Saturday, February 25, 2006

Kenapa Tikus Diciptakan?

Kenapa tikus, kecoak, ular, kalajengking Tuhan ciptakan? Bukankah keberadaannya hanya menjadi ancaman? Pertanyaan tsb menuntut jawaban manfaat dibalik penciptaan binatang2 tsb. Alangkah baiknya kalau ada diantara kawan2/bapak2/ dosen2/ustadz2 atau profesor yang bisa menyajikan hasil penelitian ilmiah manfaat keberadaan binatang2 itu. Pertanyaan seperti itu saya yakin muncul karena ketidaktahuan manfaat keberadaannya saja. Redaksi pertanyaan yang lebih jujur mungkin begini: Kayaknya g` ada deh manfaat keberadaan binatang2 sialan itu, tapi kok Tuhan ciptakan juga?

Menurutku di alam ini tidak ada yang biasa disebut kejahatan atau keburukan, semuanya adalah baik. Kejahatan bersifat relatif. Banjir atau sunami adalah sebuah kejahatan bagi mereka yang merasa dirugikan sehingga keluar ungkapan memprotes Tuhan: Kenapa Engkau turunkan adzab ini. Namun untuk sebagian orang dan untuk kepentingan kestabilan planet bumi itu adalah kebaikan. Pencurian adalah bencana bagi yang kecurian dan rahmat bagi si pencuri. Bisa ular adalah bencana (keburukan) bagi anda yang pernah dipatoknya dan rahmat tiada terhingga bagi ular tsb sehingga dengannya ia bisa membela diri dari kejahatan anda. Jadi yang hakiki ada adalah kebaikan, sementara keburukan relatif adanya.

Maksuda saya, kejahatan itu tidaklah substansial adanya. Kuman, binatang buas, angin atau air secara substansial adalah baik, tidak ada air atau angin yang jahat. Air, angin, kumana atau binatng bias biasa dipersepsi sebagai tidak baik karena menjadi sebab hilangnya kepemilikan hidup (menyebabkan kematian), kepemilikan sehat (menjadi sakit), kepemilikan harta (menjadi miskin). Andaikan tidak menjadi sebab ketiadaan sehat, ketiadaan kehidupan, dan ketiadaan kepemilikan harta tentu tidak ada yang disebut jahat.

Keadaan keburukan adalah karena ketiadaan kebaikan. Malam itu (kegelapan/keburukan) tidak ada, yang ada hanyalah siang atau cahaya. Kegelapan terjadi karena ketiadaan cahaya. Andai cahaya matahari tidak pernah terhalangi oleh rotasi bumi maka niscaya alam akan selalu siang. Bahkan istilah siang dan malam pun hanya konsepsi saja dan sebenarnya tiada, yang ada hanyalah cahaya.

Ada dan tiada tidak akan pernah bertemu.

Miskin, kebodohan, buta, tuli yang biasa ditilik sebagai ketidakberuntungan adalah tiada. Miskin adalah ketiadaan kekayaan, bodoh adalah ketiadaan pengetahuan, buta adalah ketiadaan penglihatan, dan tuli adalah ketiadaan pendengaran. Artinya, kemiskinan itu tidak lain adalah tidak memiliki sesuatu. Orang yang miskin adalah orang yang tidak memiliki kekayaan, dan bukan orang yang memiliki kemiskinan, karena kekayaan adalah sesuatu (ada) dan sementara kemiskinan bukanlah sesuatu (tiada).

Seba itu juga saya tidak menerima ungkapan ”Memberantas kemiskinan dan kebodohan”, karena kemiskinan dan kebodohan itu tidak ada, keadaannya hanyalah sebatas keadaan konseptual belaka (wujud tashawwuri). Yang tepat adalah ”mari menjadi kaya dan pintar”. Tujuan belajar bukanlah menghilangkan kebodohan, melainkan untuk menjadi pintar.

(Hasan Mawardi)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home