa saja hendak membikin huru-hara di Medan. Namun perlawanan bandar judi Medan terhadap operasi anti-judi yang dilakukan polisi, juga menjadi faktor penting terjadinya ledakan bom di Medan. Mereka ingin unjuk diri, bahwa merekalah yang berkuasa di Medan.

Akibta teror bom sepekan terakhir ini, Medan makin panas. Tak heran gertakan ala Medan pun keluar dari berbagai pihak. Ikatan Pemuda Karya (IPK) yang dipimpin oleh Olo Panggabean, mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya siap mengamankan Medan. Olo juga menegaskan ribuan anggota IPK yang tersebar di seluruh Sumut diperintahkan siaga untuk mengantisipasi teror bom.

Namun pernyataan Ketua Umum IPK tak ditanggapi serius oleh masyarakat. Malah ada yang mengatakan bahwa pernyataan itu untuk mengalihkan perhatian, bahwa penutupan arena judi-lah yang menjadi sebab teror bom. Maklum, perseteruan polisi dengan Olo Panggabean yang mengelola beberapa tempat judi, sudah menjadi rahasia umum di Medan.

Polisi Medan memang sedang gencar melakukan operasi anti-judi. Tak terkecuali beberapa jenis judi seperti Hwa-Hwe, Toto Gelap (Togel) dan KIM, yang selama ini diback-up oleh Olo Panggabean. Nah, kegiatan polisi yang membrantas judi inilah yang dipercaya sebagian masyarakat sebagai penyebab teror bom Medan.

Bahkan ada yang bilang, teror bom ini merupakan kelanjutan dari perisitiwa yang meletus di kampus Universitas HKP Nommensen (UHN) Medan tiga pekan silam. Perisitiwa yang menewaskan dua mahasiswa itu, bermula dari masalah sepele.Polisi menahan seorang mahasiswa UHN karena tertangkap tangan sedang mengedarkan kupon Hwa-Hwe.

Namun karena solidaritas, ratusan mahasiswa UHN kemudian turun kejalan. Bentrokan dengan aparat kepolisian tak terelakkan. Apalagi mahasiwa UHN kemudian menyandera dua anggota polisi dan meminta ditukar dengan mahasiswa UHN yang ditahan polisi. Akibat bentrokan mahasiswa versus polisi itu, dua orang mahasiswa tewas.

Karena kasus ini berlatarbelakang perjudian, maka munculnya isu bahwa aksi mahasiswa UHN itu ditunggangi oleh para bandar judi.

Pihak UHN sendiri membantah anggapan itu. Jeri L Tobing, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UHN membantah keras aksi rekan-rekannya ditunggani pihak lain. Apalagi oleh para bandar judi. "Aksi unjuk rasa itu cuma aksi solidaritas. Karena kami mendengar rekan kami ditangkap tak sesuai prosedur," katanya. Pihak IPK sendiri yang diduga dibelakang kasus UHN, bungkam seribu bahasa. Mereka memilih tak berkomentar kepada wartawan.

Belum selesai lagi kasus UHN dituntaskan Medan kembali diguncang. Kali ini dengan teror bom. Dua peristiwa yang terjadi hanya dalam hitungan tiga pekan itu, sekan membenarkan bahwa para bandar judi memang tengah bermain api di Medan.

Apalagi, hampir seluruh orang Medan mengetahui, Kapolda Sumut sekarang ini, Brigjen Sutanto, sudah lama menjadi musuh para bandar judi. Sebab sebelumnya, ketika ia menjadi perwira pertama dan bertugas di Medan, ia sangat aktif memberantas perjudian. Jadi, inilah saatnya bagi para bandar judi untuk menunjukkan dirinya, bahwa merekalah yang berkuasa di Medan.

Kapolda sendiri menegaskan, bahwa operasi anti-judi yang dilakukannya selain karena judi memang illegal, juga atas kehendak masyarkat. "Saya memang bertugas di Medan ketika menjadi perwira pertama. Dan kemudian dipindahtugaskan karena saya meberantas judi. Tetapi semua ini saya lakukan bukan karena dendam," tegasnya.

Sutanto cenderung melihat, peledakan bom di Medan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan berbagai perisitiwa yang terjadi di daerah lain. Bila dilihat caranya membuat bom yang sudah profesional, pelakunya adalah sebuah kelompok terorganisir. Yang jelas, "Ada konspirasi sebuah kelompok yang ingin mengacau Medan," tegas Sutanto.

Sementara Kapoltabes Medan Letkol Hasyim Irianto menyatakan, bahwa operasi anti-judi di Medan emamng mendapat tantangan dari sekelompok orang. Kelompok ini sengaja mengembangkan imej jelek, seolah-olah kalau judi dibernatas, tindak kriminal di Medan meningkat. "Cara berpikir seperti itu yang ingin kita luruskan," katanya. (dik)

Yapto S Suryosumarno

Organisasi massa Pemuda Pancasila (PP) membentuk partai baru, Partai Patriot Pancasila. Yapto, sang pendiri partai dan Ketua Presisium PP mengatakan alasan PP mendirikan Partai Patriot Pancasila sebab selama ini PP yang telah banyak memberikan aspirasi dan dukungan kepada Partai Golkar tidak pernah dipedulikan oleh pengurus partai tersebut.

"Kami bukan kecewa. Kami berpikir, kami ini kan punya hak pilih. Daripada memilih partai yang tidak peduli pada kami, lebih baik kami bentuk partai sendiri. Dulu peran PP kepada Golkar sangat besar, tetapi ternyata tidak ada feedback dari Golkar kepada kami, terutama sahabat-sahabat kami anggota Pemuda Pancasila di daerah. Mereka merasa tidak dilindungi dan tidak diperhatikan," ujar Yapto.

Partai Patriot Pancasila tercatat memiliki 27 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), 369 Dewan Pimpinan Cabang (DPC), serta 792 Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC). Sekitar enam juta warga Pemuda Pancasila diharapkan akan menyalurkan aspirasi politiknya ke Partai Patriot Pancasila.

Dilahirkan dengan nama Yapto Sulistio Suryosumarno, lebih populer dengan panggilan Yapto. Ketegasan sikapnya terbentuk sejak kecil. Sosok ayahnya yang militer membayang kuat pada pribadinya. "Cita-cita saya sebetulnya ingin jadi tentara," katanya. Namun, keinginan itu tidak terwujud, kendati pada waktu mahasiswa di Fakultas Hukum UKI, Jakarta, ia komandan Resimen Mahasiswa di universitas itu.

Lingkungan pergaulannya luas, sehingga ia sering dikaitkan dengan kehidupan gangster. "Tentang pergaulan saya dengan mereka (eks residivis), saya rasa karena tidak ada orang lain yang memikirkan mereka," tuturnya suatu kali. Golf adalah olah raga kesukaannya. Berulangkali ia menyelenggarakan turnamen golf Pemuda Pancasila Cup sejak tahun 1998.

Tokoh yang dikaguminya adalah Bung Karno dan sekaligus Soeharto, presiden pertama dan kedua Negara Republik Indonesia. Ketika bangsa sedemikian susah, Soekarno bisa menonjol di kalangan dunia. Sedangkan dari Pak Harto, Yapto memuji karena strateginya. "Dari suatu heterogenisme, tidak pernah ada gejolak yang berarti," katanya. (ma2n dari berbagai sumber)

Biodata

Nama:
Yapto Sulistio Suryosumarno
Lahir:
Solo, Jawa Tengah, 16 Desember 1949
Agama:
Islam
Ayah:
Soetarjo Soerjosoemarno
Istri:
Retno Sutjiati Estintami
Anak:
Tiga Orang
Pendidikan:
- SD, Jakarta, (1960)
- SMP, Jakarta, (1964)
- SMA, Jakarta, (1967)
- FH UKI, Jakarta, (1984)
Organisasi dan Karir Penting:
- Dan Menwa UKI
- Ketua AMPI
- Ketua Umum DPP Pemuda Pancasila
- Pendiri FKPPI
- Direktur Mahapala Sakti
- Direktur PT Swahasta Jaya
- Ketua Umum Partai Patriot Pancasila